Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

22 Apr 2014

Penerimaan Beasiswa ke Tim-Teng 2014

 Penerimaan Beasiswa ke Timur tengah tahun 2014-2015 (Maroko, Mesir dan Sudan)




21 Feb 2013

Kehebatan 'Gus Dur' di mata Gus Mus

Gus Mus tengah bercerita tentang maqamnya Gus Dur, Gus dur pernah bilang : “Orang yang ngasih utang ke orang lain pahalanya lebih besar dari orang yang hanya sekedar memberi kepada orang lain…. Karena orang  yang berhutang itu benar-benar sedang membutuhkan dari pada orang yang di beri sekedarnya…”

Lalu Gus Dus sering memberi utang kepada orang lain sehingga membuat gus mus menegur gus dur,“Gus, kamu kok selalu mengasih utang kepada dia, padahal dia kan itu hanya menipu” lalu Gus Dur hanya menjawab, “ya saya tau dia menipu”, lalu dilanjutkan “orang yang berhutang aja itu orang yang membutuhkan apalagi orang yang sampai menipu berarti ia lebih dari orang yang sangat membutuhkan”

Bukan Kyai Versi Gus Mus

Isu yang dulu pernah merebak tentang wacana usulan sertifikasi ulama yang diutarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk mencegah gerakan terorisme di Indonesia, seperti menjadi wacana lucu dalam kehidupan sehari-hari, seperti drama komedi tv buat selingan.

KH Mustofa Bisri (Gus Mus) pada saat memberikan taushiyah dalam acara peringatan Tahlil Akbar Seribu Hari wafatnya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Ciganjur, Jakarta pada bulan September 2012 lalu, pernah menyinggung soal sertifikasi kyai itu.
Karena menurut saya wacana ini masih layak untuk di perbincangkan terutama fenomena kyai dadakan dengan kyai yang memang bener-bener kyai, agar masyarakat bisa menilainya sendiri.
Sebenarnya seorang yang memang benar-benar kyai itu bisa dilihat langsung dari sepak terjangnya selama ini, atau cara pencapaian ilmu yang dulu didapatnya. Tidak hanya membaca buku terjemahan atau dari cara cepat mbah googele.
Namun menurut simbah Gus Mus, ada ciri-ciri bagaimana yang bukan kyai itu bisa dibedakan dari sang kyai.
Yang pertama : Gampang kaget, bentar-bentar kaget atau langsung ramai mendengar berita yang dianggap menghebohkan… ada lady gaga kaget… bulan ramadhan datang langsung gerebek warung, dan seterusnya.
Yang kedua : Ada pertanyaan semuanya di jawab.
Itu tanda-tanda orang baru jadi kyai… belum tutug (selesai)  ngajinya  dah keburu terkenal, jadi berhenti ngajinya. Jika orang itu benar-benar memahami ilmu, maka ia tidak akan mengatakan apa yang memang ia tidak ketahui.
Belajarlah menjadi kyai sebagaimana kyai-kyai dahulu  belajar, seperti yang pernah terjadi pada Imam Malik bin Anas, pendiri madzhab Maliki.

Datang seseorang, kepada Imam Malik Bin Anas Rahimahullah, dan bertanya:” Wahai Abu Abdullah aku datang kepadamu dari daerah yang jaraknya sekitar 6 bulan perjalanan, aku membawa beberapa permasalahan yang dihadapi oleh kaumku, maka aku akan menanyakan kepada Anda.” Imam Malik menjawab “Silahkan tanyakan.” Setelah tamu tersebut selesai bertanya, Imam Malik berkata:” Aku tidak menguasai permasalahan ini.” Tamu tersebut berkata :” Lalu apa yang akan aku sampaikan kepada kaumku saat aku kembali.” Maka Imam Malik berkata:” Katakan kepada mereka, bahwa Malik bin Anas tidak menguasai permasalahan tersebut.”

Begitupun dengan Imam Asy-Sya’bi Rahimahullah pernah ditanya dalam suatu masalah. Beliau menjawab, "Saya tidak tahu". Maka si penanya heran dan berkata, "Apakah kamu tidak malu mengatakan "tidak tahu", padahal engkau adalah ahlul fiqh negeri Iraq?" Beliau menjawab, "Tidak, karena para malaikat sekalipun tidak malu mengatakan tidak tahu, ketika Allah tanya: "Sebutkan kepadaKu nama benda-benda itu jika kamu memang benar!"(Al-Baqoroh:31). Maka para malaikat menjawab: "Mereka menjawab: Mahasuci Engkau, tidak ada ilmu bagi kami selain dari apa yang telah engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana" (Al-Baqoroh:32)

Ada satu nasihat dari seorang Ulama’ sebagai berikut: "Belajarlah engkau untuk mengucapkan ‘Saya tidak tahu’. Dan janganlah belajar mengatakan ’saya tahu’ (pada apa yang kamu tidak tahu), karena sesungguhnya jika engkau mengucapkan ’saya tidak tahu’ mereka akan mengajarimu sampai “engkau tahu". Tetapi jika engkau mengatakan ‘tahu’, mereka akan menghujanimu dengan pertanyaan hingga mereka tahu bahwa kamu “tidak tahu".

Perhatikan pula ucapan Imam Asy-Sya’bi Rahimahullah,"Kalimat ’saya tidak tahu’ adalah setengah ilmu".



5 Sep 2012

Mengintip Maroko - Kisah 3 Blogger Indonesia yang Pernah ke Maroko

Berikut adalah salah satu artikel yang saya ambil dari buku "Indonesia-Maroko: Lebih dari Sekedar Persahabatan" yang merupakan kumpulan 111 artikel terbaik karya mahasiswa dan pelajar Indonesia dalam ajang lomba menulis tingkat Nasional tentang "Hubungan RI - Maroko : Dulu, Kini dan Esok" yang digelar PPWI pada tahun lalu.

Saya pilih artikel ini bukan karena ada nama saya didalamnya. tetapi juga karena isinya yang berani beda dari artikel-artikel lainnya. berikut isi lengkap beserta biodata penulisnya: 
Saya ingin kehidupan yang menantang dan penuh dengan penaklukan. Saya ingin mengunjungi tempat-tempat asing dan mencicipi lika-liku kehidupan manusia yang warna-warni, bernafas dari pengalaman orang lain, dan akhirnya menemukan inspirasi dari sudut sempit kehidupan saya yang selama ini tampak datar. 

Berangkat dari angan itu, saya pun memulai perjalanan saya ke Maroko, negeri seribu benteng yang memadukan kultur budaya arab dan eropa. Perjalanan menggetarkan yang menempuh jarak 0 km dari sekotak layar di hadapan saya. Saya pun mengintip Maroko dari 3 kisah blogger Indonesia yang pernah ke Maroko.

Seorang blogger asal Cilacap, Burhan Ali, menceritakan kepada dunia bahwasanya beliau merasa menjadi mahasiswa yang paling beruntung karena bisa menimbah ilmu di Maroko. Melalui sebuah tulisannya, beliau bercerita tentang kisah romantisme Indonesia-Maroko yang berawal dari sejarah. Beliau bertutur meskipun Indonesia dan Maroko dipisahkan oleh jarak yang melebihi sepertiga lingkaran bumi, tidak menghalangi kerjasama antara kedua negara. Bahkan Maroko seringkali menyebut Indonesia sebagai “Akh Syaqiq” yang berarti “saudara kandung”.

Semakin lama, saya pun terlarut dalam cerita beliau. Terlebih ketika beliau bercerita tentang sejarah Indonesia-Maroko di pertengahan abad 14 masehi, ketika itu Ibnu Battutah, seorang musafir terkenal, melakukan perjalanan dari Maroko menuju Mesir, India, hingga tiba di Indonesia tepatnya di Samaudra Pasai, Aceh.

Cerita sejarah Indonesia-Maroko pun berlanjut, 4 tahun sejak Maroko meraih kemerdekaan dari kolonial Perancis pada tahun 1956, Presiden Soekarno berkunjung ke Maroko bertemu Raja Muhammad V. Soekarno merupakan presiden pertama yang berkunjung ke Maroko. Selain itu Soekarno juga dianggap sebagai pemimpin revolusi dunia yang membangkitkan semangat kemerdekaan bangsa-bangsa Asia-Afrika.

Dari kunjungan persahabatan itulah yang membuat Raja Mohammed V memberi kenang-kenangan khusus bagi Soekarno yaitu penamaan jalan yang mengambil namanya yaitu Rue (jalan) Soekarno di jantung kota Rabat, ibukota kerajaan Maroko.Tidak hanya jalan Soekarno saja yang ada di kota Rabat ada lagi nama jalan yaitu Rue (jalan) Bandoeng dan jalan Jakarta.

Sebaliknya, Presiden Soekarno pun mengambil nama Casablanca sebagai nama jalan terpenting dan tersibuk di Jakarta, Indonesia. Casablanca ini diambil dari nama kota perdagangan dan pelabuhan penting di Maroko. 

Ternyata kunjungan itu membawa banyak cerita persahabatan yang bisa kita rasakan hingga hari ini.
Kunjungan tersebut juga merupakan awal mula didirikannya kedutaan besar Republik Indonesia di Rabat yang pada awalnya bertempat di Agdal. Selain itu Warga Negara Indonesia juga dibebaskan visa untuk masuk ke Negara Maroko yang bisa kita rasakan hingga sekarang terutama bagi Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Maroko. Sungguh membuat saya terharu dan bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia.

Tidak hanya itu, harmonisme Indonesia dan Maroko semakin tampak jelas saat Indonesia turut berpartisipasi di Festival Teatre International untuk Pemuda ke XI di Taza, Maroko. Kedutaan Besar Republik Indonesia di Rabat, menampilkan Sendratari Ramayana yang sedikit menyimpang dari aslinya. Dan itu merupakan pertama kalinya kisah Ramayana dilakonkan dalam bahasa Arab.

Cerita lain dituliskan oleh Dedy W. Sanusi, seorang mahasiswa Indonesia yang menerima beasiswa S2 di Maroko melalui Agence Marocaine de Cooperation Internationale (AMCI). Beliau juga mengaku senang bisa belajar islam di Maroko. Beliau bercerita banyak tentang dosen-dosennya selama di Maroko yang sangat ramah. Nyaris tidak pernah berkata “tidak” ketika dimintai sesuatu, bahkan salah seorang dosennya yang bernama Dr. Abdullah As-Syarif membuka pintu rumah dan perpustakaan pribadinya setiap hari untuk memenuhi rasa ingin tahu murid-muridnya yang berasal dari Indonesia.

Beliau juga menuturkan keinginannya untuk mendirikan lembaga penelitian islam Indonesia-Maroko. Menurutnya, hubungan Indonesia dan Maroko lebih dari sekedar hubungan diplomatik, tetapi juga intelektual dan keagamaan. Misalnya, kitab al-Ajrumiyah, yang dikarang ulama Maroko Syekh Shanhaji, kitab itu sangat akrab dengan kalangan pesantren di Indonesia. Begitu juga dengan Tarekat Tijaniyah yang berpusat di Fes, memiliki banyak pengikut di Indonesia. Ciri khas keberagamaan yang moderat, seimbang dan toleran sama-sama berlaku di Maroko dan Indonesia.

Atas dalih itulah beliau menyimpukan bahwa banyak hal yang harus dipelajari bersama untuk menguatkan hubungan persahabatan kedua negara untuk memberikan model Islam yang selalu sesuai dengan perkembangan dunia.

Cerita terakhir datang dari seorang blogger yang tidak menyebutkan namanya. Beliau seringkali menyebut dirinya “Sang Penjelajah Maroko”. Sepertinya nama itu tepat untuknya karena beliau sangat sering menulis tentang keindahan Maroko. Dalam blognya, beliau banyak menampilkan foto-foto Maroko yang benar-benar membuat saya berdecak kagum.

Mata saya pun tertuju pada sebuah gambar kota tua yang ada di Maroko yakni Meknes, kota tua peninggalan bangsa romawi yang sangat eksotis dengan bangunan romawi yang tampak kokoh. Gambar gurun pasir di kota ini juga membuat saya terhanyut, apalagi melihat siluet keemasan dengan beberapa bayangan unta di sana. Susah rasanya menyembunyikan letupan rasa kagum terhadap Maroko.

Dan pada akhirnya ketiga cerita blogger di atas memberi saya banyak pengalaman. Entah suatu hari impian saya untuk ke negeri seribu benteng itu bisa terwujud atau tidak, yang terpenting saya bisa berbangga menjadi bangsa Indonesia, bangsa yang dianggap sebagai saudara kandung oleh bangsa Maroko. Limu puluh tahun sudah pershabatan ini berlangsung, dan semoga akan terus berlanjut, hari ini, besok, dan mungkin untuk selamanya hingga persahabatan itu akan kutitipkan ke anak cucu ku kelak. Besar harapan suatu saat kerja sama ini mengalami ekspansi, tidak hanya bidang pendidikan, tetapi juga bidang pariwisata, budaya, ekonomi, keamanan dan lain-lain.

Referensi :
http://ali-burhan.blogspot.com/2011/04/berawal-dari-sejarah-indonesia-maroko.html
http://jelajah-maroko.blogspot.com/2010/04/maroko.html
http://featuresdedywsanusi.blogspot.com/2008/04/cerita-baru-dari-negeri-matahari.html

Biodata Penulis:
Nama lengkap: Khairul Faiz
Tempat/tanggal lahir: Ujung Pandang, 05 Desember 1990
Nama sekolah/universitas: Politeknik Negeri Ujung Pandang
Alamat sekolah/universitas: Jl. Perintis Kemerdekaan Km 10 Makassar
Alamat rumah: Jl.Nipa-nipa dalam 1 No. 16 Blok 3 Perumnas Antang, Makassar 90234
Nomor telepon seluler : 085255238825 / 0411-491350
Alamat e-mail: faizlagi@ovi.com
Facebook: Khairul Faiz
Twitter : @daengfaiz
Blog : http://blogpejantantanggung.blogspot.com

23 Agu 2012

Semarak Wisuda Pelajar Indonesia di Maroko

Indahnya ramadhan bulan penuh berkah “. Menjadi ungkapan yang tak hanya isapan jempol dan trend belaka bagi  pelajar Indonesia di maroko, negeri  berjuluk seribu benteng itu. Bagaimana tidak,  keberkahan  ramadhan memang pada titik definisi tanpa imitasi, yang memang di rasakan secara real. Ini diungkapkan  dengan adanya acara wisuda pelajar Indonesia di maroko pada tanggal 13 agustus 2012 di gedung INPT Rabat, yang berbarengan dengam bulan Ramadhan  1433 H, di mana acara berlangsung  dengan penuh kesyahduan dan suka cita bahagia, meski  di teriknya musim panas di susana Ramadhan Maroko.
Wisudawan/i bersama Dubes RI di Maroko dan DR. Amin Ismaili
Jam 14.30 sore hari acara di mulai,  hingga sampai jam 19. 00 acara pada titik akhirnya, dengan di tutup buka puasa bersama yang di hadiri oleh semua tamu undangan dan segenap anggota PPI Maroko.  Juga turut hadiri Duta besar RI  untuk kerajaan maroko, bapak Tosari Widjaja, jajaran home dan local staf KBRI Rabat, perhimpunan pelajar Malaysia  ( PMMM ), perhimpunan pelajar  Thailand (TSAM), masyarakat  maroko  dan seluruh lapisan masyarakat Indonesia yang berdomisili di maroko. Termasuk anggota PPI di dalamnya.

Acara wisuda pelajar Indonesia di maroko  ini, menjadi moment perdana yang dapat terealisir tahun ini, mengingat tahun-tahun sebelumnya inisiatif implementasi acara wisuda ini masih sebatas klise, dan selalu menuai penangguhan-penangguhan dalam penerapannya .

Acara wisuda ini menjadi prosesi yang cukup sakral,  sebagai moment potret indah dari jerih payah penempuhan belajar di negeri orang. Termasuk sebagai refleksi  dari tidak adanya prosesi wisuda di setiap universitas, entah itu dari jenjang sarjana,  master dan doctor setelah di nyatakan lulus oleh pihak kampus. Artinya acara wisuda memang tidak ada dalam agenda  kampus  di maroko, sehingga acara wisuda pelajar Indonesia di Maroko ini, menjadi semacam pelipur dan ungkapan penghargaan untuk pelajar Indonesia yang berhasil merampungkan study nya, sekaligus sebagai cambuk dan jurnal  motifasi untuk pelajar-pelajar lainya.

Selain prosesi serah terima penghargaan kepada para wisudawan-wisudawati  yang di berikan langsung oleh duta besar Indonesia untuk kerajaan maroko , bapak H. Tosari Widjaja  dan DR. Amien Ismaili, Dosen Universitas Mohammed V, dalam acara wisuda tersebut,  juga di meriahkan dengan penampilan penampilan seni budaya Indonesia.  Dalam hal ini pementasan seni rebana  dan penampilan seni tari payung  oleh kawan kawan PPI .

Maksud dan tujuan dari di laksanakannya acara wisuda ini, tak lain antaranya sebagai wujud apresiasi, do’a  dan  penghargaan setinggi-tingginya kepada para wisudawan dan wisudawati  atas keberhasilanya merampungkan jenjang belajarnya nya. Sekaligus sebagai bahan cambuk dan cermin untuk para pelajar pelajar lainya agar selalu termotifasi untuk selalu giat belajar,  agar tak ‘ kendor dan molor ‘  dari program pendidikannya, guna sesegera mungkin kembali  ke tanah air dan mengabdikan  ilmu dan pengetahuannya bagi tanah Indonesia tercinta.

Berikut daftar nama nama wisudawan wisudawati periode 2011 2012
  1. Sholehuddin, asal Jakarta selatan, lulusan Universitas Mohammed V, Rabat, jenjang Master.
  2. Firmansyah Waruwu, asal Medan, Sumatra Utara, lulusan Universitas Qaraouiyyine Usuluddien, Tetouan. Jenjang Master
  3. Ahmad Shohibul Muttaqien, asal Demak, Jawa tengah, lulusan Universitas Ibn Tofail, Kenitra . Jenjang Sarjana.
  4. Dewi Anggraeni, asal Majalengka, Jawa barat, lulusan Universitas Ibn Tofail, Kenitra . Jenjang Sarjana.
  5. Ahmad Labib Mughni, asal Jakarta, lulusan Universitas Hassan II, Casablanca. Jenjang Sarjana.
  6. Ali Syahbana, asal Cirebon, lulusan Universitas Ibn Tofail, Kenitra . Jenjang Sarjana.
  7. Habib Choirul Musta’in, asal Ponorogo, Jawa timur, lulusan Universitas Mohammed V, Rabat. Jenjang Sarjana.
  8. Burhan Ali, asal Cilacap, Jawa tengah, lulusan Universitas Hassan II, Casablanca . Jenjang Sarjana.

21 Agu 2012

Warga Indonesia Berlebaran di Maroko

Berikut kutipan berita lebaran warga indonesia di Maroko yang dimuat di media online Antaranews dan Yahoo news.

London (ANTARA) - Masyarakat Indonesia di Maroko merayakan Hari Raya Idul Fitri pada hari Senin (20/8) sehingga berbeda dengan Indonesia dan negara lainnya yang merayakan Lebaran pada hari Minggu.

Kementerian wakaf dan urusan Islam kerajaan Maroko mengumumkan bahwa rukyatul hilal pada hari Sabtu belum terlihat, sehingga tanggal 1 Syawal jatuh pada hari Senin 20 Agustus.

Sekitar 200 warga masyarakat Indonesia di Maroko, termasuk Duta Besar RI untuk Maroko, Tosari Widjaja, keluarga besar KBRI Rabat mengadakan shalat Idul Fitri di Wisma Duta Indonesia, ujar Husnul Amal dari KBRI Rabat kepada ANTARA London, Senin.

Sholat Idul Fitri yang dimulai pukul 07.30 waktu Maroko, diawali dengan takbir dan tahmid oleh jamaah yang menciptakan suasana khusuk dan khidmat diikuti mahasiswa Indonesia di Maroko serta masyarakat Indonesia yang berdomisili di Rabat dan sekitarnya.

Husnul Amal mengatakan yang bertindak sebagai khatib dalam shalat Idul Fithri adalah H. Helmi Basri, LC., MA mahasiswa Indonesia Program Doktor di Universitas Moulay Ismail Meknes-Maroko.

Dalam khutbahnya yang berjudul Meraih Kemenangan Hakiki Pasca Ramadhan, khatib antara lain menyampaikan tiga bentuk kemenangan yang diraih umat Islam melalui ibadah Ramadhan.

Pertama, kemenangan spiritual, kedua kemenangan emosional dan ketiga kemenangan intelektual. Umat Islam merayakan hari kemenangan, rahim Ramadhan telah melahirkan sosok-sosok dan pribadi muslim yang menang dan sukses, ujarnya.

Seusai melaksanakan shalat Idul Fitri, dengan penuh keharuan dan kekeluargaan, seluruh masyarakat Indonesia saling bersalaman untuk saling memaafkan. Hari Raya Idul Fitri tahun ini pun berlangsung meriah dan spesial karena bertepatan dengan hari ulang tahun Dubes RI untuk kerajaan Maroko, H. Tosari Widjaja.

Saat acara ramah tamah, masyarakat Indonesia termasuk para pelajar di Maroko mengucapkan selamat ulang tahun kepada Dubes Tosari Widjaja yang bertepatan berulang tahun ke 72 pada tanggal 20 Agustus.

Perayaan Idul Fitri ini juga dilengkapi dengan menikmati hidangan lebaran khas Indonesia antara lain lontong sayur, yang disiapkan khusus oleh Dharma Wanita KBRI Rabat.

Koordinator Dept. Media Informasi PPI Maroko, Burhan Ali, kepada ANTARA London, mengatakan Hari Raya Idul Fitri 1433 H/ 2012 adalah lebaran yang kelima baginya jauh dari kampung halaman dan keluarga.

"Tentu merasa sedih sudah lima kali tidak pernah merasakan sentuhan dan salam dari ibu bapak," ujar Burhan yang baru saja menyelesaikan S1 dan baru diwisuda dan lagi mendaftar S2, di Casablanca .

Burhan Ali yang lama menetap di Maroko mengatakan  ia merasa senang bisa mendengarkan suara ibu dan bapak di malam lebaran walau hanya lewat telepon merupakan "obat" yang luar biasa untuk mengobati rindu, ujar anak ke 7 dari 9 bersaudara.

Apalagi suasana kekeluargaan yang digalang oleh KBRI dan warga Indonesia di Maroko mampu mengobati rindu kampung halaman. (jk)


Sumber : Yahoo news

3 Jul 2012

Patriotisme, Dulu dan Kini

Photo by : masprim.files.wordpress.com
Tak harus seperti  pada zaman PKI..
Menenteng senjata untuk berjaga..

Tak harus seperti pada zaman belanda..
Meruncingkan bambu,agar anak cucu tetap hidup..

Namun sekarang bukan seperti itu..
kini hanya cukup menuntut ilmu..
memajukan bangsa agar semua sejahtera, itu saja !!!

*Kenangan catatan ringan dari sahabat Ahmad Ja'far Aidi.

6 Jun 2012

Launching Novel Islami "Ouhibouki Areta"

Novel Islami pertama yang mengangkat persahabatan abadi antara Indonesia dan Maroko. Juga terselip kisah cinta ala seorang pujangga asal Cordoba.
 
Cover Novel Ouhibouki Areta
Sebuah imajinasi yang menghadirkan keindahan lewat tulisan-tulisan, betapa indahnya pesona Maroko dalam balutan Masjid Hassan II Cassablanca. Masjid yang sebahagiannya menjorok ke laut, dimana lantainya dapat menembus keindahan laut, atap geser otomatis, sinar laser yang menunjukan arah kiblat menghubungkan Masjidil Haram.

Cahaya malam bak emas, seakan menyaingi indahnya gundukan Gurun Sahara. Keindahan salju di kota Michilleffen, seakan membuka tabir cinta yang sempat tertutup oleh sebuah syariat agama. Indahnya persahabatan Indonesia dan Maroko ikut menghidupi hati Asyam dan Areta yang pada akhirnya menyadari bahwa cinta itu tak dilarang syariatnya. cinta adalah urusan hati, dan hati adalah urusan Illahi.

Sebuah Novel Islami yang tak hanya mengangkat kisah cinta ala pujangga Cordova, tetapi menguak sebuah lentera pendidikan islam yang sudah lama tak terjamah lagi. Setiap sudut-sudut ke-eksotikan negeri matahari terbenam ini, nyatanya telah membuat kisah persahabatan dua negara ini tak pernah terbenam.

Segera launching Novel Islami "Ouhibouki Areta" dari penulis Risma Inoy. Hadiri acara launchingnya pada hari Mingggu, 10 Juni 2012 pukul 14.00-selesai di Bobby D's Restaurant and Bar Kemang, Jalan Kemang Raya no.3-5 Jakarta Selatan.


10 Jan 2012

Nantikan Novel "Ouhibouki Areta" Dengan Latar di Maroko

Sebuah imajinasi yang menghadirkan keindahan lewat tulisan-tulisan, betapa indahnya pesona Maroko dalam balutan Masjid Hassan II Cassablanca. Masjid yang sebahagiannya menjorok ke laut, dimana lantainya dapat menembus keindahan laut, atap geser otomatis, sinar laser yang menunjukan arah kiblat menghubungkan Masjidil Haram.

Cahaya malam bak emas, seakan menyaingi indahnya gundukan Gurun Sahara. Keindahan salju di kota Michilleffen, seakan membuka tabir cinta yang sempat tertutup oleh sebuah syariat agama. Indahnya persahabatan Indonesia dan Maroko ikut menghidupi hati Asyam dan Areta yang pada akhirnya menyadari bahwa cinta itu tak dilarang syariatnya. cinta adalah urusan hati, dan hati adalah urusan Illahi.

Sebuah Novel Islami yang tak hanya mengangkat kisah cinta ala pujangga Cordova, tetapi menguak sebuah lentera pendidikan islam yang sudah lama tak terjamah lagi. Setiap sudut-sudut ke-eksotikan negeri matahari terbenam ini, nyatanya telah membuat kisah persahabatan dua negara ini tak pernah terbenam.

Nantikan kehadiran Novel Islami "Ouhibouki Areta" dari penulis Risma Inoy. Novel pertama dengan latar budaya dan pendidikan di Maroko sebagai negeri matahari terbenam dan selamat menikmati indahnya raga yang seakan dibawa terbang menginjakkan kaki di pasar malam Djema El-Fnaa, membasuh muka dengan air wudhu di Masjid Hassan dan seakan merasakn berjalan di lorong-lorong sempit Vollubilis sambil menikmati siang hari di tepi Samudra Atlantik...

*Disarikan dari status FB sang penulis Risma Inoy Ummu Jundi

31 Des 2011

Sendratari Ramayana di Maroko (Video)

Dalam Rangka Festival Teatre International untuk Pemuda ke XI di Taza, Maroko, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Rabat kerja sama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko, menampilkan Sendratari Ramayana dengan berbagai macam improvisasi alias sedikit menyimpang dari aslinya. Pertama dalam sejarah, kisah Ramayana dipagelarkan dalam bahasa Arab. Festival tersebut diikuti oleh Arab Saudi, Oman, Tunisia, Bahrain, Sudan, Mesir, Burkina Faso, Prancis, Pantai Gading, Polandia, dan Maroko sebagai tuan rumah.

PAGELARAN SENDRATARI RAMAYANA DI TAZA- MAROKO Tgl.24 April 2010
Video Youtube by :

Part 1 :
Part 2 :

Part 3 :

Part 4 :



27 Des 2011

Sheikh Youssef Al-Qardawi : Bagi Muslim Hukum Merayakan Natal dan Tahun Baru Haram, Haram

Sheikh Youssef Al-Qardawi
Yang terjadi di negara kita saat ini sungguh memperihatinkan, ada pertanyaan yang perlu kita tanyakan kepada diri kita masing-masing, termasuk golongan manakah kita ini? dan termasuk masyarakat apakah masyrakat kita ini? Muslim atau kah Masehi, Masyarakat islami atau masyarakat kristiani.?

Banyak dari dari kita sebagian yang merayakan natal atau Chrismas yang merupakan hari rayanya umat kristen atau masehi, dan merayakan tahun baru masehi seolah-olah kita berada di eropa yang kebanyakan masyarakatnya masehi dan nasrani.

Kenapa kita malah merayakan natal? dan mengapa tidak merayakan hari maulid Nabi Muhammad Saw. pembawa risalah islami, dan mengapa kita tidak menghidupkan tahun baru hiijriah, sebagai bentuk peringatan hijrah nabi SAW.

Dalam hal ini, Sheikh Youssef Al-Qardawi, presiden Persatuan Ulama Muslim mengumumkan bahwa tidak diperbolehkan bagi seorang Muslim untuk merayakan hari Natal dan Tahun Baru masehi, serta tidak diperbolehkan bagi Masyarakat Muslim untuk mengubah identitas Islam, wajah dan tradisi agamanya.


21 Des 2011

Masjid Indonesia di Kenitra, Bagian Sejarah yang Terpinggirkan

Masjid Indonesia, di Kenitra
Indonesia, Sebuah negara besar yang berada di bagian tenggara benua asia ternyata telah memiliki pengaruh yang luar biasa terutama sejak zaman awal kemerdekaan.

Gare de Kenitra, sebagai pintu masuk utama
Jauh berada di benua asia sebelah ujung tenggara, nama Indonesia telah banyak di abadikan di negara-negara yang telah ikut kagum dengan semangat kemerdekaan. Salah-satunya Maroko, sebuah negara kerajaan yang berada di ujung barat afrika utara, telah mengukirkan nama Indonesia sebagai nama salah satu masjid di kota Kenitra, kota kecil 40 Km utara Ibu kota Rabat, Maroko.

Hingga saat ini, Masjid Indonesia di Kenitra masih berdiri kokoh dan berfungsi dengan baik sebagai tempat ibadah kaum muslimin.

Tidak banyak yang tahu dari orang indonesia yang berkunjung ke Maroko bahkan warga Indonesia yang berdomisili di Maroko pun belum tentu tahu tentang keberadaan masjid Indonesia ini dan berkunjung ke tempatnya langsung. Mereka lebih akrab dan lebih tahu tentang Rue Soekarno (Jalan Sukarno) di Kota Rabat, Jalan Jakarta dan Jalan Bandung di Kota Casablanca.

Menara Masjid Indonesia
Padahal penamaan masjid ini pun tidak terlepas dengan penamaan nama-nama jalan sebagaimana disebut diatas dan pembebasan visa bagi warga Indonesia sebagai hadiah dari Raja Mohammed V kepada Presiden pertama Indonesia Ir. Sokerno dalam kunjungan pertamanya ke Maroko, 2 Mei 1960 yang merupakan kunjungan pemimpin  dunia pertama yang berkunjung ke Maroko setelah meraih kemerdekaan dari penjajahan Perancis .

Masjid Indonesia yang didirikan pada tahun 1348 Hijriah, terletak pada tempat yang strategis, dekat dengan medina (kota lama) dan dengan pusat belanja pasar tua Khoubazat. 

Masjid yang terletak di samping souk houriya, kawasan biranzaran kota Kenitra ini hingga saat ini masih menjadi salah satu pusat pengajaran dan  pemberantasan buta huruf, dan pengajian singkat setelah shalat maghrib.

Contoh bangunan masjid Maroko, Masjid tua Koutoubia
Jika dilihat dari jenis dan bentuk bangunan, masjid Indonesia berbeda dengan masjid-masjid di Maroko umumnya. Pernah ada dari orang maroko bercerita bahwa beberapa arsitek yang ikut membangun didatangkan dari Indonesia. Begitupun dengan menara masjid agak sedikit berbeda, kalau menara masjid maroko umumnya berbentuk balok yang tinggi, sedangankan menara masjid Indonesia berbukntuk segi empat yang diatas lebih kecil di banding bagian bawah menara. Ukiran dan bentuk tembok di luar dinilai orang Maroko sangat aneh, karena berupa tupukan batu yang disusun, berbeda dengan masjid lain di Maroko.

Namun saat ini, tidak banyak yang tahu kisah dan sejarah dari pembangunan masjid ini kecuali orang maroko yang sudah berumur tua. dan Kita sebagai Warga Indonesia di Maroko diharapakan mampu mejaga hubungan baik yang telah dibangun melalui sejarah yang panjang.
Photo: Ketua PPI Maroko saat berkunjung ke Masjid Indonesia

18 Des 2011

Episode Cinta Sang Ibu Di Hari Ibu

“Insyaallah..insyaallah..insyaallah.. ada jalan”   by Maher Zein

Lirik lagu diatas seringkali di dendangkan oleh Jundi, anakku. Barangkali dia juga belum bisa memahami apakah makna dari bait kalimat simpel namun menggugah itu. Bagi kita yang dewasa, pastinya sangat mengerti dengan makna dari bait tersebut.

Namun, tidak semudah hanya dengan di ucapkan. Belum banyak pula yang bisa memahami bahwa sejatinya waktu ujian itu tidak pernah lebih panjang daripada waktu hari belajar. Tetapi banyak orang tidak sabar ketika menghadapi ujian, seakan sepanjang hidupnya hanya menemui ujian dan sedikit hari untuk belajar. Sayang sekali, mereka tidak memetik suatu hikmah dari sebuah proses itu.

Sebenarnya... ujian kesabaran, keiklasan dan keteguhan lebih sedikit waktunya dibanding kenikmatan hidup yang kita rasakan. Sebagai contoh, jika ada sekolah yang waktu ujiannya lebih banyak daripada waktu belajarnya, maka sekolah itu dianggap sekolah “gila.” Dan sesungguhnya, masih banyak yang hanya memaknai bahwa kesulitan-kesulitan adalah bentuk ujian. Padahal, kenikmatan sendiri itu adalah ujian ..

Nikmat pendengaran, akan menjadi ujian jika kita dihadapkan pada dorongan manusiawi untuk mendengar gunjingan. Nikmat perasa, yang acapkali tanpa sadar kita gunakan untuk ber-ghibah atau bersilat lidah dan menyakiti hati orang lain. Nikmat harta, yang seringkali membuat kita diperbudak olehnya lalu merasa tinggi hati.  Nikmat kecerdasan, yang pada akhirnya menggoda iman kita untuk berbuat takabur dan tidak jujur. Nikmat sehat, yang sering juga terlupakan tatkala kita tak pernah menyadari bahwa Allah memberikan nafas kepada kita tanpa harus membayar. Semua kenikmatan itu nyaris terpenjara dan melumpuhkan lidah kita untuk mengucap HAMDALLAH YA RABB ...

Dalam melengkapi naskah memoar inspiratif mengenai aa Ogest yang sudah pernah saya bahas disebuah notes, alhamdulillah kini sudah memasuki BAB akhir, insyaallah ya Maher Zein ;) semoga menjadi sesuatu J. Dalam hati saya dan aa Ogest sebagai penderita GBS  lumpuh selama 21 tahun, pernah berharap suatu hari ingin bergerak untuk mensosialisasikan GBS di Indonesia yang nyatanya memang belum tersosialisasi dengan baik, bahkan belum banyak yang mengetahuinya.

Subhanallah, Allah maha mendengar doa hambanya dan semua bisa terjadi atas kehendak-NYA. Hingga saya dipertemukan dengan seorang “Inspiring Mom” Drg. Silvia Wahyuni yang dari hatinya tergerak untuk mendirikan PEDULI GBS di Indonesia. Semua bermula ketika ada dua orang balita, Shafa Azalia Zulkarnain dan Azka, yang terserang virus GBS ( Guillain Barre Syndrome ).
Drg.Silvia Wahyuni dengan rekan-rekannya dengan segenap hati dan tenaga serta waktu, berjuang menggalang dana untuk untuk biaya pengobatan di ICU Rumah Sakit yang nominal rupiahnya bisa untuk membeli satu rumah mewah di kawasan elite, atau satu rumah minimalis dan satu buah mobil Honda Jazz new version..

Coba kita renungkan, dengan menutup mata sekejab saja.. bayangkan anak-anak balita kita yang tengah dalam masa emas perkembangan. Mereka aktif berlari-lari lincah, mereka dengan sigapnya mengobrak abrik mainan bahkan semua barang-barang yang ada dirumah kita. Mereka pun dengan lantang berceloteh lucu, mereka dengan manjanya berlari dengan kakinya yang normal, menjangkau tubuh kita dengan tangannya yang sempurna, demi hanya untuk dipeluk ibunya..

Namun apa yang terjadi tanpa kita sadari? Seringkali tanpa sadar, atau bahkan dengan kesadaran penuh, kita memarahinya dan menyebutnya anak nakal. “Ibu,aku  tidak nakal. Tetapi ku banyak akal..” seringkali juga kita malah memakinya lantaran kesal dan secara otomatis, mereka merekam semua makian kita dalam benaknya yang kemudian keluar dari celoteh polosnya. Atau barangkali ada yang membentaknya ketika  sedang letih hanya karena anak kita ingin meraih jemari kita..

Ibu.. bagaimana jika kita harus menghadapi hari-hari selama berbulan-bulan atau  bertahun-tahun, di lorong sebuah Rumah Sakit dan hanya bisa melihat anak kita dari balik kaca sebuah ruang ICU. Bagaimana jika selama rentan waktu tertentu, kita tak pernah lagi melihat anak-anak kita tertidur dikamar bersama kita, melainkan tertidur di sebuah ranjang besi Rumah Sakit dengan alat-alat logam yang menempel di tubuhnya, dengan detak jantung yang kembang kempis, dengan leher yang terpaksa di bolongi untuk dimasukkan alat bantu pernafasan. Bagaimana jika setiap jam, perawat selalu memasukkan selang dari lubang hidung atau mulut anak kita, untuk mengambil cairan yang menumpuk di dalamnya. Bagaimana jika anak kita, yang semestinya sudah bisa bersekolah dan berlari-lari, nyatanya mengidap suatu penyakit yang menyebabkan ia belum bisa duduk, belum bisa berjalan apalagi berlari-lari dengan lincah. Ibu, tidak ada yang menginginkan seperti ini tetapi Allah memberikan ini... kepada mereka disana..

Ibunda dan Ayahanda Shafa Azalia Zulkarnain, yang tak bisa memejamkan mata dengan indah ketika puteri tercintanya yang kini berusia lima tahun terserang virus GBS. Mereka pernah mendapati Shafa dalam keadaan koma selama dua hari, mendapati otot sensorik Shafa sempat terganggu dan menghadapi situasi dimana sudah tak ada lagi biaya sehingga harus berhutang ke Rumah Sakit dalam jumlah yang sangat tidak sedikit. Hatinya remuk, namun semangatnya tak pernah remuk. Langkah kaki beliau menembus segala rintangan untuk bisa mendapatkan keringanan dari pemerintah, bukanlah hal yang mudah. Dan berkat doa serta dukungan dari berbagai kalangan, alhamdulillah kini Shafa Azalia yang saya temui pada tanggal 18 Desember 2011 di ruang ICU anak RSCM, sudah bisa bermain sepada, sudah bisa menggerakkan jari-jarinya untuk menulis dan mewarnai. Meskipun nafasnya belum sempurna. Dilehernya masih terdapat alat bantu pernafasan yang tersambung ke bagian hidungnya. Puteri yang sangat cantik dan cerdas. Masa-masa emasnya ia habiskan di ranjang tidur ICU. Sabar ya nak, peluk hangat serta doa mama dan papa insyaallah akan menjadi mukjijat untuk kesembuhanmu, sayang..

Dari sebuah pernikahan, jika Allah berkehendak maka kita akan di karuniai seorang bayi. Tak ada yang menyambut kelahiran dari buah pernikahan dengan bersedih hati. Namun nyatanya, ada seorang bayi berusia 11 bulan yang berada di samping ranjang Shafa di ruang ICU, menderita penyakit SMA ( Spinal Muscular Atrophy ). Suatu penyakit kerusakan sel-sel otot yang mengakibatkan kelumpuhan akibat kelainan genetika. Darah ibunya tidak cocok dengan darah ayahnya. Sementara hanya informasi ini yang bisa saya tangkap. Akibatnya, Kevin yang masih berusia 11 bulan mengalami pengecilan paru-paru dan lumpuh. Lehernya pun dibolongi untuk dimasukkan alat bantu pernafasan. Matanya sudah rabun dan kini sudah tak ada respon. Saya tak kuasa melihat Kevin dari balik kaca, ketika ibundanya memegang tangan mungilnya dan membisikkan kata-kata barangkali sebuah doa. Tatapan mata Kevin tertuju pada Ibunya seakan ia mengerti dan sudah iklas menghadapi semua ini. Dokter memperkirakan, usianya paling lama bisa bertahan hanya dua tahun saja. Kevin.. yang terbaik untukmu ya, Nak..kami semua mendoakanmu.

Saya juga ingin memperkenalkan seorang Ibu bernama Nur Rahmah Desiana yang luar biasa tabah, ketika putera pertamanya, Daffa yang kini berusia empat tahun terserang penyakit Celebral Palsy sejak usianya masih dibawah satu tahun. Daffa penyandang Celebral Palsy type Spastic Diplegia, yang mengharuskan Desi mengkhususkan waktu lebih intensive untuk melatih Daffa agar bisa mengoptimalkan keempat anggota geraknya. Ditambah lagi, Daffa memiliki kelainan ginjal RTA dan lambung GERD yang mengharuskan ia minum obat setiap tiga jam sekali. Kini di usianya yang keempat, Daffa belum bisa duduk, belum bisa berjalan, apalagi berlari. Tidak cukup sampai disini, sekitar satu tahun lalu, Desi Ibunda Daffa pun terserang virus GBS. Masyaallah ..saya tak bisa membayangkan bagaimana Desi harus survive dalam keadaan ini. Desi sendiri harus dirawat di Rumah Sakit dan menjalankan terapi, meninggalkan Daffa yang juga sangat membutuhkan perawatan intensive.  Subhanallah saya katakan kembali, “insyaallah ada jalan” dari sahabat-sahabat alumni SMA-nya bergerak menggalang dana untuk kesembuhan Desi dan puteranya, Daffa. Desi pun masih tetap berusaha bersama rekan-rekan dan keluarganya, memperjuangkan JAMKESDA dari anggota DPRD Tangerang Selatan. Mohon doanya, insyaaallah awal Januari, Desi akan menjalani plasma..

Alhamdulillah, dari pertemuan saya dengan Drg.Silvia Wahyuni, beliau mengundang saya dan aa Ogest untuk hadir dalam sebuah acara talkshow bertemakan “Inspiring Mom” dan mengadakan acara galang dana untuk penderita GBS dan jantung bocor untuk balita. Acara yang akan diadakan tepat pada Hari Ibu tanggal 22 Desember 2011 di FX Senayan dengan pembicara Wanda Hamidah dan Drg. Silvia Wahyuni, serta beberapa Ibu yang ingin berbagi mengenai perjuangannya menghadapi anak-anak mereka yang mendapat penyakit serius. Dalam acara ini, aa Ogest akan menyumbangkana suara dari group PAPAROMANTIC yang dibentuknya. Ia akan menyanyikan lagu-lagu ciptaannya. Sebagai wujud motivasi dan semangat bahwa kelumpuhan bukanlah sebuah halangan untuk berkarya dan menyalahkan tuhan. Ada beberapa artis papan atas yang juga bermurah hati hadir disana untuk meramaikan acara galang dana ini. Kami juga mengharapkan kehadiran rekan-rekan untuk bisa berbagi..untuk anak-anak negeri..agar memperkaya hati ini...

Kasus jantung bocor juga kami temui di ruang ICU anak RSCM, seorang balita berusia enam bulan dan berasal dari keluarga (maaf) kurang mampu yang tak memiliki jaminan asuransi. Saudara-saudaraku, dalam acara galang dana ini, marilah kita saling berbagi, dengan nominal sedikit dari yang kita miliki, sungguh sangat berharga untuk mereka. Dukungan dan doa juga memiliki nilai yang sangat berharga dari kita semua.

Ahmad Syauqi, seorang pujangga Arab mengatakan melalui syair yang ditulisnya..”Ibu adalah sekolah, apabila ia mempersiapkannya, dia mempersiapkan masyarakat yang baik keturunannya. Kedekatan fisik dan emosional seorang Ibu dengan anak yang sudah terjalin secara alamiah mulai dari mengandung, menyusui dan masa pengasuhan. Kasih sayang seorang Ibu yang saya yakini juga merupakan jaminan awal untuk tumbuh kembang anak dengan baik dan aman.

Ibu...Surga memang berada di bawah telapak kaki Ibu. Sebagai surga, seyogyanya seorang Ibu memancarkan kenikmatan, kewangian, kelembutan dan kesejukan dalam eksistensi diri seorang Ibu yang senantiasa memelihara, menjaga, dan merawat anak-anak serta keluarganya.

Energi doa Ibu adalah dahsyat. Allah mendengar doa positif Ibu, ucapan seorang Ibu adalah sebuah doa. Doa Ibu mampu mengubah takdir, kekuatan doa Ibu mampu menolak musibah dan Ibu, tahanlah lisan Ibu dari melaknat anak-anakmu, karena Allah mengijabah segala lisan Ibu...

SELAMAT HARI IBU..22 DESEMBER 2011

Wassalam,


Penulis : Risma Inoy
Di sadur dari Facebook

Shafa menghabiskan hari-hari di kamar ICU anak dengan alat bantu pernafasan yang masih terpasang

Halo Daffa , semoga Allah memberikan kekuatan kepada mu dan juga Ibundamu,Nak.. Nur Rahmah Desiana yang juga terserang GBS

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes