Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

28 Jun 2014

Romance Keindahan Ramadhan di Maroko






Masjid Hassan II di Casabanca - Maroko
Mamlakah al Maghribiyyah kami menyebutnya dalam bahasa arab, sedangkan dalam bahasa perancis biasa disebut Royaume du Maroc yang artinya Kerajaan Maroko. Sebuah negara Islam yang menganut sistem kerajaan, terletak di ujung barat bagian utara benua afrika, tepat dibawah Spanyol, sekitar 14 km jarak laut yang memisahkan keduanya.

Pemerintah kerajaan dibawah komando Raja Mohamed VI sudah memutuskan bahwa puasa ramadhan 1435 H, jatuh bertepatan hari Ahad, 29 Juni 2014. Semoga kita masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk menunaikannya hingga sempurna.

Walau masih ada satu hari untuk sampai pada bulan ramadhan, namun suasana keharu-gembiraan telah Nampak dan terpancar diwajah para muslimin Maroko yang sebagian besar menganut madzhab fikih Maliki ini. Begitupun dengan saya yangberharap Ramadhan kali ini benar-benar membawa berkah dan bisa menikmati indahnya lailatul Qadar.

Ini adalah puasa ramadhanku yang ke tujuh insya Allah di tanah negeri matahari terbenam semenjak kedatanganku di awal 2008. Tak terasa belum lama kita mengucap perpisahan dengan bulan Ramadhan tahun lalu, sekarang kita sudah menjemput kembali tamu Mulia ini. Sungguh cepatnya waktu itu berlalu satu tahun putaran penuh telah hilang berganti, namun masihkah kita kembali seperti biasa menjalani dosa diantara tahun-tahun itu. Inilah kesempatan kita untuk melebur dosa-dosa itu, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW : “ Shalat lima waktu dan shalat Jum'at ke Jum'at berikutnya, Ramadhan ke Ramadhan berikutnya adalah penghapus untuk dosa antara keduanya apabila dia menjauhi dosa besar” (HR. Muslim).

Romance keindahan berpuasa Ramadhan di Maroko sungguh terasa, disinilah kami diajarkan arti puasa itu ibadah, bukan sekedar rutinitas tahuhan. Yah, Berpuasa memang harus didasari ikhlas mengharap ridho Ilahi. Di Maroko yang kini memasuki musim panas, kami harus berpuasa selama 17 jam atau lebih 4 jam dari sahabat fillah yang berada di Indonesia, mulai dari terbit fajar shidik jam 3.35 menahan haus dan lapar, menjaga lidah, mata dan telingan untuk menjaga ucapan, pandangan dan pendengaran dari hal-hal yang menghilangkan berkah puasa sampai matahari tenggelam pukul 20.00 GMT.

Benar-benar sebuah keindahan bulan Ramadhan, malam yang singkat berkisar 7 jam, di gunakan seutuhnya untuk beribadah, dimulai berbuka dengan sedikit kurma dan air, lalu shalat fardhu dilanjutkan shalat tarawih, sampe pukul 11 malam, dilanjutkan makan malam besar, istirahat sebentar, dilanjutkan berwirid bagi sebagian muslimin, dan berbekal sedikit kurma untuk mengganjal perut dikala sahur, para muslimin umumnya berangkat kembali ke masjid untuk melanjutkan shalat malam berjamaah atau tarawih kedua sampai adzan subuh berkumandang. Ya inilah kehebatannya, shalat  tarawih dibagi dalam dua waktu, selepas shalat isya dengan menyelesaikan bacaan satu hizb atau setengah juz, dilanjutkan sebelum subuh juga dengan bacaan satu hizb, hingga dalam satu malam menyelesaikan satu juz.

Di Maroko, kami juga diajarkan puasa itu berbagi, yah bagi yang mampu memberikan makanan kepada yang berpuasa untuk berbuka, mereka berbondong-bondong mengharap  mendapat pahala ramadhan yang berlipat ganda dengan bersedekah, dengan memberi makan kala berbuka dan sahur, serta untuk mereka yang beri’tikaf di Masjid.

Ternyata tidak sampai disitu, Romance keindahan Ramadhan di Maroko pun terdengar dari indahnya bacaan-bacaan imam shalat tarawih di masjid-masjid. Salah satunya adalah masjid Hassan 2, masjid termegah dan salah satu masjid terbesar didunia yang memiliki menara masjid tertinggi. Sesekali saya pun menyempatkan shalat tarawih dimasjid tersebut yang berada di pinggir pantai dengan angin sejuk menunjukan kebesaran Tuhan Semesta. Memang masjid ini dibangun sepertiganya berada diatas permukaan laut, diatas menara kala malam terpancar sinar hijau yang menuju kearah kiblat, seolah menghubungkan antara Masjid Hassan 2 dengan Masjidil Haram.
Interior Masjid Hassan II

Mungkin inilah Ramadhan terakhirku di Maroko, menjadi akan sangat terkenang menghiasi perjalanan hidup indah ini selama menempuh pendidikan menuntut ilmu di Univ. Ibn Tofail-Kenitra dan Univ. Hassan II – Casablanca, setelah selesai pendidikan S2 tahun ini, Insya Allah langsung menuju tanah air Indonesia, Amin. Semoga masih diberikan kesempatan oleh Yang Maha Kuasa untuk menunaikan dan menyempurnakan Ramadhan tahun ini dan tahun-tahun berikutnya.

1 Jun 2013

Hadist : 7 Golongan yang di Lindungi Allah Pada Hari Kiyamat

Ma’syiral Muslimin Rahimakumullah


Setelah kita mengucapkan kalimat tahmid, dan kalimat tahlil sebagai bentuk sanjungan dan pujian kita kepada Dzat satu-satunya tempat kita menggantungkan diri dari segala sesuatu, maka tiada kata dan ungkapan yang sepatutnya kita sampaikan dalam majelis yang mulia ini melainkan washiyatut taqwa, yaitu satu kalimat yang dengannya Allah Subhaanahu wa Ta’ala telah menyebutkan dalam sekian banyak ayat, dan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun seringkali memberikan washiyat kepada para shahabatnya dalam khutbah-khutbahnya dengan kalimat tersebut, sebagaimana yang pernah beliau sampaikan  kepada dua orang sahabat yang bernama Abu Dzar dan Mu’ad bin Jabal dalam riwayat at-Tirmidzi beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bersabda:


اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَاَتْبِعِ السَّيِّئَةَ اْلحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ


“Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, dan barengilah perbuatan yang buruk dengan perbuatan yang baik dan berakhlak baiklah kepada semua manusia” (HR. at-Tirmudzi).


Hadits yang mulia ini, jelas-jelas telah memberikan penjelasan kepada kita bahwa ketaqwaan itu tidak terbatas pada waktu dan tempat tertentu. Namun demikian apa yang dipahami oleh para sahabat dari kalimat yang agung ini tidaklah sesederhana yang kita pahami, sebagai kalimat yang sering kita dengar, mudah kita ucapkan, namun kita acapkali susah dalam mencernanya apalagi merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Umar bin Khathab radhiayallahu 'anhu pernah mengatakan dalam Riwayat shahih,


التَّقْوَى هُوَ اْلخَوْفُ بِاْلجَلِيلِ وَاْلعَمَلُ بِالتَّنْزِيلِ وَالرِّضَى بِالْقَلِيلِ وَاْلاِسْتِعْدَادِ بِيَوْمِ الرَّحِيلِ.


“At-Taqwa adalah perasaan takut kepada Allah, beramal dengan apa yang datang dari Allah dan Nabi-Nya, merasa cukup dengan apa yang ada, dan mempersiapkan diri dalam menghadapi hari akhir.”


Maa’syiral Muslimin Rahimakumullah


عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ، فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ، الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ، اجْتَمَعَا عَلَيْهِ، وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ، وَجَمَالٍ، فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى، حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا، فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ.) أخرجه البخاري ومسلم .)


Sabda Rasulullah saw : “Tujuh Golongan yg dinaungi Allah dihari kiamat yg tiada tempat berteduh selain yg diizinkan Nya swt, Pemimpin yg Adil, dan pemuda yg tumbuh dengan beribadah pd Tuhannya, dan orang yg mencintai masjid, dan dua orang yg saling menyayangi karena Allah, bersatu karena Allah dan berpisah karena Allah, dan orang yg diajak berbuat hina oleh wanita cantik dan kaya namun ia berkata : Aku Takut pd Allah, dan pria yg sedekah dg sembunyi2, dan orang yg ketika mengingat Allah dalam kesendirian berlinang airmatanya” (HR. Bukhari dan Muslim)


pada hadist di atas yang diriwayatkan oleh imam bukhari dan muslim, Rasulullah SAW telah memberitahukan kepada kita umatnya, bahwa pada hari kiyamat, hari pembuktian di hadapan Allah ta’ala.

 يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلاً


“Manusia akan dikumpulkan pada hari Kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian dan belum dikhitan.” (Hadits shohih. diriwayatkan oleh Muslim, no. 5102 dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha). manusia dikumpulkan di padang Mahsyar, matahari didekatkan sejauh satu mil dari mereka, sehingga manusia berkeringat, hingga keringat tersebut menenggelamkan mereka sesuai dengan amalan masing-masing ketika di dunia.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Pada hari kiamat, matahari didekatkan jaraknya terhadap makhluk hingga tinggal sejauh satu mil.” –Sulaim bin Amir (perawi hadits ini) berkata: “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan mil. Apakah ukuran jarak perjalanan, atau alat yang dipakai untuk bercelak mata?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sehingga manusia tersiksa dalam keringatnya sesuai dengan kadar amal-amalnya (yakni dosa-dosanya). Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kakinya. Ada yang sampai kedua lututnya, dan ada yang sampai pinggangnya, serta ada yang tenggelam dalam keringatnya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat dengan meletakkan tangan ke mulut beliau.” (Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2864)


Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Jarak satu mil ini, baik satu mil yang biasa atau mil alat celak, semuanya dekat. Apabila sedemikian rupa panasnya matahari di dunia, padahal jarak antara kita dengannya sangat jauh, maka bagaimana jika matahari tersebut berada satu mil di atas kepala kita?!” (Syarah al-’Aqidah al-Wasithiyyah, 2/134).


Ketika matahari sudah berada di atas kita pada hari kebangkitan, maka tidak ada lagi tempat berteduh dan tempat berlindung dari panasnya terik matahari saat itu, tidak ada pohon, tidak ada awan yang bisa melindungi kepala manusia.


Maka pada saat itu Allah ta’ala turun dengan kemulyaannya dengan menaiki ‘arsy nya yang di bawa oleh para malaikat. Dan allah ta’ala memanggil kepada setiap makhluk yang bisa di dengarkan oleh semuanya baik yang berada didekat maupun yang berada di ujung jauh. Seperti yang di riwayatkan oleh Imam Bukhari dalam sebuah hadist Qudsi[1]: أنا الملك أين ملوك الأرض Saya adalah raja, dimanakah raja2 kalian di dunia, dan dalam hadist shahih lain, diriwayatkan Allah ta’ala berfirman : لمن الملك اليوم siapakah raja pada hari ini? (2 kali).  Dan berfirman: لله الواحد القهار Hanya milik allah yang maha kuasa.


Dan pada saat itu dimana manusia dari zaman nabi Adam hingga zaman kita sekarang ini semua di kumpulkan jadi satu, tidak ada apapun yang melindungi manusia, kecuali Arsy allah ta’ala, Dan disitulah Allah melindungi sekelompok manusia yang di khususkan dalam perlindunganNya. Siapakah mereka yang berhak mendapat lindungan Allah. Mereka adalah 7 orang yang telah disebutkan dalam Hadist Nabi yang pertama.


Marilah kita berdoa sejenak, semoga kita menjadi salah satu dari 7 golongan yang disebutkan oleh Nabi, dan mendapatkan perlindungan di hari kebangkitan, ketika tidak ada perlindungan kecuali dari Allah SWT.


Ma’syiral Muslimin Rahimakumullah


Salah satu dari ketujuh golongan yang di sebutkan pada hadist sebelumnya adalah امام عادل   imamun adilun.  Pemimpin yang adil. Yaitu pemimpin yang berbuat adil berdasarkan perintah Allah dan Rasulnya, baik itu pemimpin yang memiliki kekuasaan besar maupun kekuasaan kecil seperti : yang dikatakan oleh imam ibn taimiyah. Sampai Sebagian Ahli ilmu berkata. “barang siapa yang berbuat adil kepada dua orang muridnya, maka dia adalah pemimpin yang adil, dan bila ia meberikan ujian kepada dua muridnya itu dan berlaku adil, maka ia termasuk dari tujuh golongan diatas.. “ Jadi Pemimpin yang adil itu bisa pada siapa saja dan dimana saja, baik itu di rumah, di sekolah dan di tempat kerja. 

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasalam bersabda :


عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالأَمِيرُ الَّذِى عَلَى النَّاسِ رَاعٍ عَلَيْهِمْ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالَعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.


Dari Abdullah bin Umar, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : “Ketahuilah…Setiap dari kalian adalah pemimpin yang akan di mintai pertanggung jawabannya, seorang amir/kepala daerah adalah pemimpin bagi masyarakatnya dan akan di mintai pertanggung jawabanya tentang kepimpinannya, seorang suami adalah pemimpin bagi keluarga dan ia bertanggung jawab terhadap keluarganya, seorang istri adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya dan ia bertanggung jawab terhadap mereka, seorang pembantu adalah pemimpin bagi harta tuannya dan ia bertanggung jawab terhadapnya, setiap kalian adalah pemimpin dan tiap kalian mempunyai tanggung jawab terhadap yang di pimpinnya”. (HR. Abu Daud : 2930)


Hadits ini mengingatkan kepada kita semua — dengan apapun profesi kita saat ini, Presiden, menteri, dubes, bupati, dosen, guru, mahasiswa, murid, suami, istri, majikan, pembantu, penggembala atau lainnya– bahwa Allah akan memintakan pertanggungjawaban dari semua amanah yang telah Dia embankan kepada hambaNya. Tidak ada yang dibiarkan olehNya kecuali setiap kita  akan ‘diberondong’ dengan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dan saat itu tak ada satu makhlukpun yang bisa untuk berdusta.


Selain adil, seorang pemimpin juga di tuntut untuk berlaku bijaksana dan menjadi amanah dalam menjalankan tugas:


ان الله يامركم ان تؤدوا الأمانات الى أهلها واذا حكمتم بين الناس ان تحكموا بالعدل ان الله نعما يعظكم به. ان الله كان سميعا بصيرا


"Sesungguhnya Allah menyuruhmu untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan menyuruh kamu apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."


Ayat tersebut berkaitan dengan perintah Allah kepada orang beriman untuk menjaga dan menyampaikan amanah serta berlaku adil dalam menegakkan hukum. Amanah dan keadilan adalah dua kata yang kerapkali didengar dan dikumandangkan. Itulah sebabnya menurut hadits Rasulullah. pemimpin amanah lagi adil  akan mendapatkan jaminan perlindungan Allah di hari Kiamat nanti.


Ma’asyiral Muslimin, Majlis Jum’at Rahimakumullah


Amanah dalam ayat di atas bersifat menyeluruh. Karena itulah diungkap dalam bentuk jamak muannats salim (amanaat). Karena cakupannya meliputi amanah yang luas, yakni amanah menjalankan ibadah kepada Allah,  amanah mendidik  masyarakat dan generasi muda, membina keluarga, memelihara harta kekayaan negara, dan lain sebagainya.  Semua amanah itu akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah swt.


Allah mengakhiri ayat tentang amanah ini dengan dua asma Allah (وكان الله سمبعا بصيرا  ) "Sami'an Bashiran".  Ini menunjukkan bahwa: "Allah Maha mendengar segala yang diucapkan, Maha mengetahui segala niat dan perbuatan. Tidak ada yang tersembunyi bagi Allah, semuanya tercatat dalam catatan-Nya."   مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ   “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf:18).


Di hadapan Allah, tidak ada yang bebas periksa. Kalau di dunia mungkin keadilan bisa dibeli, tapi di akhirat kelak kita dihadapkan dengan pengadilan Allah yang Maha Adil.


Dan apabila seorang pemimpin mampu melaksanakannya dengan  baik maka ia akan di berikan hadiah oleh Allah ta’ala, sebagaimana yang di riwayatkan oleh, Abi Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda: Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil di sisi Allah (balasan) adalah mereka berada di atas mimbar dari cahaya di sisi kanan Allah yang Maha Al-Rahman dan kedua tanganNya adalah kanan, yaitu orang-orang yang berlaku adil di dalam menghukumi dan adil terhadap keluarga mereka serta adil terhadap apa yang menjadi tanggung  jawab mereka".


Namun juga sebaliknya, bila kepemimpinan itu tersia-siakan maka Allah akan membalasnya. Demikian keterangan yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari dan juga dalam Shahih Muslim hadist dari Ma'qil bin Yasar ra berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda:  Tidaklah seorang hamba diberikan oleh Allah untuk mengurusi perkara rakyat kemudian dia mati dalam keadaan menipu rakyatnya  kecuali Allah akan mengharamkan surga atas dirinya".


Jama’ah Jum’ah yang Berbahagia


Demikianlah, khutbah kali ini semoga benar-benar menjadi pelajaran bagi kita semua.


Khutbah Jumat, 10-5-2013
@KBRI RABAT

17 Mei 2013

Apakah Orang Kafir Melihat Allah SWT?


Dalam masalah ini, seperti yang tertera pada judul diatas, sempat terjadi perdebatan yang sengit antara ulama-ulama, bahkan ikut merembet ke kalangan masyarakat umum hingga jadi pertentangan antara satu golongan dengan golongan yang lain, mereka keluar baik yang dirumah maupun yang di pasar-pasar, dan hampir saja terjadi pertikaian yang bisa mengakibatkan pembunuhan.

Pada saat terjadi masalah-yang genting itu, seorang laki-laki yang memiliki ahklakul hasanah berdiri dan pergi dari kediamannya dengan menaiki himar (keledai) nya. Ia menyusuri perkampungan-perkampungan, tidak ada tempat yang terdapat seorang alim dan fakih kecuali ia singgahi untuk bertanya tentang permasalah yang sedang terjadi didaerahnya itu.

Ia terus berjalan menyusuri tempat-tempat orang ahli Ilmu, ahli hadist, ahli kalam dan seterusnya untuk berdiskusi tentang masalah yang ia bawa itu.

Hingga ada seseorang yang berkata : “Seandainya engkau pergi kepada Syekh Abu ‘Imran alFasi, engkau akan mendapatkan jawaban dari permasalahan itu”. Dengan petunjuk itu, ia pun segera bergegas menuju tempat kediaman syekh yang dimaksud itu dan diikuti oleh jamaah yang lain.

Tak lama kemudian orang-orang berdatangan kerumah Syekh. Dan Syekh pun mempersilahkan tamu-tamunya itu, kemudian berkata kepada mereka : “Sesungguhnya kalian tahu, bahwa jika terjadi suatu permasalahan di masyarakat, mereka akan pergi kepada ulama-ulamanya, karena yang terjadi dipasar itu hanyalah berupa bualan-bualan kosong yang tidak menyelesaikan masalah. Begitupun dengan permasalahan yang tengah terjadi ini”.

Kemudian Syekh Abu ‘Imran melanjutkan perkataannya : “Jikalau kalian diam dan mendengarkannya dengan baik, akan ku beritahukan tentang semua yang kumiliki”.

Orang-orang pun berkata kepada syekh : “yang kami inginkan hanyalah jawaban yang jelas sesuai dengan kemampuan pemahaman kami”.

Dan Syekh Abu Imran pun menjawab : “Billahi attaufiq”, sambil menghela nafas dan melanjutkan perkataannya, “Tidak ada yang berbicara kecuali hanya satu orang dan yang lainnya menyimak”.

Syekh Abu Imran pun memulainya dengan berkata: “Apakah kalian tidak melihat, seandainya aku bertemu dengan seseorang dan berkata kepadanya ‘apakah kamu tahu Abu Imran Alfasi?’, dia jawab: ‘Ya, aku mengenalnya’, kemudian bertanya lagi: ‘Ceritakan kepadaku tentang ciri-ciri dan sifatnya!’. Dan dijawab: ‘Dia adalah seorang laki-laki yang menjual barang-barang seperti keranjang, gandum, minyak di pasar Bani Hisyam, dan ia tinggal di pedalaman’. Kemudian Abu Imran pun berkata lagi: ‘ Apakah kamu mengenaliku?’, di jawab ‘tidak’.

Kemudian beliau melanjutkan penjelasannya lagi : “Setelah itu, ku bertemu lagi dengan orang lain dan berkata kepadanya: ‘Apakah kamu tahu Syekh Abu Imran?, kemudian dijawab: ‘Ya, aku mengenalnya’. Berkata lagi : ‘ Ceritakan kepadaku tentang ciri-ciri dan cifatnya?’ kemudian dijawab : ‘ Dia Seorang laki-laki yang mengajarkan ilmu, berfatwa untuk menyelesaikan permasalahan manusia, ia tinggal di perkampungan’.  Kemudian Abu Imran pun berkata lagi: ‘ Apakah kamu mengenaliku?’, di jawab ‘Ya’…

Setelah bercerita syekh menjelaskan : “Orang pertama yang ditanya apakah ia mengenaliku dan menjawab ‘tidak’, itu diibaratkan seperti orang kafir yang berkata tentang tuhannya:‘Yaitu (tuhan) yang memiliki anak, bersekutu, berjasad dan menyerupai makhluk’ , dia ingin menyembah tuhannya dengan sifat yang ia ketahui itu, ia tidak mengenali tuhannya kecuali dengan sifat-sifat itu. Berbeda dengan orang Mukmin (beriman) yang berkata : ‘Bahwa yang disembah adalah Allah yang Maha Esa, yang tidak memiliki anak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia (surat Al Ikhlas).’ Dan yang kedua ini (orang mukmin) telah mengetahui Allah yang disembahnya dengan segala sifat-sifat-Nya, dan ia bermaksud menyembah-Nya dengan sifat ketuhanan-Nya”.

Kemudian orang-orang pun berdiri dan berkata kepada syekh: “Jazakallahu khairan, engkau telah mengobati apa yang ada didalam diri  kami”. Kemudian mereka mendoakan syekh, dan setelah kejadian itu maka masalah itu pun tidak pernah muncul lagi di kalangan masyarakat.



********************
Demikianlah sepenggal kisah tentang kearifan seorang ulama Maroko, Syekh Abu ‘Imran alFasi, meninggal tahun 430 H, yang bernama asli Musa bin ‘Isa bin Abi Haj, yang lebih dikenal dengan Abu ‘Imran Alfasi, beliau lahir pada tahun 368 H seperti yang dinukil oleh imam Ibn Abdil Bar, namun menurut Abu ‘Amr Addani beliau lahir tahun 365, yang  ini lebih pas seperti yang tertera pada kitab “Al-Madarik” dan “Ad-Dibaj”. Beliau besar dan belajar menuntut ilmu kepada Ulama-ulama Fes, kemudian di Qaraouiyyine, Qordoba, Bilad al Masyriq, Baghdad dan Makkah.

Di ambil dari kitab: “Dzikrayat Masyahir  Rijal al-Maghrib” pengarang : Syekh Abdulloh Gennoun Maghriby, Juz1. dan diterjemahkan oleh : Burhan Ali, Lc.

24 Feb 2013

Maroko Menjengkelkan ! Mau Tau ?



Ketika berbicara maroko, apa sih yang terbayang dalam benak kalian… yaa, Maroko emang hanya sebuah Negara yang berbentuk kerajaan dibagian ujung utara benua afrika.

Namun bagiku yang kini sedang tinggal di kota Casablanca, Maroko untuk menuntut ilmu di universitas Hassan II, sudah lebih dari 5 tahun 30 hari. Sudah sedikit banyak mengenyam pengalaman yang mengenakan sekaligus yang menjengkelkan hati.

Pada kesempatan ini saya hanya ingin mengatakan sebagian dari yang menjengkelkan itu, biar menjadi seimbang antara yang baik dan yang tidak baik selama ini yang kita ceritakan dan riwayatkan kepada teman-teman kita yang di Indonesia.

Petit Taxi di Casablanca
Hal-hal yang menjengkelkan yang mungkin akan anda temui ketika berkunjung ke Maroko baik itu untuk sekedar jalan-jalan ataupun untuk study. Seperti ketika anda mau naik taksi terutama di kota-kota besar seperti Casablanca anda akan di kenakan tarif lebih. Biasanya para sopir taksi akan langsung menembak tarif taksi untuk sampai ke tujuan, mereka tidak mau mengenakan argo taksi karena dikira kita sebagai orang asing memiliki dan membawa uang yang banyak. Hal ini sering terjadi di tempat-tempat wisata, bandara, stasiun kereta dan lainnya.

Selain mempermainkan tarif taksi, biasanya para sopir taksi juga sering memutarkan jalur yang lebih jauh agar lebih mahal tarifnya. Di tambah lagi, bahwa taksi-taksi di Maroko itu kaya mobil omprengan, artinya bahwa satu taksi bias dinaiki oleh orang yang berbeda-beda, ketika kita sudah naik taksi sendiri kemudian dijalan ada yang mau  naik, sopir taksi akan menaikkan penumpang lain. Jadi jangan heran yah.

Masih di bidang tranportasi, yang biasa menjengkelkan adalah bus antar kota. Di terminal sering banyak calo yang berkeluyuran jadi hati-hati, dan juga ditambah busnya sering tidak on-time. Kadang juga kalo lagi transit di suatu kota bisa berjam-jam nunggunya, yang lebih parahnya kita bias di oper-oper ke bus lain untuk sampai ke tujuan oleh kernet bus udah busnya yang lebih jelek lagi, (sempurna penderitaan di jalan)

Untuk kereta api pun hampir mirip, terutama kereta api jarak jauh seperti, jurusan fes-Marrakech, Casablanca-tanger, Casablanca-Oujda, sering terlambat.

Setelah transportasi kita pindah ke orang Marokonya. Ketika anda sedang berjalan-jalan, mungkin akan banyak ditemui orang maroko, ada dari sebagian mereka yang welcome dengan kita dan berniat menawarkan jasa untuk jadi guide, yang menyebalkan itu sifat memaksanya yang membuat jalan-jalan kita jadi tidak nyaman, hal ini sering terjadi di kota Fes, Marrakech.
Pasar tradisional Fes

Selain itu pun para pedagang di Maroko yang sering memainkan harga, makanya harga yang biasanya pas menjadi lebih mahal. Dan yang tidak kalah menjengkelkannya itu banyaknya peminta-minta yang suka memaksa, bahkan sampai mengikuti terus sambil menarik tangan atau tas kita. So… Waspadalah.

Jmaa el Fna, Marrakech
Selain itu biaya penginapan di Maroko pun relatife mahal di banding dengan Negara-negara lain, seperti perhotelan, atau kamar melati, bahkan sewa rumah untuk kita  mahasiswa juga termasuk mahal.

Nih ini hal menjengkalkan yang paling sering di temukan oleh pelajar Indonesia, yakni intansi Maroko yang semena-mena dan sering inkar janji alias no-ontime (sekarepe dewek) seperti Agence Marocain Cooperation International (AMCI), Ta’lim ‘Ali, bahkan sampai Syurtah al Amn (kantor polisi Daerah). Kalo mereka bilang ghadan (besok) bias berarti Usbu’(minggu depan), kalo mereka bilang usbu’ mukbil (minggu depan ) bias berarti tiga minggu atau bahkan sebulan. Memang sungguh sangat menyebalkan berhubungan dengan instansi-instansi seperti itu. Sebenarnya untuk intansi masih panjang dan lebar untuk di ceritakan, namun saya yakin teman-teman pelajar yang ada di Maroko lebih mengerti dan mempunya kisah dan cerita tersendiri untuk hal yang menjengkelkan dengan intansi itu.

Dan Masih banyak lagi yang menjengkelkan dari Maroko namanya, untuk tau kebih lanjut bisa inbok aja di fb atau email.

Terakhir, sebelum diselesaikan yang perlu anda tahu bahwa kalau menurut pengetahuan anda Maroko memiliki kota metropolis maka anda harus benar-benar mencatat dalam buku tujuan anda bahwa maroko termasuk Negara berkembang yang masih membutuhkan bantuan dari sana-sini, sebelum anda menyesal. Kalo mau ke Maroko perbaiki niat dulu, bahwa maroko asyiknya buat liat kebudayaan dan peninggalan peradaban masa silam seperti arsitek, seni, budaya sampai sahara.

21 Feb 2013

Kehebatan 'Gus Dur' di mata Gus Mus

Gus Mus tengah bercerita tentang maqamnya Gus Dur, Gus dur pernah bilang : “Orang yang ngasih utang ke orang lain pahalanya lebih besar dari orang yang hanya sekedar memberi kepada orang lain…. Karena orang  yang berhutang itu benar-benar sedang membutuhkan dari pada orang yang di beri sekedarnya…”

Lalu Gus Dus sering memberi utang kepada orang lain sehingga membuat gus mus menegur gus dur,“Gus, kamu kok selalu mengasih utang kepada dia, padahal dia kan itu hanya menipu” lalu Gus Dur hanya menjawab, “ya saya tau dia menipu”, lalu dilanjutkan “orang yang berhutang aja itu orang yang membutuhkan apalagi orang yang sampai menipu berarti ia lebih dari orang yang sangat membutuhkan”

Bukan Kyai Versi Gus Mus

Isu yang dulu pernah merebak tentang wacana usulan sertifikasi ulama yang diutarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk mencegah gerakan terorisme di Indonesia, seperti menjadi wacana lucu dalam kehidupan sehari-hari, seperti drama komedi tv buat selingan.

KH Mustofa Bisri (Gus Mus) pada saat memberikan taushiyah dalam acara peringatan Tahlil Akbar Seribu Hari wafatnya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Ciganjur, Jakarta pada bulan September 2012 lalu, pernah menyinggung soal sertifikasi kyai itu.
Karena menurut saya wacana ini masih layak untuk di perbincangkan terutama fenomena kyai dadakan dengan kyai yang memang bener-bener kyai, agar masyarakat bisa menilainya sendiri.
Sebenarnya seorang yang memang benar-benar kyai itu bisa dilihat langsung dari sepak terjangnya selama ini, atau cara pencapaian ilmu yang dulu didapatnya. Tidak hanya membaca buku terjemahan atau dari cara cepat mbah googele.
Namun menurut simbah Gus Mus, ada ciri-ciri bagaimana yang bukan kyai itu bisa dibedakan dari sang kyai.
Yang pertama : Gampang kaget, bentar-bentar kaget atau langsung ramai mendengar berita yang dianggap menghebohkan… ada lady gaga kaget… bulan ramadhan datang langsung gerebek warung, dan seterusnya.
Yang kedua : Ada pertanyaan semuanya di jawab.
Itu tanda-tanda orang baru jadi kyai… belum tutug (selesai)  ngajinya  dah keburu terkenal, jadi berhenti ngajinya. Jika orang itu benar-benar memahami ilmu, maka ia tidak akan mengatakan apa yang memang ia tidak ketahui.
Belajarlah menjadi kyai sebagaimana kyai-kyai dahulu  belajar, seperti yang pernah terjadi pada Imam Malik bin Anas, pendiri madzhab Maliki.

Datang seseorang, kepada Imam Malik Bin Anas Rahimahullah, dan bertanya:” Wahai Abu Abdullah aku datang kepadamu dari daerah yang jaraknya sekitar 6 bulan perjalanan, aku membawa beberapa permasalahan yang dihadapi oleh kaumku, maka aku akan menanyakan kepada Anda.” Imam Malik menjawab “Silahkan tanyakan.” Setelah tamu tersebut selesai bertanya, Imam Malik berkata:” Aku tidak menguasai permasalahan ini.” Tamu tersebut berkata :” Lalu apa yang akan aku sampaikan kepada kaumku saat aku kembali.” Maka Imam Malik berkata:” Katakan kepada mereka, bahwa Malik bin Anas tidak menguasai permasalahan tersebut.”

Begitupun dengan Imam Asy-Sya’bi Rahimahullah pernah ditanya dalam suatu masalah. Beliau menjawab, "Saya tidak tahu". Maka si penanya heran dan berkata, "Apakah kamu tidak malu mengatakan "tidak tahu", padahal engkau adalah ahlul fiqh negeri Iraq?" Beliau menjawab, "Tidak, karena para malaikat sekalipun tidak malu mengatakan tidak tahu, ketika Allah tanya: "Sebutkan kepadaKu nama benda-benda itu jika kamu memang benar!"(Al-Baqoroh:31). Maka para malaikat menjawab: "Mereka menjawab: Mahasuci Engkau, tidak ada ilmu bagi kami selain dari apa yang telah engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana" (Al-Baqoroh:32)

Ada satu nasihat dari seorang Ulama’ sebagai berikut: "Belajarlah engkau untuk mengucapkan ‘Saya tidak tahu’. Dan janganlah belajar mengatakan ’saya tahu’ (pada apa yang kamu tidak tahu), karena sesungguhnya jika engkau mengucapkan ’saya tidak tahu’ mereka akan mengajarimu sampai “engkau tahu". Tetapi jika engkau mengatakan ‘tahu’, mereka akan menghujanimu dengan pertanyaan hingga mereka tahu bahwa kamu “tidak tahu".

Perhatikan pula ucapan Imam Asy-Sya’bi Rahimahullah,"Kalimat ’saya tidak tahu’ adalah setengah ilmu".



2 Des 2012

Akhir dari Sebuah Dosa Bab. 1


Allah swt. telah mengisahkan bagaimana menghancurkan kaum terdahulu karena diakibatkan dosa-dosa mereka, maka selayaknya kita mengambil ibrah (pelajaran) dari kisah-kisah kaum terdahulu yang telah binasa, ditimpa azab dan bencana. Allah swt. berfirman:

 “Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamakaan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamakaan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Al-Ankabuut [29] : 40).

Ada banyak akibat yang ditimbulkan dosa terhadap manusia, baik itu pada hatinya, maupun pada bentuk bencana-bencana yang dialami manusia. Hal ini mengingatkan kepada kita agar sungguh-sungguh memperhatikan kehidupan kita, bahwa dosa-dosa akan membawa pengaruh buruk dan mengakibatkan kerusakan bahkan kebinasaan kepada manusia.

Dosa dapat membuat hati keras dan buta dari kebenaran, akan menutup pintu hati dari melihat kebenaran dan membuatnya terbalik dalam menilai.

Setiap satu dosa yang dilakukan tanpa bertaubat itu akan menyebabkan terjadinya satu titik hitam pada hati. Itu baru satu dosa. Maka bayangkanlah bagaimana pula kalau sepuluh dosa? Seratus dosa? Seribu dosa? Alangkah hitam dan kotornya hati ketika itu.

Perkara ini jelas digambarkan dalam hadis Rasulullah bermaksud: "Siapa yang melakukan satu dosa, maka akan tumbuh pada hatinya setitik hitam, sekiranya dia bertaubat akan terkikislah titik hitam itu daripada hatinya. Jika dia tidak bertaubat, maka titik hitam itu akan terus merebak hingga seluruh hatinya menjadi hitam." (HR. Ibn Majah).

Hadis ini selaras dengan firman Allah yang artinya "Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka (karena dosa)." (QS. Al-Muthaffifiin, ayat 14).

Hati yang kotor dan hitam akan menjadi keras. Apabila hati keras, kemanisan dan kelezatan beribadah tidak dapat dirasakan. Ia akan menjadi penghalang kepada masuknya nur iman dan ilmu. Belajar sebanyak mana pun ilmu yang bermanfaat atau ilmu yang boleh memandu kita, namun ilmu itu tidak akan masuk ke dalam hati, kalau pun kita faham, tidak ada daya dan kekuatan kita untuk mengamalkannya.

Allah berfirman yang bermaksud "Kemudian selepas itu, hati kamu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Pada hal antara batu-batu itu ada yang terpancar dan mengalir sungai daripadanya, dan ada pula antaranya yang pecah-pecah terbelah lalu keluar mata air daripadanya. Dan ada juga antaranya yang jatuh ke bawah karena takut kepada Allah sedang Allah tidak sekali-kali lalai daripada apa yang kamu kerjakan." (QS Al-Baqarah, ayat 74).

Begitulah Allah mendatangkan contoh dan menerangkan bahwa batu yang keras itu pun ada kalanya bisa mengalirkan air dan bisa terpecah karena amat takut pada Allah.

Oleh itu, apakah hati manusia lebih keras daripada batu hingga tidak bisa menerima petunjuk dan hidayah daripada Allah.

Imam Al-’Allamah Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullahu menyebuntukan secara panjang lebar dampak negatif dari dosa, diantaranya:

1. Terhalang dari ilmu yang haq. Karena ilmu merupakan cahaya yang dilemparkan ke dalam hati sementara maksiat akan memadamakaan cahaya.

Tatkala Imam Syafi’i rahimahullahu belajar kepada Imam Malik rahimahullahu, Imam Malik terkagum-kagum dengan kecerdasan dan kesempurnaan pemahaman Syafi’i. Imam Malik pun berpesan pada murid ini “Aku memandang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memasukkan cahaya ilmu di hatimu. maka janganlah engkau padamakaan cahaya tersebut dengan kegelapan maksiat.”

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu pernah bersajak:
شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِي
فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي
وَقَالَ اعْلَمْ بِأَنَّ الْعِلْمَ نور
وَ نور اللهِ لاَ يُؤْتاَهُ للمعَاصِ

“Aku mengeluhkan jelek hafalanku kepada Waki’
Maka ia memberi bimbingan kepadaku agar meninggalkan maksiat
Ia berkata “Ketahuilah ilmu itu merupakan cahaya
dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang berbuat maksiat.”1

2. Terhalang dari rizki dan urusan dipersulit.
Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mendatangkan rizki dan memudahkan urusan seorang hamba sebagaimana firman-Nya:

وَ مَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagi orang tersebut jalan keluar dan memberi rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”

وَمَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan bagi kemudahan dalam urusannya.”
Meninggalkan takwa berarti akan mendatangkan kefakiran dan membuat si hamba terbelit urusannya.

3. Hati terasa jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan merasa asing dengan-Nya sebagaimana jauh pelaku maksiat dari orang-orang baik dan dekat dengan setan.

4. Menggelapkan hati si hamba sebagaimana gelap malam. Karena ketaatan adalah cahaya sedangkan maksiat adalah kegelapan. Bila kegelapan itu bertambah di dalam hati akan bertambah pula kebingungan si hamba. Hingga ia jatuh ke dalam bid’ah kesesatan dan perkara yang membinasakan tanpa ia sadari. Sebagaimana orang buta yang keluar sendirian di malam yang gelap dengan berjalan kaki.

Bila kegelapan itu semakin pekat akan tampaklah tanda di mata si hamba. Terus demikian hingga tampak di wajah yang menghitam yang terlihat oleh semua orang.

5. Maksiat akan melemahkan hati dan tubuh Karena kekuatan seorang mukmin itu bersumber dari hatinya. Semakin kuat hati semakin kuat tubuhnya. Adapun orang fajir/pendosa sekalipun badan tampak kuat namun sebenar ia selemah-lemah manusia.

6. Maksiat akan ‘memperpendek‘ umur dan menghilangkan keberkahan sementara perbuatan baik akan menambah umur dan keberkahannya. Mengapa demikian? Karena kehidupan yang hakiki dari seorang hamba diperoleh bila hati hidup. Sementara orang yang hati mati walaupun masih berjalan di muka bumi hakikat ia telah mati. Oleh karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan orang non muslim adalah mayat dalam keadaan mereka masih berkeliaran di muka bumi:

أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ

“Mereka itu adalah orang-orang mati yang tidak hidup.”

Dengan demikian kehidupan yang hakiki adalah kehidupan hati. Sedangkan umur manusia adalah hitungan kehidupannya. Berarti umur tidak lain adalah waktu-waktu kehidupan yang dijalani Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menghadap kepada-Nya mencintai-Nya mengingat-Nya dan mencari keridhaan-Nya. Di luar itu tidaklah terhitung sebagai umurnya.

Bila seorang hamba berpaling dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyibukkan diri dengan maksiat berarti hilanglah hari-hari kehidupan yang hakiki. Di mana suatu hari nanti akan jadi penyesalan baginya:

يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي

“Aduhai kira dahulu aku mengerjakan amal shalih untuk hidupku ini.”

7. Satu maksiat akan mengundang maksiat lain sehingga terasa berat bagi si hamba untuk meninggalkan kemaksiatan. Sebagaimana ucapan sebagian salaf: “Termasuk hukuman perbuatan jelek adalah pelaku akan jatuh ke dalam kejelekan yang lain. Dan termasuk balasan kebaikan adalah kebaikan yang lain. Seorang hamba bila berbuat satu kebaikan maka kebaikan yang lain akan berkata ‘Lakukan pula aku.’ Bila si hamba melakukan kebaikan yang kedua tersebut maka kebaikan ketiga akan berucap yang sama. Demikian seterusnya. Hingga menjadi berlipatgandalah keuntungan kian bertambahlah kebaikannya. Demikian pula kejelekan.”

8. Maksiat akan melemahkan hati dan secara perlahan akan melemahkan keinginan seorang hamba untuk bertaubat dari maksiat hingga pada akhir keinginan taubat tersebut hilang sama sekali.

9. Orang yang sering berbuat dosa dan maksiat hati tidak lagi merasakan jelek perbuatan dosa. Malah berbuat dosa telah menjadi kebiasaan. Dia tidak lagi peduli dengan pandangan manusia dan acuh dengan ucapan mereka. Bahkan ia bangga dengan maksiat yang dilakukannya.

Bila sudah seperti ini model seorang hamba ia tidak akan dimaafkan sebagaimana berita dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِيْنَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَََّيْلِ عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ عَلَيْهِ فيَقُوْلُ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا. وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ

“Setiap umatku akan dimaafkan kesalahan/dosa kecuali orang2 yang berbuat dosa dengan terang-terangan. Dan termasuk berbuat dosa dengan terang-terangan adalah seseorang melakukan suatu dosa di waktu malam dan Allah menutup perbuatan jelek yang dilakukan tersebut, namun di pagi hari ia berkata pada orang lain “Wahai Fulan tadi malam aku telah melakukan perbuatan ini dan itu.” Padahal ia telah bermalam dalam keadaan Rabb menutupi kejelekan yang diperbuatnya. Namun ia berpagi hari menyingkap sendiri tutupan Allah yang menutupi dirinya.”

10. Setiap maksiat yang dilakukan di muka bumi ini merupakan warisan dari umat terdahulu yang telah dibinasakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Perbuatan homoseksual adalah warisan kaum Luth. Mengambil hak sendiri lebih dari yang semestinya dan memberi hak orang lain dengan mengurangi adalah warisan kaum Syu’aib. Berlaku sombong di muka bumi dan membuat kerusakan adalah warisan dari kaum Fir’aun. Sombong dan tinggi hati adalah warisan kaum Hud.

11. Maksiat merupakan sebab dihinakan seorang hamba oleh Rabbnya. Bila Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghinakan seorang hamba maka tidak ada seorang pun yang akan memuliakannya.

وَمَنْ يُهِنِ اللهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ

“Siapa yang dihinakan Allah niscaya tidak ada seorang pun yang akan memuliakannya.”

Walaupun mungkin secara zhahir manusia menghormati Karena kebutuhan mereka terhadap atau mereka takut dari kejelekan namun di hati manusia ia dianggap sebagai sesuatu yang paling rendah dan hina.

12. Bila seorang hamba terus menerus berbuat dosa pada akhir ia akan meremehkan dosa tersebut dan menganggap kecil. Ini merupakan tanda kebinasaan seorang hamba. Karena bila suatu dosa dianggap kecil maka akan semakin besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Imam Bukhari rahimahullahu dalam Shahihnya- menyebutkan ucapan sahabat yang mulia Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا

“Seorang mukmin memandang dosa-dosa seakan-akan ia duduk di bawah sebuah gunung yang ditakuntukan akan jatuh menimpanya. Sementara seorang fajir/pendosa memandang dosa-dosa seperti seekor lalat yang lewat di atas hidung ia cukup mengibaskan tangan untuk mengusir lalat tersebut.”



==========================================================
Sucikanlah 4 hal dengan 4 perkara :
"Wajahmu dengan linangan air mata keinsafan, Lidahmu basah dengan berzikir kepada Penciptamu, Hatimu takut dan gementar kepada kehebatan Rabbmu, ..dan dosa-dosa yang silam di sulami dengan taubat kepada Dzat yang Memiliki mu."



 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes