10 Jan 2012

Nantikan Novel "Ouhibouki Areta" Dengan Latar di Maroko

Sebuah imajinasi yang menghadirkan keindahan lewat tulisan-tulisan, betapa indahnya pesona Maroko dalam balutan Masjid Hassan II Cassablanca. Masjid yang sebahagiannya menjorok ke laut, dimana lantainya dapat menembus keindahan laut, atap geser otomatis, sinar laser yang menunjukan arah kiblat menghubungkan Masjidil Haram.

Cahaya malam bak emas, seakan menyaingi indahnya gundukan Gurun Sahara. Keindahan salju di kota Michilleffen, seakan membuka tabir cinta yang sempat tertutup oleh sebuah syariat agama. Indahnya persahabatan Indonesia dan Maroko ikut menghidupi hati Asyam dan Areta yang pada akhirnya menyadari bahwa cinta itu tak dilarang syariatnya. cinta adalah urusan hati, dan hati adalah urusan Illahi.

Sebuah Novel Islami yang tak hanya mengangkat kisah cinta ala pujangga Cordova, tetapi menguak sebuah lentera pendidikan islam yang sudah lama tak terjamah lagi. Setiap sudut-sudut ke-eksotikan negeri matahari terbenam ini, nyatanya telah membuat kisah persahabatan dua negara ini tak pernah terbenam.

Nantikan kehadiran Novel Islami "Ouhibouki Areta" dari penulis Risma Inoy. Novel pertama dengan latar budaya dan pendidikan di Maroko sebagai negeri matahari terbenam dan selamat menikmati indahnya raga yang seakan dibawa terbang menginjakkan kaki di pasar malam Djema El-Fnaa, membasuh muka dengan air wudhu di Masjid Hassan dan seakan merasakn berjalan di lorong-lorong sempit Vollubilis sambil menikmati siang hari di tepi Samudra Atlantik...

*Disarikan dari status FB sang penulis Risma Inoy Ummu Jundi

7 Jan 2012

Peran Ibu Dalam Sejarah Islam


Islam sebagai agama mulia, menempatkan posisi wanita sebagai madrasah utama dalam pendidikan di rumah. Ibu, mendapat posisi penting sebagai guru besar pendidikan pertama anaknya, bukan kakek dari anaknya, nenek dari anaknya, bahkan ayah dari anaknya sendiri tapi seorang ibu. Orang pertama yang menyiapkan generasi rabbani.

Islam menurunkan hikmah dan ibrah tentang dominasi peran ibu di dalam rumah, perintah menghargai ibu lebih pertama dititahkan oleh Allah ketimbang ayah. Dalam surah Al Ahqaf ayat 15, Allah ta'ala berfirman,

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila Dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa:

"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri".

Jika seorang ibu yang solehah bisa mengasuh 5 anak muslim di keluarganya untuk tumbuh menjadi generasi pembangun agama. Kita bisa hitung berapa banyak generasi emas umat islam yang bisa dihasilkan dari 800 juta perempuan muslim saat ini?

Perihal peran wanita dalam menyiapkan generasi emas Islam, Muhammad Quthb, seorang ulama Mesir yang concern terhadap pendidikan Islam sekaligus pemikir ulung abad 20, dalam bukunya "Ma’rakah At Taqalid" pun menulis,

 “Islam memperhatikan pria dan wanita karena mereka akan menjadi ibu-bapak produk baru. Tetapi Islam lebih memperhatikan wanita, karena wanitalah pembangun hakiki dari generasi. Sedangkan ayah baru menyusul kemudian. Mungkin ayah yang akan mendidik tapi itu nanti sesudah peranan sang ibu. Itulah sebabnya Islam mengusahakan terjaminnya belanja hidup sang ibu, agar ia tidak usah bekerja di luar rumah.”

Kemudian dilanjutkan oleh Muhammad Quthb, dalam sebuah ceramahnya puluhan tahun silam mengatakan,

“Seorang anak yang rusak masih bisa menjadi baik asal ia pernah mendapatkan pengasuhan seorang ibu yang baik. Sebaliknya, seorang ibu yang rusak akhlaknya, hanya akan melahirkan generasi yang rusak pula akhlaknya. Itulah mengapa yang dihancurkan pertama kali oleh Yahudi adalah wanita.”

Peran ibu dalam sejarah islam
Maka itu dalam sejarah Islam, kita melihat bagaimana peran ibu memiliki porsi terbesar dibalik tumbuh kembangnya seorang anak menjadi ulama kelas dunia.

Imam Syafi’i  dan ibunya bernama Fatimah binti Abdullah misalnya, Imam Syafi'i terlahir dalam keadaan yatim, ayahnya meninggal dunia pada saat ia masih dalam kandungan. Ia dibesarkan oleh ibunda yang sangat berhati-hati dalam menjaga diri dari dosa. Ibunda Imam Syafi'i adalah seorang wanita yang sangat wara', yang sangat berhati-hati untuk tidak mendekati hal-hal syubhat sekalipun. Berkat kesucian dirinya yang sangat terjaga, Allah pun banyak mengabulkan doa dan harapan sang ibu. Salah satunya adalah do'anya yang tak pernah putus agar putranya menjadi ahli agama.

Imam Syafi'I dibesarkan oleh seorang ibu yang begitu sabar. Ketiadaan suami tidak membuat Ibunda Imam Syafi’i menyerah pada keadaan dan melupakan hak seorang anak untuk mendapatkan pendidikan terbaik dalam bidang agama.

Kemiskinan pun tidak lantas membuatnya sungkan “melobi” seorang guru di al-kuttab (Sekolah Mengahafal Qur’an) untuk curhat bahwa dirinya tidak memiliki biaya bagi sekolah Imam Syafi’i.

Imam Syafi’i lantas betul-betul memanfaatkan momen belajar yang telah dibuka oleh ketegaran seorang ibu. Bayangkan, Imam Syafi’i sudah hafal Qur’an sejak kecil dan di umur 15 tahun telah diizinkan untuk mengeluarkan fatwa. Subhanallah. Tanpa kehadiran seorang ibu, mungkin saat ini kita hanya mengenal nama Imam Syafi’i sebagai orang biasa, bukan ulama besar fiqh yang kini menjadi Imam Madzhab.

Tak jauh dengan Imam Syafi'i, muridnya yang bernama Imam Ahmad bin Hanbal tumbuh dewasa sebagai seorang anak yatim, tiga tahun setelah kelahirannya, ayahnya, Muhammad bin Hanbal, wafat. Sejak saat itu, Ahmad bin Hanbal dibesarkan oleh Ibunya, Shafiyyah binti Maimunah binti ‘Abdul Malik asy-Syaibaniy. Ibunya berperan penuh dalam mendidik dan membesarkan beliau. Untungnya, sang ayah meninggalkan untuk mereka dua buah rumah di kota Baghdad. Yang sebuah mereka tempati sendiri, sedangkan yang sebuah lagi mereka sewakan dengan harga yang sangat murah.

Meskipun hidup dalam keadaan yatim dan dalam lingkungan keluarga yang miskin, namun berkat bimbingan ibunya yang shalihah, sejak kecil Imam Ahmad telah memulai riwayat pendidikannya. Dalam suasana serba kekurangan, beliau gigih menuntut ilmu, sehingga dalam usia 14 tahun beliau telah menghafal Al-Qur’an keseluruhannya. Karena kecintaannya yang mendalam terhadap ilmu, beliau memulai safari ilmiahnya sejak berusia 16 tahun. Beliau pergi ke Makkkah, Madinah, Syam, Yaman, Basrah dan negara-negara lain untuk mengumpulkan hadits-hadits Nabi..

Sang ibu banyak membimbing dan memberi beliau dorongan semangat. Tidak lupa dia mengingatkan beliau agar tetap memperhatikan keadaan diri sendiri, terutama dalam masalah kesehatan. Tentang hal itu beliau pernah bercerita, “Terkadang aku ingin segera pergi pagi-pagi sekali mengambil (periwayatan) hadits, tetapi Ibu segera mengambil pakaianku dan berkata, ‘Bersabarlah dulu. Tunggu sampai adzan berkumandang atau setelah orang-orang selesai shalat subuh.’”

Selain Ibu dari kedua imam besar tersebut, kisah Imam Bukhari sebagai imam besar dibidang hadist bersama ibunya pun patut dicontoh.

Di masa kecilnya, Imam Bukhari menderita penyakit buta mata, sehingga ia tak dapat menikmati kegembiraan seperti layaknya anak lain. Ibunya sangat sedih akan nasib anaknya tersebut, namun tak pernah lelah berharap kepada Allah Subhanaahu wa ta'ala agar bisa lulus dari ujian penyakit itu. Setiap malam sang Ibu rajin melaksanakan shalat tahajjud, dengan permohonan khusus tak henti-hentinya agar Allah menyembuhkan penyakit Bukhari kecil. Berkat kesabarannya berdoa dan keyakinannya yang kuat akan bantuan Allah, akhirnya Allah pun mengabulkan permohonannya dan memberikan kesembuhan sehingga Bukhari bisa melihat kembali. Kesembuhan yang kelak mengantarnya menjadi perawi hadits terpercaya.

Para ulama dan imam besar, umumnya mampu menghafal al-Qur'an di usia sangat belia. Keberhasilan seperti ini tak akan mungkin tercapai tanpa peran orang tua yang serius mendidik mereka sedari dini, khususnya ibu yang sangat dekat dengan anak-anaknya.

Sayyid Quthb pun demikian. Ketika ditanya tentang masa kecilnya, Ulama Mesir itu hanya bisa berujar, “Setiap aku bermain, tidak ada suara yang kudengar selain tilawah Qur’an yang dibawa oleh ibuku”. Ibu seperti itulah yang melahirkan generasi penghafal qur’an dan generasi berperadaban, baik Sayyid Quthb, Muhammad Quthb, Aminah Quthb, Hamidah Quthb.

Konsep Ibu yang paralel dengan pembinaan generasi berperadaban inilah yang tidak kita temui dalam agama-agama lainnya, seperti Yahudi maupun Kristen. Mereka memang berbicara tentang perempuan, tapi bukan perempuan yang melahirkan peradaban. Sedangkan Islam mengajarkan dan menempatkan perempuan sebagai seorang ibu mulia yang melahirkan generasi emas pembangun peradaban.

* Di tulis dalam rangka mengisi kolom di buletin Sayyidul Ayyam edisi VI terbitan PPI Maroko.

6 Jan 2012

Khutbah Jumat : Renungan Hari Akhir

"Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar."

Jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah,
Pada kesempatan yang berbahagia ini, khatib mengingatkan utamanya kepada diri saya pribadi dan juga kepada jama’ah pada umumnya, untuk senantiasa meningkatkan taqwa kepada Allah, dalam segala keadaan dan waktu.

Ketahuilah, tatkala Umar bin Khathab Radhiallaahu 'anhu bertanya kepada shahabat Ubay bin Ka’ab Radhiallaahu anhu tentang takwa, maka berkatalah Ubay: “Pernahkah Anda berjalan di suatu tempat yang banyak durinya?” Kemudian Umar menjawab: “Tentu” maka berkatalah Ubay: “Apakah yang Anda lakukan”, berkatalah Umar: “Saya sangat waspada dan hati-hati agar selamat dari duri itu”. Lalu Ubay berkata “Demikianlah takwa itu” (Tafsir Ibnu Katsir, Juz 1, hal. 55).

Demikianlah takwa yang diperintahkan oleh Allah dalam kitabNya yakni agar kita senantiasa waspada dan hati-hati dalam setiap tindakan keseharian kita, dan juga dalam ucapan-ucapan kita, oleh karena itu janganlah kita berbuat dan berucap kecuali berdasarkan ilmu.

Selanjutnya khatib mengajak jamaah sekalian untuk bersholawat dan salam kepada pemimpin kita, teladan kita... imamul muttaqin, nabiyullah Muhammad Sallalahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para shohabatnya dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.

Hadirin Jamaah  jumah rahimakumulloh
Sudah beberapa hari terakhir kita telah meninggalkan Tahun 2011 yang berarti maknanya tahun itu telah berlalu dan akan dilupakan, sementara tahun baru 2012 yang sedang kita injak saat ini oleh banyak orang, yang memaknainya dengan harapan baru, Ada yang memaknainya dengan tahun perubahan, tahun keberuntungan, tahun intropeksi diri, tahun... dan tahun.. dan selanjutnya.

Namun, dari dulu, sampai pergantian tahun ini, tak ubahnya manusia, ada yang bahagia dengan kelahiran, ada yang sedih dengan kematian, ada yang menikah, ada yang bercerai, ada yang bahagia dengan hidupnya, ada yang sedih dengan nasibnya, ada yang suka karena gajian ke 13, ada yang sedih karena harus bayar kontrakan, ada yang sehat dan ada pula yang sakit, ada yang kecil masuk sekolah, ada yang tua masuk ke liang lahad dan seterusnya.

Hari-hari itu terus berputar diantara manusia, ada saat datang, ada waktu pergi, ada saat menerima tahta dan ada pula yang harus menyerahkan semua tahta, hari-hari itu terus diputar diantara manusia dan hidup sebenarnya hanya sekedar menunggu giliran, yaitu giliran ajal.

Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya 
Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim, (QS. Ali Imran 140)

Sesungguhnya tahun-bulan-minggu, dan setiap masa, hanyalah pengantar kita ke liang lahad, seperti iring-iringan orang yang mengiringi kepergian jenazah pergi ke liang lahad.

Mari jadikan tahun-tahun kedepannya menjadi tahun yang lebih baik dan paling baik, dengan mengisinya  mencari bekal menuju yaumil hisab. Ingatlah "Sebaik-baik bekal hanyalah takwa"

Yaitu sebuah bekal dihari ketika tidak berarti lagi kekayaan bagi pemiliknya di hadapan tuhannya, dan hari ketika tidak berarti lagi penyesalan bagi orang yang menyesal di kemudian hari.

Dan sesungguhnya takwa adalah perhiasan bagi seorang hamba, dan sebaik-baik pakaian baginya.

" Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. dan pakaian takwa Itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat." (QS. Al A'raf ; 26)

Ma'asyirol Muslimin wa zumrotal Mu'minin Rohimakumulloh
Sesungguhnya dengan bergantinya tahun ke tahun berikutnya, menandakan keberadaan kita dengan hari kiamat semakin dekat, Belumkah kita mendengar Firman Alloh ta'ala :

"Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah". Dan tahukah kamu boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya". (Q.S Al Ahzab: 63)

Dan Rasulullah saw sendiri bersabda: "Aku diutus sebelum kedatangan Hari Akhir sebagaimana jari telunjuk ini mendahului jari tengahku. ” (HR Muslim(

Apakah hari kiamat itu, Alloh menjelaskan dalam firmannya:
"hari kiamat, Apakah hari kiamat itu? tahukah kamu Apakah hari kiamat itu? pada hari itu manusia adalah seperti  kupu-kupu yang bertebaran, dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan."
"
 Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak Kami tinggalkan seorangpun dari mereka".(QS. Al Kahfi :47)

Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari kiamat.
Pada hari itu Allah SWT mencabut gunung-gunung dari permukaan bumi, sehingga hancur menjadi debu lalu diterbangkannya debu-debu gunung itu ke udara sebagaimana Tuhan menerbangkan awan. Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman:

"Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancur luluhkan sehancur-hancurnya, maka jadilah dia debu yang beterbangan" (Q.S. Al Waqi'ah: 4-6)

Dan kala itu Keadaan permukaan bumi nampak polos, bumi ini rata, bangunan tinggi yang sekarang ada akan hancur, gunung-gunung akan  rata menutupi semua yang telah disombongkan manusia. Tidak ada lagi sisa-sisa benda peradaban manusia, di atas permukaan bumi itu, tidak ada pohon-pohon kayu, sungai-sungai, dan laut yang selama ini terdapat di permukaan bumi.

Rasulullah saw menceritakan pula keadaan hari yang dahsyat itu sebagaimana : Diriwayatkan dari `Aisyah ra dia berkata: "Aku dengar Rasulullah saw bersabda: "Pada hari kiamat itu manusia dikumpulkan (ke padang mahsyar) berkaki telanjang, bertelanjang bulat lagi tidak berkhitan. Aku lalu bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah antara laki-laki dan perempuan saling melihat satu sama lain? Rasul saw menjawab: "Ya, 'Aisyah; urusan hari kiamat itu lebih penting dari melihat satu sama lain." (H.R. Muslim dalam sahihnya)

Jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah,
Belumkah kita mendengar Firman Alloh ta'ala tentang hari kiamat : "dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan bergembira ria, dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan, mereka Itulah orang-orang kafir lagi durhaka." (QS. 'Abasa; 33-42)


31 Des 2011

Makna Tahun Baru Menurut Kamu?

Tahun 2011 sebentar lagi akan berlalu dan dilupakan, sementara tahun baru 2012 sebentar lagi akan datang dan banyak orang yang berharap dengan tahun baru tersebut dengan harapan baru. Ada yang memaknainya dengan tahun perubahan, tahun keberuntungan, tahun intropeksi diri, tahun... dan tahun.. dan selanjutnya.

Sedang menurut kamu apa makna tahun baru itu? Kenapa banyak orang bahkan sebagian besar bergembira, bersuka ria dengan datangnya tahun baru? Apa yang membuat mereka begitu bahagianya dengan tibanya pergantian tahun?

Sekarang kita ibarat sedang diantara dua jembatan. Yang satu kaki kita melangkah menuju jembatan yang baru dan kaki yang satunya masih menginjak pada jembatan tua. begitulah ibarat pergantian tahun menurutku.

Tak hanya itu, dari dulu, sampai pergantian tahun ini, tak ubahnya manusia seperti itu-itu saja, ada yang bahagia dengan kelahiran, ada yang sedih dengan kematian, ada yang menikah, ada yang bercerai, ada yang bahagia dengan hidupnya, ada yang sedih dengan nasibnya, ada yang suka karena gajian ke 13, ada yang sedih karena harus bayar kontrakan dan seterusnya.

Tahun akan terus berlalu sampai membawa kita ke ajal di liang lahad.

Mari jadikan tahun-tahun kedepannya menjadi tahun yang lebih baik dan paling baik dengan mengisinya  mencari bekal menuju yaumil hisab. Ingatlah "Sebaik-baik bekal hanyalah takwa".

Tahun Baru 2012 di mata teman-teman :

Kang "Wawan" Arwani Syaerozi : Happy New Year....malam tahun baru 2012 M, semoga malaikat Israfil tidak ikut menyambut dengan tiupan terompetnya.

Mba Fatma Hidayat : Kalo 2011 = single, semoga 2012 = punya pacar yang cocok, baik, keren, soleh, setia dan langgeng selamanya.. amin

Dan kini apa harapanmu..???

Sendratari Ramayana di Maroko (Video)

Dalam Rangka Festival Teatre International untuk Pemuda ke XI di Taza, Maroko, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Rabat kerja sama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko, menampilkan Sendratari Ramayana dengan berbagai macam improvisasi alias sedikit menyimpang dari aslinya. Pertama dalam sejarah, kisah Ramayana dipagelarkan dalam bahasa Arab. Festival tersebut diikuti oleh Arab Saudi, Oman, Tunisia, Bahrain, Sudan, Mesir, Burkina Faso, Prancis, Pantai Gading, Polandia, dan Maroko sebagai tuan rumah.

PAGELARAN SENDRATARI RAMAYANA DI TAZA- MAROKO Tgl.24 April 2010
Video Youtube by :

Part 1 :
Part 2 :

Part 3 :

Part 4 :



29 Des 2011

Pesan Akhir 2011 sebelum 2012

Bagi orang beriman, waktu takkan dibiarkan berlalu percuma, takkan ada sisa waktu kecuali untuk beribadah, berjuang berhabis-habisan mencari pahala sebanyak-banyaknya. Sebab kita akan diminta pertanggung jawab untuk setiap detik waktu yang telah kita lalui didunia tika akhirat nanti.

Modal bagi orang Muslim dalam kehidupan dunia ini adalah kesempatan waktu yang sangat singkat, denyut-denyut jantung yang terbatas, dan hari-hari yang terus berganti. Bagi orang yang memanfaatkan kesempatan dan detik-detik waktu tersebut untuk kebajikan dan berjuangan mengakkan agama Allah SWT, maka beruntunglah ia. Tapi bagi yang menyia-nyiakannya, ia telah membuang kesempatan yang tidak akan terulang selamanya.

Makna Waktu Bagi Orang Mukmin

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan nasihat-menasihati supaya menetapi kebenaran” Qs. Al-Ashr: 1-3

Allah SWT bersumpah dengan masa yaitu kesempatan yang tersedia untuk menggapai keberuntungan bagi orang-orang Mukmin dan kesempatan yang disia-siakan oleh orang yang lalai dan leka. Dalam perjalan waktu pula terdapat pelajaran dan suri teladan bagi orang-orang yang memiliki mata hati. yaitu AlQur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.

Lihat Firman Allah SWT

“Dan, Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan, bintang itu ditundukkan untukmu dengan perintahNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar ada tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang memahaminya” (Qs. An Nahl:12)

Oleh karena itu tidak ada yang lebih mahal di atas muka bumi ini dari umur yang dikaruniakan Allah SWT kepada manusia. Rasulullah SAW bersabda:”Kedua kaki seorang hamba tidak akan melangkah pada hari Kiamat sehingga ia ditanya terlebih dahulu tentang empat perkara yaitu, tentang umurnya, untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya, untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan dan tentang ilmunya, untuk apa ia gunakan”

Rasulullah SAW bersabda:” Pergunakan untuk mendapatkan keberuntungan lima perkara sebelum datang lima perkara lainnya, Yaitu masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sihatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang masa matimu”

Umur manusia adalah musim tanam di dunia ini dan manusia akan memetik hasil tanaman itu di akhirat nanti. Maka tidak layak bagi seorang Muslim membuang kesempatan dan membelanjakan modal hidupnya di dalam hal-hal yang tidak berguna. Dalam hal ini Allah SWT menyebutkan dua saat di mana manusia menyesali dirinya yaitu: Pada saat menanti ajal tiba, yaitu ketika ia sedang berada dalam keadaan akan meninggal dunia dan menghadapi akhirat. Yang kedua yaitu Di akhirat kelak, dimana seluruh amal diberi balasan. Syurga atau Neraka yang akan menanti

1. Syukur atas Usia yang diberikan Allah
Umur adalah nikmat yang diberikan Allah pada kita, dan jarang kita syukuri. Betapa banyak orang yang kita kenal, baik teman, sahabat , keluarga, guru, atau siapa pun yang kita kenal, tahun lalu masih hidup bersama kita. Bergurau, berkomunikasi, mengajar, menasehati atau melakukan aktifitas hidup sehari-hari, namun tahun ini dia telah tiada. Dia telah wafat, menghadap Allah Subhanahu wa ta’ala dengan membawa amal shalehnya dan mempertanggungjawabkan kesalahannya. Sementara kita saat ini masih diberi Allah kesempatan untuk bertaubat, memperbaiki kesalahan yang kita perbuat, menambah amal shaleh sebagai bekal menghadap Allah.
Sementara, lepas dari masalah ajal yang akan datang menjemput sewakatu-waktu, terkadang kita menganggap usia kita yang dibanding Rasulullah saw. yang wafat pada usia 63 tahun, kita merasa masih jauh dari angka itu. Padahal bisa jadi hitungan umur kita telah lebih banyak dari yang kita tetapkan. Karena itu sangat tidak layak apabila seseorang yang masih diberi kesehatan, kelapangan rizki dan kesempatan untuk beramal lalai bersyukur pada Allah dengan mengabaikan perintah-perintahNya serta sering melanggar larangan-laranganNya.

2. Muhasabah (introspeksi diri) dan istighfar.
Ini adalah hal yang penting dilakukan setiap muslim. Karena sebuah kepastian bahwa waktu yang telah berlalu tidak mungkin akan kembali lagi, sementara disadari atau tidak kematian akan datang sewaktu-waktu dan yang bermanfaat saat itu hanyalah amal shaleh. Apa yang sudah dilakukan sebagai bentuk amal shaleh? Sudahkah tilawah al-Qur’an, sedekah dan dzikir kita menghapuskan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan? Malam-malam yang kita lewati, lebih sering kita gunakan untuk sujud kepada Allah, meneteskan air mata keinsyafan ataukah lebih banyak untuk begadang menikmati tayangan-tayangan sinetron, film dan sebagainya dari televisi? Langkah-langkah kaki kita, kemana kita gunakan? Dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini selayaknya menemani hati dan pikiran seorang muslim yang beriman pada Allah dan Hari Akhir, lebih-lebih dalam suasana pergantian tahun seperti sekarang ini. Pergantian tahun bukan sekedar pergantian kalender di rumah kita, namun peringatan bagi kita apa yang sudah kita lakukan tahun lalu, dan apa yang akan kita perbuat esok.
Allah berfirman :
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Hasyr: 18).

Ayat ini memperingatkan kita untuk mengevaluasi perbuatan yang telah kita lakukan pada masa lalu agar meningkat di masa datang yang pada akhirnya menjadi bekal kita pada hari kiamat kelak.
Rasulullah saw bersabda : "Orang yang cerdas adalah orang yang menghitung-hitung amal baik (dan selalu merasa kurang) dan beramal shaleh sebagai persiapan menghadapi kematian".
Dalam sebuah atsar yang cukup mashur dari Umar bin Khaththab ra beliau berkata :
"Hitunglah amal kalian, sebelum dihitung oleh Allah"

…Waktu yang berlalu, tidak dapat diulang kembali…Buat dan pilih yang terbaik untuk sekarang, agar tidak menyesal lagi di kemudian hari…

Manfaatkan waktu untuk memilih jalan hidup sesuai dengan keinginan dan pilihan hati. Pilih jalan hidup dengan ilmu dan logika bukan dengan nafsu dan kenikmatan sesaat belaka. Jangan habiskan hidup ini dengan pilihan yang salah. Karena waktu itu terlalu panjang dan tidak nikmat bila di lalui dengan pilihan yang tidak tepat.

Catatan Akhir

Sungguh waktu itu telah lewat dan berlalu dengan cepat. Ternyata 22 tahun diriku telah berada didunia ini, ketika pertama kali menghirup udara bumi setelah dilahirkan dari rahim seorang wanita mulia yang kini menjadi panutan putra-putrinya.

Waktu yang begitu lama, namun belum berbanding lurus dengan apa yang telah dihasilkan hingga saat ini. diri ini masih merasa baru kemarin menikmati masa kanak-kanak. masuk sekolah dasar, bermain disawah, masih dibawah dan lindungan kasih sayang orang tua.

Apakah diri ini masih termasuk orang yang tertipu terhadap nikmatnya waktu yang suka berlengah-lengah.

Semakin hari semakin banyak dosa yang telah ku perbuat, semakin deras mengalir ibarat air sungai yang tiada henti. semakin lama menghirup udara, ku merasa semakin lupa akan karunia yang telah kunikmati selama ini.

Setiap langkah kaki ini, semakin pula mengikuti langkah godaan syetan. nikmat yang semakin banyak membuat diri lupa daratan. Ya Alloh ampunilah hamba sebelum engkau beri pelajaran kepada orang yang berdusta. sesungguhnya aku tahu, hanya Engkaulah yang maha pengasih yang selalu mendahulukan rahmat dan rahim- Mu sebelum datang azab-Mu.

Sebenarnya tidak hanya karena tahun baru, di hari-hari biasa pun saya sebagai manusia biasa pasti punya harapan. semoga hari-hari kedepan akan lebih baik dari pada hari-hari sebelumnya. Semoga akan lebih sukses untuk kedepannya, sukses dunia akhirat, sukses lahir dan bathin, sukses sebagai anak yang taat kepada orang tua, sukses menjadi warga yang baik, dan sukses dalam belajar. dan  Bermanfaat pada semua orang yang merupakan sebuah kebanggan tersendiri yang tidak bisa dinilai dengan uang sebanyak apapun.

Waktu dan nafas adalah perkara yang takkan pernah akan kembali. Semoga kesempatan, nafas, dan waktu yang di berikan kedepannya akan lebih dimanfaatkan dengan maksimal menjadi apa yang diharapkan semua orang. Amiin.


29 Desember 2011
Casablanca, Maroko

Burhan Ali

Meredam Kesalahan

Oleh : Dr. Muhammad Yusuf Siddiq
 
Assalaamu ‘alaikum WR. WB.
Sahabat seiman..,
Lihatlah, Allah menghadirkan kembali nikmatnya pagi, meski tak semua mensyukurinya namun semua dapat merasakan kesegarannya, walau banyak yang meninggalkan perintah-Nya namun Pemberian-Nya tetap menyapa setiap kita.. semoga kita mampu membalas kebaikan pagi ini dengan yang lebih baik lagi..
 
Sahabat seiman..,     
Jangan pernah berhenti untuk memotivasi diri, cari terus inspirasi, ayat Al Quran sebaik-baik referensi, simaklah ayat berikut ini, artinya:
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema'afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema'afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma'af) membayar (diat) kepada yang memberi ma'af dengan cara yang baik (pula)..” (Q.S. Al Baqoroh: 178)
 
Sahabat seiman..,
Diri tak pernah luput dari kesalahan, namun syaitan bisa mencuri kesempatan, kesalahan membunuh bisa berujung pertikaian yang lebih besar. Namun tataplah indahnya Islam, dendam disalurkan tepat sasaran, api permusuhan diredam dengan benih persaudaraan, saling membalas dalam kebaikan..
 
Sahabat seiman..,
Hati-hatilah..!, di sekeliling kita bertaburan kebaikan, janganlah disia-siakan, apalagi disalahgunakan menjadi kejahatan. Di sekitar kita bertebaran kesalahan, jangan sertai syaitan menjadi kawan. sikapilah semua dengan kedewasaan pemahaman Islam, Semoga semua sisi kehidupan dipenuhi kebaikan. Selamat beraktifitas!

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes