26 Apr 2012

Dalam Lubang Penyesalan

Merasa bersalah itu hal yang perlu untuk ada, dan harus ada. karena tidaklah ada satupun dari manusia yang terbebas dari salah, entah itu yang disengaja ataupun tidak, entah itu yang kecil apalagi yang besar, atau dari yang tersembunyi atau yang terang-terangan, semua tak luput dari salah.

Salah tidak selamanya berdosa, tapi dosa pasti berasal dari salah. Dosa apakah yang telah ku perbuat, kesalahan apakah yang telah ku pilih dan ku lakukan. Rabby, Ighfirly dzunubi wa khatiati wasturli bi satrika al jamil (Ya tuhanku, Ampunilah dosa-dosaku, kesalahan-kesalahanku, dan tutupilah semua itu dengan keindahanmu)

Di tempat-tempat terindah tak selamanya membawa keindahan, di tempat bersih tak selamanya membersihkan diri. Di tempat suci bisa saja mematikan, di tempat kotor bisa saja menghidupkan, di tempat najis bisa saja membesarkan.

Dalam keindahan bisa tersirat kekejian syetan merayu manusia, menggoda dan menjerumuskan. Dalam kebersihan tersimpan seribu satu macam noktah hitam hati yang melegamkan. Dalam kesucian menumbuhkan rasa kesombongan diri yang mematikan iblis dari tatanan suci malaikat. Dalam kekotoran, kita belajar mengasah diri dan menjaga hati. Dalam kenajisan, kita berusaha membersihkan diri dan mendekatkan ke sang Ilahi. "Dunia dengan seribu trik keindahannya penjara bagi mukmin muslim dan surga bagi orang kafir."

Aku memang layak dibenci dan dicaci maki walau itu bukan yang ku mau, aku memang layak dihujat namun itu bukan yang diharap. Bencilah, cacilah, dan hujatlah sifat egoku, nafsuku yang telah menjerumuskanku di lembah nista dunia, jurang neraka akhirat. Membawa sekelilingku ke lubang penderitaan.

Sesalku tidaklah bisa mengembalikan yang dulu, harapku, pintaku, tangisku tak kan cukup untuk mengampuni dosa-dosaku padamu.

Ku adukan semua salahku, dosaku. ku berikan semua catatan-catatan burukku. ku linangkan semua air mataku untuk yang telah lalu hanya untuk

Memohon maafmu,
Memohon keihklasanmu,
Memohon ridlomu,

Rabby, Izinkanlah aku memperbaikinya
Rabby, Izinkanlah aku memperbaikinya
Rabby, Berikanlah maaf-Mu dan ampunan-Mu dengan sifat Maghfirah-Mu
Rabby, Curahkan kasih sayang-Mu dengan sifat Rahman dan Rahim-Mu
Robby… La tadzarniy fardan wa anta khoirul waritsin….


@dalamloebangpenyesalan...
In Casablanca


24 Apr 2012

This Is Not My Life

Di seberang jalan sana, terlihat onggokan bangunan tua memanjang, tembok-tembok lusuh tak lagi memamerkan keangkuhannya, kaca-kacanya yang pecah pun tak kuasa menahan malu kejelekannya, kini disekitarnya terlihat bangunan-baru yang megah nan indah.

Dulu bangunan tua yang angkuh penuh kesombongan mampu memamerkan kedigdayaannya kala rakyat masih tertindas. Kala bangsa penjajah masih sibuk cari mangsanya.

Di balik tembok keangkuhan, sebuah pasar tua terasa sepi ditinggalkan pembelinya. Terpampang di depan tulisan "Pasar percontohan". Kini pembelinya pindah ke swalayan dan supermarket "Marjan". Sebuah hasil dari era kapitalisme yang baru.

Itu bukan hidupku,

Aku bukan bajingan, yang bisa menyakiti dan bertindak semau diri, yang bisa kamu bilang "fuck you", hanya bisa merebut dan merampas hak, mengambil dan menindas yang lemah.

Aku bukan pengemis, yang lemah tak berdaya, hanya mengandalkan tangan dari atas untuk yang dibawah, aku bukan orang lemah yang tak bisa mengubah nasibku. Bagaimana bangsaku bila aku lemah, tertindas lalu mati.

Aku bukan pengecut, penakut yang selalu lari dari kenyataan pahit. Mengumpat diri dari masalah, dan kerdil saat tantangan menghadang. Seorang munafik yang berkoar-koar dikamar kecil tempat mengadunya, yang tak kuasa bertanggung jawab atas dirinya.

Aku bukan ayam, yang kala mendekati senja menghilang tak bisa berbuat apa-apa, selalu lari dan bersembunyi saat tantangan anjing menghadangnya. Yang selalu menceker-ceker tanaman dan membiarkannya.

Katakan, aku bukan itu semua, It's not my life.


@disamping gedung tua
Casablanca, 24 Apr... 

23 Apr 2012

Intisari Surat Al Kahfi: Kisah Pemilik Dua Kebun


Kisah Pemilik 2 Kebun merupakan sebuah cerita teladan yang disebutkan di dalam al-Quran pada surat al-Kahfi ayat 32 sampai dengan ayat 44 dari 110 jumlah ayatnya. Cerita ini mengkisahkan dua orang bersaudara yang satu kafir dan yang lainnya mukmin, mengandung i’tibar dan pelajaran yang amat berguna bagi kehidupan manusia.

Cerita ini diterangkan
pada ayat ke 32, dua orang laki-laki dijadikan oleh Allah sebagai perumpamaan untuk menjelaskan kepada orang-orang yang berakal tentang perbedaan antara iman dan kafir, antara hamba yang mulia di sisi Allah dengan hamba yang hina.

Menurut riwayat ada yang mengatakan kedua laki-laki itu adalah bersaudara, penduduk Mekah dari kabilah Bani Makhzum. Yang mukmin bernama Yahuza dan yang kafir bernama Qurtus. Keduanya semula bersama-sama dalam suatu usaha, kemudian berpisah dan membagi kekayaan mereka. Masing-masing menerima ribuan dinar. Yang mukmin mempergunakan uangnya seribu dinar untuk membebaskan budak, seribu dinar untuk membelikan pakaian orang-orang yang terlantar dan seribu dinar lagi untuk membeli makanan bagi orang-orang yang lapar. Adapun yang kafir mempergunakan uangnya untuk kawin dengan seorang wanita kaya, membeli hewan ternak, maka berkembanglah harta kekayaan itu. Sisa uang yang lain digunakan untuk dagang yang selalu membawa laba, sehingga dia menjadi orang yang terkaya di negerinya di waktu itu.

Ketika Yahuza jatuh sengsara dia bermaksud meminta pekerjaan kepada saudaranya yang sudah kaya itu. Maka pergilah dia menemuinya, hampir saja ia tidak berhasil menemuinya karena banyaknya penjaga pintu masuk. Setelah berhasil masuk dan mereka sudah saling mengenal lalu Yahuza menyampaikan permintaannya kepada saudaranya itu yaitu Qurtus. Qurtus menjawab: "Bukankah kamu mendapat separoh dari kekayaan kita? Ke mana saja kekayaanmu itu kau pergunakan? Yahuza menjawab: "Kekayaan itu aku pergunakan untuk keperluan yang paling baik, dan paling kekal di sisi Allah". Berkata Qurtus: "Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang beriman, dan aku sendiri tidak percaya hari kiamat akan terjadi, aku kira kamu benar-benar orang bodoh. Kamu tidak akan memperoleh apa-apa dari aku karena kebodohanmu itu. Apakah kamu tidak melihat usahaku dengan harta sehingga aku menjadi kaya raya dan bahagia seperti yang kamu lihat ini. Demikian itu berkat usahaku, dan kamu sendiri bodoh, pergilah dari sini".

Cerita selanjutnya tentang orang kaya ini dengan segala kebun dan tanamannya diterangkan Allah sebagaimana tersebut dalam Alquran. Kebun yang dimilikinya, kebun anggur sebanyak dua buah kebun itu dikelilingi oleh pohon-pohon kurma dan di antara keduanya ada sebuah ladang tempat bermacam-macam tanam-tanaman dan buah-buahan.

"Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu",(Al Kahfi :33)

Dalam ayat ini, Allah SWT menerangkan tentang keadaan kedua kebun itu yang penuh dengan buah-buahan sepanjang tahun. Demikian pula pohon-pohonan selalu rindang dan tebal. Sedikitpun kedua kebun itu tidak pernah mengalami kemunduran dan kekurangan sepanjang musim. Keduanya selalu memberikan hasil yang membawa kemakmuran kepada pemiliknya. Di tengah-tengah kebun itu mengalir sebuah sungai yang setiap waktu dapat mengairi tanah dan ladang-ladang sekitarnya. Pengairan yang teratur menyebabkan selalu subur, sungai yang mengalir itu benar-benar menambah keindahan kedua kebun itu. Demikian kenikmatan yang besar yang telah dilimpahkan Allah kepada pemiliknya.

"dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika ia bercakap-cakap dengan dia:` Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat".`(Al Kahfi :34)

Kemudian Allah SWT menjelaskan lagi dalam ayat ini bahwa orang itu masih memiliki kekayaan lainnya seperti harta perdagangan emas, perak dan lain-lainnya yang diperolehnya dari penjualan hasil-hasil kebun dan ladang-ladang seperti anggur dan kurma. Benar-benarlah Qurtus berada dalam kehidupan yang mewah, dengan harta kekayaan yang melimpah ruah dan memiliki khadam-khadam, buruh-buruh dan pengawal-pengawal yang berjumlah besar.

Keadaan yang demikian membuat dirinya sombong dan ingkar kepada Tuhan yang memberikan nikmat kebahagiaan itu kepadanya. Berkatalah dia kepada temannya yang beriman kepada Allah dan hari berbangkit: "Aku lebih banyak punya harta daripada kamu, sebagaimana kamu saksikan dan pengikut-pengikutku lebih banyak. Sewaktu-waktu mereka siap mempertahankan diriku dan keluargaku dari musuh-musuhku dan memelihara serta membela hartaku". Dengan perkataannya ini dia mengisyaratkan bahwa seseorang dapat hidup bahagia dan jaya tanpa beriman kepada Tuhan Seru Sekalian Alam. Dia beranggapan bahwa segala kejayaan yang dimilikinya dan segala kenikmatan yang diperolehnya semata-mata berkat kemampuan dirinya. Tiada Tuhan yang dia rasakan turut membantu dan memberi Rezeki dan kenikmatan kepadanya.

"Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata:` Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya",(Al Kahfi :35)

Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan memasuki kebunnya bersama saudaranya itu dan menyatakan lagi kepada saudaranya yang mukmin itu sambil menunjuk kepada kebunnya bahwa kebun-kebunnya itu tidak akan binasa selama-lamanya.

Ada dua sebab yang mendorongnya berkata demikian:
Pertama: Kepercayaan yang penuh terhadap kemampuan tenaga manusia untuk memelihara kebun-kebun itu, sehingga selamat dari kebinasaan. Dengan kekayaannya berupa mas dan perak sebagai modal, dan tenaga manusia yang berpengalaman dan berpengetahuan tentang perawatan dan pemeliharaan tanaman dan kebun, dia percaya sanggup menjaga kelestarian dan keindahan dan kesuburan kebun dan tanam-tanamannya. Ia sama sekali tidak menginsafi keterbatasan tenaga dan akal manusia dan dia tidak percaya bahwa ada kekuatan gaib yang kuasa berbuat sesuatu terhadap segala kekayaannya itu.

Kedua : Kepercayaan akan keabadian alam dan zaman. Dia berkeyakinan segala yang maujud ini kekal abadi. Tidak ada yang musnah dalam alam ini, yang terjadi hanyalah perubahan-perubahan dan pergantian menurut hukum yang berlaku. Tapi adanya air, tumbuh-tumbuhan, tanah dan lain-lainnya tidak akan putus-putusnya. Demikianlah pandangan pemilik kebun itu.

Sesungguhnya dia dalam hal demikian itu telah berbuat lalim terhadap dirinya sendiri. Dia tidak jujur terhadap dirinya. Seharusnya dia bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan segala kenikmatan kepadanya. Tiada seorangpun yang hidup bahagia dalam dunia ini hanya berdiri di atas kaki sendiri, tanpa bantuan atau kerjasama dengan orang lain. Mengapa dia menyombongkan diri pada hal dia sebenarnya menyadari hal demikian itu. Mengapa dia ingkar kepada Tuhan, pada hal dia ikut menyadari, ikut terlibat dalam perubahan alam itu sendiri, mengapa dia tidak mau mengakui siapakah sebenarnya yang menciptakan perubahan-perubahan dalam alam ini dan yang menciptakan hukum-hukum perubahan itu. Mengapa dia tidak jujur terhadap pengakuan hati nuraninya sendiri akan adanya Tuhan Yang Maha Pencipta? Sesungguhnya sikap demikian suatu kelaliman yang besar.

"Dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu".`(Al Kahfi :36)

Dalam ayat ini, Allah meneruskan apa yang diucapkan pemilik kebun itu kepada saudaranya yang mukmin. Dia menegaskan ketidak percayaannya bahwa hari kiamat itu akan datang. Sekiranya hari kiamat itu datang dan aku dikembalikan kepada Tuhan, tentulah aku akan dapat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebunku itu di dunia ini. Sikap pemilik kebun itu menunjukkan pahamnya tentang keabadian alam dan keingkaran akan adanya hari kiamat (hari akhir). Menurut dugaannya, seumpamanya dia dikembalikan kepada Tuhan, tentulah di akhirat dia mendapatkan kebun-kebun yang lebih baik daripada kebun-kebunnya di dunia ini. Dugaan ini didasarkan atas pengalamannya bahwa kedua kebun yang dimilikinya yang dipercayakan Tuhan kepadanya tidak bisa lain kecuali dikarenakan kesanggupannya dan kewajarannya yang memilikinya. Oleh karena itu di mana saja dan di waktu mana saja kemustahakkan itu selain menyertai dia. Allah SWT menggambarkan pula tentang sifat orang kafir ini dalam ayat yang lain dengan firman Nya:

"Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku maka aku akan memperoleh kebaikan pada sisi Nya." (Q.S. Fussilat: 50)

Ucapan yang membawa kepada kekafiran ialah: pertama, pengakuannya tentang keabadian alam, kedua: tentang tidak adanya kebangkitan manusia dari kubur, dan ketiga: anggapannya bahwa ganjaran di akhirat dicerminkan oleh keadaan di dunia. Pandangan terhadap keabadian alam ini, meniadakan keputusan-keputusan dan kehendak Tuhan Pencipta Alam. Keingkarannya terhadap kebangkitan manusia dari kubur menunjukkan bahwa dia meniadakan kodrat Tuhan untuk mengembalikan manusia kepada aslinya. Sedang anggapannya yang terakhir itu meniadakan hikmah Ilahiyah. Pandangan bahwa ganjaran alam akhirat dicerminkan oleh kehidupan dunia, misalnya bilamana seseorang dalam dunia hidup sebagai tukang kebun, maka ganjaran di akhiratpun baginya sebagai tukang kebun atau lebih dari pada itu, adalah suatu pandangan kepercayaan primitip, atau kepercayaan yang berdasarkan kebudayaan. Kepercayaan demikian berlawanan dengan agama yang bersumber pada wahyu. Allah SWT mempunyai kebijaksanaan dalam memberikan ganjaran kepada hamba-hamba Nya.

"Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya:` Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?"(Al Kahfi :37)

Dalam ayat ini, Allah SWT menerangkan jawaban Yahuza untuk membantah pikiran-pikiran pemilik kebun yang kafir itu. Qurtus pemilik kebun yang kaya itu memandang Yahuza rendah karena kemiskinannya, maka sebaliknya Yahuza memandang Qurtus pemilik kebun itu rendah karena kekafirannya. Dalam percakapannya dengan Qurtus, dia menyatakan bahwa tidaklah patut dia mengingkari kekuasaan Allah yang menciptakan dirinya dari tanah? Bukankah makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan atau dari hewan itu dari tanah? Dari makanan dan minuman itu terdapat sel-sel yang akhirnya membentuk nutfah. Nutfah berkembang tahap demi tahap karena mendapat makanan baik dari protein nabati ataupun hewani, terus tumbuh dan berkembang, sehingga menjadi seorang laki-laki seperti Qurtus. Bagaimana seseorang dapat mengingkari kekuasaan Tuhan sedang kejadiannya sendiri menunjukkan dengan jelas kepada adanya kekuasaan Tuhan. Setiap insan sadar akan dirinya, bahwa pada mulanya dia tidak ada, kemudian menjadi ada. Tidaklah mungkin kehadirannya ke alam wujud ini dihubungkan dengan dirinya. Maka satu-satunya Zat yang menjadi arah bagi yang menghubungkan kejadiannya itu ialah Penciptanya yaitu Allah Rabbul Alamin.

Dari penjelasan proses kejadian manusia ini, Allah SWT menginsafkan manusia kepada kekuasaan Nya untuk membangkitkan manusia pada hari kiamat. Firman Allah SWT yang Artinya:

"Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani". (Q.S. Al Hajj: 5)

"Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku." (Al Kahfi :38)

Dari ayat ini, Allah SWT menerangkan pernyataan Yahuza kepada temannya yang kafir itu, berkata Qurtus bahwa dia tidak sependapat dengan temannya itu. Dia berkeyakinan tidak ada Tuhan yang disembah kecuali Dia. Allah yang memelihara makhluk semesta, Yang Maha Esa lagi Maha Kuasa. Dia mengatakan pula bahwa dia tidak mempersekutukan Tuhan dengan seseorangpun, sebagaimana temannya itu yang memandang Tuhan tidak kuasa membangkitkan ia dari kubur. Pendirian temannya itu sama sekali tidak dapat diterimanya, karena memandang Tuhan lemah dan keadaannya sama dengan makhluk, berarti hal demikian adalah sama dengan syirik. Sikap Yahuza yang tegas di hadapan temannya yang kaya itu sangatlah terpuji, meskipun dia dalam keadaan fakir yang berkedudukan sebagai seorang yang meminta pekerjaan, namun dengan penuh keberanian, dia menyatakan perbedaan identitas (hakikat) pribadinya, yaitu perbedaan yang menyangkut akidah, yaitu keimanan kepada Tuhan.

"Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu `MAA SYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH` (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan," (Al Kahfi :39)

Kemudian Yahuza meneruskan kata-katanya kepada saudaranya itu: "Seharusnya kamu mengucapkan syukur kepada Tuhan sewaktu kamu memasuki kebun-kebun dan merasakan kagum terhadap keindahannya. Mengapa kamu tidak mengucapkan pujian kepada Tuhan atas segala nikmat yang telah dilimpahkan Nya kepadamu, berupa harta, anak yang banyak yang belum pernah diberikan Nya kepada orang lain.

Katakanlah: "Masya Allah" ketika itu, sebagai tanda pengakuan atas kelemahanmu di hadapan Tuhan, dan bahwa segala yang ada itu tidak mungkin terwujud tanpa izin dan kemurahan Allah SWT. Di tangan Nyalah nasib kebun-kebun itu. Di suburkannya menurut kehendak-Nya ataupun di hancurkan-Nya menurut kehendak-Nya mengapa pula kamu tidak mengucapkan La quwwata illa billahi (tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah) sebagai tanda pengakuan bahwa tidak ada kekuatan yang dapat memakmurkannya dan mengurusnya kecuali dengan pertolongan Allah swt. Ayat ini mengandung pelajaran tentang zikir yang baik diamalkan. Nabi Muhammad saw. bersabda kepada sahabatnya abu Hurairah:

ألا أدلك على كنز من كنوز العرش تحت العرش قال قلت فداك أبي وأمي قال: أن تقول لا قوة إلا بالله
Artinya:
Perhatikanlah! Maukah aku tunjukkan kepadamu suatu perbendaharaan surga yang terletak di bawah arasy? Aku menjawab, "Ya" Rasulullah berkata, "Supaya kamu membaca La quwata illa billahi" (H.R. Imam Ahmad dari Abu Hurairah)

Demikian pula banyak hadis-hadis Rasulullah saw. mengajarkan kepada ummatnya sewaktu mendapat nikmat dari Allah supaya dia mengucapkan bacaan itu. Rasulullah saw. bersabda,

ما أنعم الله على عبد نعمة في أهل أو مال أو ولد فيقول ما شاء الله لا قوة إلا بالله إلا دفع الله تعالى عنه كل أفة حتى تأتيه منيته وقرأ لولا إذ دخلت
Artinya:
Setiap Allah swt. memberikan kepada seorang hamba nikmat pada keluarga, harta atau anak, lalu dia mengucapkan "Masya Allah la quwata illa billai" tentulah Allah menghindarkan dia dari segala bencana sampai kematiannya. Lalu Rasulullah saw. membaca ayat 39 surah Al Kahfi ini. (H.R. Baihaqi, Ibnu Mardawaih dari Anas r.a.)

Setelah Yahuza selesai menasihati saudaranya yang kafir itu supaya beriman dan sudah pula dia menjelaskan tentang kekuasaan Allah SWT, mulailah dia menanggapi perkataan saudaranya yang membanggakan harta dan orang-orangnya. Yahuza berkata: "Jika kamu memandang aku lebih miskin dari pada kamu, baik mengenai harta kekayaan, maupun mengenai anak buah, maka tidaklah mengapa bagiku".

"Maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu, hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin. atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi "(Al Kahfi :40-41)

Namun aku mengharapkan kiranya Tuhan merubah keadaanku, memberi aku kekayaan dan menganugerahkan aku kebun yang lebih baik daripada kebunmu karena imanku kepada-Nya, sebaliknya Allah SWT akan melenyapkan kenikmatan yang diberikan-Nya kepadamu, disebabkan kekafiranmu, dan Dia akan menghancurkan kebun-kebunmu, dengan mengirim petir dari langit yang membakar habis kebun-kebunmu, sehingga menjadilah tanah tandus yang licin, atau Tuhan menghancurkan kebun-kebun itu dengan bencana dari bumi dengan jalan mengisap air yang mengalir di kebun-kebun itu masuk ke dalam perut bumi, sehingga kamu tak dapat berbuat apa-apa untuk mencari air itu kembali.

Demikianlah harapan Yahuza yang mukmin itu, kiranya Tuhan memperlihatkan kekuasaan-Nya secara nyata kepada orang yang kafir lagi sombong; sehingga dengan turunnya hukuman itu baik berupa bencana dari langit ataupun dari bumi, manusia yang kafir itu menjadi sadar.

"Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu ia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap biaya yang telah dibelanjakannya untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata:` Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku `".(Al Kahfi :42)

Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa apa yang diharapkan Yahuza itu akan segera menjadi kenyataan. Allah SWT kemudian membinasakan segala harta kekayaan Qurtus yang kafir itu. Tadinya ia mengatakan dengan penuh kesombongan bahwa kebun-kebunnya itu tidak akan binasa selama-lamanya. Tetapi setelah dia menyaksikan kehancuran harta kekayaannya itu timbullah kesedihan dan penyesalan yang mendalam, sambil membolak-balikkan dua telapak tangannya, tanda menyesal terhadap lenyapnya segala biaya yang dibelanjakannya selama ini, untuk membangun kebun-kebun itu. Semua tanaman itu dan pohon-pohon anggur dalam kebun itu runtuh bersama para-paranya. Pada saat kesedihannya yang memuncak itu teringatlah dia kepada nasihat dan ajaran saudaranya, maka mengertilah ia bahwa bencana itu datang karena kemusyrikan dan kezalimannya terhadap dirinya sendiri. Lalu keluarlah kata-kata penyesalan dari mulutnya "Aduhai kiranya aku beriman dan bersyukur, tentulah Tuhan tidak akan menghancurkan kebun-kebunku."

Kata-kata penyesalan yang demikian, lahir dari seorang yang sudah berada dalam kesulitan yang besar yang tak terelakkan lagi oleh dirinya. Semua orang bila terjepit dan berada dalam bencana, dia mengeluh dan keluarlah dari mulutnya kata-kata yang mencerminkan penyesalannya yang mendalam, sedang jika tidak terjepit atau tidak dalam kesengsaraan, dia tidak akan mengeluarkan kata-kata demikian.
Firman Allah SWT:

فَلَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا قَالُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَحْدَهُ وَكَفَرْنَا بِمَا كُنَّا بِهِ مُشْرِكِينَ
Artinya:
Maka tatkala mereka melihat azab Kami mereka berkata: "Kami beriman hanya kepada Allah saja dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah". (Q.S. Al Mu'min: 84)

"Dan tidak ada bagi dia segolonganpun yang akan menolongnya selain Allah; dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya. Di sana pertolongan itu hanya dari Allah Yang Hak. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan".(Al Kahfi :43-44)

Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa tidak ada segolongan orang yang sanggup menolong pemilik kebun itu, baik itu keluarganya, pengawalnya, buruh-buruhnya, anak-anaknya, ataupun siapa saja yang tadinya adalah menjadi kebanggaannya. Hanyalah Tuhan yang dapat menolongnya dari kehancuran dan kebinasaan. Sedang orang itu sendiri tidak dapat menolong dirinya dengan kekuatan yang ada padanya untuk membela harta kekayaan dan hukuman Tuhan.

Kemudian Allah SWT menegaskan dalam ayat selanjutnya, bahwa dalam kesulitan dan kesengsaraan seperti yang dialami oleh pemilik kebun-kebun itu benar benar hanyalah Allah sendiri yang mempunyai hak dan kekuatan untuk memberikan pertolongan. Tetapi pertolongan itu hanya diberikan kepada orang-orang yang beriman kepada Nya yang mensyukuri nikmat Nya dan taat serta patuh kepada perintah Nya. Tuhan akan membela dan menenteramkan hati mereka serta menyelamatkan mereka dari segala macam muslihat dan tipu daya musuh-musuh mereka. Dialah yang paling baik dalam memberi pahala dan balasan.

@Intisari Al-Quran dari berbagai kitab tafsir.

Dimanakah, Anak Muda di Subuh Hari?

Beningnya waktu subuh kini mulai terpinggirkan, sambil menunggu kedigdayaan mentari pagi mengganyang setiap sisa-sisa dari gelap malam. Terdengar suara corong-corong speaker dari ujung menara di pojokan masjid, sesekali diiringi dengan lolongan anjing, kadang pula raungan suara mesin mobil tua yang lewat, membangunkan kemalasan dari diri di balik selimut.

Beningnya waktu subuh kini mulai tercampakkan, hanya sedikit saja orang yang mengindahkan panggilan sang tuhannya untuk melapor diri. Sedangkan sisa dari manusia sebanyak bintang masih terasik-masik menggeliat, mengulet-kan tubuh di lilitan selimutnya, meneruskan rayuan-rayuan mimpi, gombalan dari bunga tidur semalam.

Indahnya waktu subuh, sedikit terpaksa ku gerakkan tangan menggapai saklar, mengucek-ucek mata sambil berdoa "A'udzubillah min assyaitanirrajim". Mengambil air, sedikit mencipratkan ke muka mengusir syetan.

Teringat masa kecil yang selalu di paksa bangun dengan sekali panggilan bapak, "Ayo.. bangun, berangkat ke masjid" sekarang tak terdengar kembali terpisah jarak dan  umur. Mungkin dengan dewasanya masa tak merasa perlu untuk diingatkan seperti kala kecil. Namun mesti begitu, masih kurindukan panggilan itu.

Geliat suara corong-corong di menara masjid masih terdengar mengusik si pemalas. Suaranya masih terasa aneh dan hambar untuk didengar seperti baca mantra sunat. Memang itulah suara kakek tua yang sudah ingat mati, kemanakah anak-anak muda mereka. Tak adakah pengganti yang meneruskan tradisinya.

Suara tasbih dari ujung langit dan pojok bumi, masih terkirim dengan indah. Awan, angin, air batu, pohon, bahkan semut masih setia mengingati tasbih di subuh hari.

Tapi kemanakah si anak muda itu, tak terlihat kehadiran tasbih darinya memuja kesucian Yang Maha Suci. "Masih di balik selimut dengan pulas" teriak nyamuk sambil menghisap darah segarnya si pemuda itu.



Casablanca, 23 April
@Menanti subuh.
Menara Masjid di subuh hari


22 Apr 2012

Baca Al-Quran atau Buka Facebook...?

Cobalah kita berkata jujur pada diri sendiri, sebelum berkata jujur kepada orang lain. Manakah yang lebih banyak anda buka tiap hari antara Al-Quran atau Facebook..? Cobalah ingat-ingat kembali, berapa kali anda login ke Facebook dalam sehari dan berapa kali anda membuka Al-Quran?

Masih adakah kejujuran dalam diri kita, adakah yang salah dengan tingkah kita atau pola pikir kita yang salah.

Manakah yang menjadi pegangan dan panduan hidup, dan mana pula yang bisa memberi hidayah, Al-Quran kah atau Facebook kah?

Berapa lama kita menghadap ke depan layar monitor, dibandingkan kita menghadap kiblat merenungi ayat-ayat yang luar biasa?

Berapa banyak orang yang percaya pada pepatah populer "Waktu adalah Emas" namun mereka lupa berapa lama waktu yang dihabiskan untuk mengotak-atik depan layar Facebook.  Sungguh merugi karena emas yang ia percaya telah pergi karena kelalaiannya.

Yahya bin Hubairah pernah berkata : “Waktu adalah hal paling berharga yang  mesti kau jaga, namun aku memandangnya sesuatu yang mudah sekali lenyap.”

Ingatlah !!!

Kita harus ingat, bahwa pada hari kiamat kita akan ditanya bagaimana kita menghabiskan hidup kita dan waktu kita. Dengan kata lain, kita akan ditanyai tentang bagaimana kita menghabiskan segala sesuatu yang Allah berikan kepada kita seperti tersirat dalam hadis berikut. Diriwayatkan Abdullah Bin Mas`ud Rasulullah (saw) bersabda:

 “ Seorang hamba tidak dapat beranjak dari hadapan Rabbnya di Hari Kiamat kelak  hingga  ia ditanya tentang lima perkara : tentang umur bagaimana ia menghabiskannya, masa muda  bagaimana ia menggunakannya, harta dari mana ia memperolehnya dan dalam rangka apa ia memakainya (dalam ketaatan ataukah kemaksiatan),serta apa yang sudah  ia amalkan dari ilmunya.” {H.R. Tirmidzi dan berkata hadist hasan shahih pada Kitab Sifat Al-Qiyamah}

Al-Quran lah yang telah diturunkan sebagai pegangan hidup untuk mencapai kebahagian tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Hanya dalam Al-Quran lah terkandung hukum yang mengandung tingkah laku manusia, tata cara berprilaku dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, serta banyak lainnya yang akan menuntun manusia dalam melangkah.

Al-Quran diturunkan untuk menuntun manusia dalam menjalankan kehidupan, dan menjadikannya sebagai pegangan hidup guna mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Tapi mengapa sekarang malah ditinggalkan dan dikalahkan oleh Facebook dengan iming-iming dunianya.

Umat Islam bisa mengapai puncak kejayaan dan kemajuan dalam berbagai bidang karena berpengang teguh pada Al-Quran dan sunah Rasul, bukan FB. 

Mengapa Al-Quran!!

"Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.".(Al-Israa':82(.

Rasulullah SAW bersabda: "Siapa yang membaca Al Quran, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari Kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini: dijawab: "karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Quran".

Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab sahihnya dari Utsman r.a. bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya".

Dari Abu Umamah ra. dia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, "Bacalah Al Qur'an sesungguhnya ia akan datang di hari Kiamat menjadi syafaat (penolong) bagi pembacanya." (Riwayat Muslim)

Dari Aisyah ra. telah berkata: Rasulullah saw. bersabda, "Orang yang membaca Al Qur'an dengan terbata-bata karena susah, akan mendapat dua pahala." (Riwayat Bukhari & Muslim)
Dari Umar bin al Khatthab ra. bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah mengangkat (martabat) sebagian orang dan merendahkan sebagian lainnya dengan sebab Al Qur'an." (Riwayat Muslim)

Dari Ibnu Mas'ud ra. ia berkata: Barangsiapa membaca satu huruf dari Al Qur'an maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan sama dengan sepuluh pahala, aku tidak bermaksud 'Alif, Laam, Miim' satu huruf, melainkan Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.(Riwayat Ad Darami dan Tirmizi, beliau berkata hadits ini hasan sahih)

Bersama kita bertekad untuk memperbanyak dan mentadabburi  Al Quran serta menjadi generasi tiada hari tanpa Al Qur'an.
 
Mari kita renungkan pesan dari lbnu Mas’ud ra, berkata: "Kami sulit menghapal lafadh Al-Quran tapi mudah mengamalkannya sedang orang sesudah kami mudah untuk menghapal tapi sulit mengamalkannya."


Wallohu a'lam bisshowab.

Casablanca, 22 April 2012
@Merenung atas keterpurukan

Kataku Bukan Katamu

Kawan, Percayalah semua tidak akan pernah berhasil sebelum kita memulainya. Jadi mulailah dari sekarang dan dari yang kecil. Rencana yang besar hanya tinggal bualan dalam buku lusuh bila kita tak segera memulainya.

Kawan, Semuanya tidak akan pernah selesai selagi masih ada kata tinggal, walaupun itu sedikit (tinggal sedikit) berarti sudah selesai,  ternyata belum. Kerjakan dan jangan sisakan kata tinggal, semua insyaAllah beres.

Selagi kita belum memulai, selagi kita masih menyisakan kata tinggal, maka semuanya tidak akan pernah sempurna, tidak akan pernah berhasil dan tidak akan selesai.
….

Biarkanlah yang besar itu besar kepala, itu hal wajar. Dan biarkan yang kecil itu kerdil, hal yang wajar pula. Namun bila yang kecil besar kepala , itu kurang ajar.

Tapi, bukan berarti setiap hal yang wajar kita ikuti. Bila orang besar merendah hati itu luar biasa. Dan bila orang kecil punya jiwa besar, iapun luar biasa.

Jadi biarkanlah hal-hal wajar itu tetap berlaku, tetapi anda harus tetap belajar menjadi orang yang diluar kewajaran itu biar LUAR BIASA
….

Bila orang merasa benar, maka ia akan melibas yang menentangnya. Mempertahankan pendapat egonya. Memang, kebenaran hanya ada dua. Benar menurut manusia karena sifat egonya, dan benar menurut tuhan karena sifat ke-Maha Tahuan-Nya dan itulah yang benar hakiki.
….

Kesalahan itu hal yang biasa, tapi bukan berarti salah karena ia bersalah, Mungkin karena ia disalahkan. 

Dan tidak seharusnya semua yang bersalah harus di beri hukuman. Mungkin saja ia bersalah karena ketidaktahuannya atau kebodohannya. Jadi kenapa mesti di hukum. 

Ajari saja mereka tentang salah, tentang benar, hingga mereka menyadari dan mengetahui arti kesalahan.
….

Apa yang menurutku belum tetu menurutmu. Apa katamu belum tentu kataku. Aku punya kata, kamu pun punya. Buat apa saling mengatain.? Biar saja, supaya saling mengerti. Tapi tidak untuk dipaksakan.


Casablanca, 22 April 2012  
@katahatimusaja>>>

19 Apr 2012

Peringatan dari Ajal

Setiap kejadian yang ada dalam kehidupan manusia, di belakangnya selalu terselip hikmah yang bisa diambil dan dijadikan pelajaran untuk setiap orang yang berakal. Sebut saja sebagai contoh adalah ajal atau kematian, berpisahnya ruh dari jasad.
Betapa seringnya kita mendengar si fulan telah tiada, si fulanah telah berpulang ke hadapan sang ilahi dan seterusnya, hingga orang-orang terdekat kita ntah itu saudara, tetangga, karib kerabat, bahkan orang yang sangat dicintai ibu-bapak kita.
Sudahkah kita sadar dengan peringatan-peringatan itu. Cukupkanlah sampai disini, berbuat dan bertaubat sebelum giliran itu datang ke diri kita, sebelum jasad dan ruh terpisah, dan nafas tidak lagi bisa masuk ke lubang hidung dan mata terpejam dari duniaa untuk selamanya.
Dalam sebuah riwayat Imam Bukhari, dari Shahabat Anas ra berkata, ”Nabi membuat garis seraya bersabda, ’Ini manusia, ini angan-angannya, sedangkan ini ajalnya. Ketika dia sedang berada dalam angan-angan, tiba-tiba datanglah kepadanya garisnya yang paling dekat.’ Maksud dari ’garisnya yang paling dekat’ adalah ajal kematiannya.
Kalau datang waktu sore jangan menanti waktu pagi. Kalau tiba waktu pagi jangan menanti waktu sore. Gunakan sebaik-baiknya waktu sehatmu untuk waktu sakitmu dan masa hidupmu untuk waktu matimu.” Ini adalah ungkapan yang penuh makna dari Shahabat Ibnu Umar ra.
Sungguh waktu dan usia kehidupan dunia sangatlah pendek. Oleh karena itu Ibnu Umar menasihati kita agar bersegera dalam beramal dan tidak suka menunda-nunda hingga tanpa sadar ajal tiba-tiba menjemput kita.
Imam Ghozali bertanya pada para muridnya "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?".
Murid-muridnya ada yang menjawab ayah ibu kita, guru, teman, dan kerabat dan sahabat. Kemudian Hujjatul Islam al-Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. tetapi yang paling dekat dengan kita adalah ajal atau "keMATIan". Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.
Kematian itu Allah yang menentukan
Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa),kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu.(Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).(QS.Al Mu'min-67)
Katakanlah: "Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah." Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya).(QS.Yunus-49)
Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).(QS.Al An'aam-2)
Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).(QS.Az Zumar-30)
Sesungguhnya Allah,hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim.Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok.Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS.Luqman-34)
Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang." Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.(QS.An NIssa-18)
dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).(QS.Al Hijr-99)
Dan sekiranya tidak ada suatu ketetapan dari Allah yang telah terdahulu atau tidak ada ajal yang telah ditentukan,pasti (azab itu) menimpa mereka.(QS.Thaahaa-129)
Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.(QS.Fathir-45)
Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar;maka meskipun Kami perlihatkan kepadamu sebagian siksa yang Kami ancamkan kepada mereka ataupun Kami wafatkan kamu (sebelum ajal menimpa mereka), namun kepada Kami sajalah mereka dikembalikan. (QS.Al Mu'min-77)
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.(QS.AlAnkabut-57)
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.
(QS.AL Anbiya-35)
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.(QS.Ali Imran-185)
Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS.Ali Imran-145)
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS.Ali Imran-102
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,(QS.Al Qiyamah-40)
Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan."(QS.As Sajdah-11)
Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.(QS.Qaaf- 19).
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan.Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.(QS.Az Zumar-42)

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes