Tampilkan postingan dengan label Khutbah Jumat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah Jumat. Tampilkan semua postingan

20 Sep 2013

Khutbah Jumat : Ibadah, Bentuk Komunikasi Hamba Dengan Tuhannya

إنّ الْحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا، أَشُهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، اللّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا مُحَمَّدٍ أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن،
 
أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِالتَّقْوَى الله، فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى

قَالَ اللهُ سبحانه وتَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْز، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ الله الرَّحْمنِ الرَّحِيْم: ((يَا آيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا ادْخُلُوْا فِيْ السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ)) (سورة البقرة:208)

Ma`asyiral Muslimin wa zumrotal mu’minin Rahimakumullah.
Puji dan syukur marilah senantiasa kita ucapkan kehadirat Allah SWT yang selalu melimpahkan ni`mat dan karuniaNya bagi kita, karena Dia-lah, Allah ta’ala yang telah menciptakan manusia yang terdiri dari berbagai unsur yang membuatnya melebihi dari ciptaan-ciptaan Allah yang lainnya. Shalawat dan salam juga haruslah selalu kita perbanyak untuk Rasulullah SAW yang telah berjuang dan mengorbankan segala-galanya untuk kemaslahatan dan kebahagiaan ummatnya, baik di dunia maupun di akhirat.

Ma`asyiral muslimin Rahimakumullah.
Manusia terdiri dari 3 unsur, ‘akliyah, jasadiyah dan ruhiyah. Dalam 3 unsur ini Islam telah memberikan perhatian yang lebih kepada tiga hal tersebut untuk menjaga keberlangsungan dan kesinambungan diantara ketigannya. Pada unsur jasadiyah islam menganjurkan untuk berolah-raga, memakan makanan yang baik, menjaga dari berbagai macam penyakit, dan menjauhkan dari hal-hal yang membahayakan tubuh.

Sedangkan pada unsur ‘akliyah islam menekankan untuk selalu meningkatkan kemampuan akal dengan metode pembelajaran untuk menangkap ilmu pengetahuan baik dengan meneliti, berfikir ataupun bertadabbur.
 
Adapun pada unsur ruhiyah, Islam memberi makan ruh melalui apa yang telah disyariatkan Allah taala untuk hambaNya melalui hukum syariat islam dan ibadah yang selalu menjadi jembatan penghubung antara hamba dengan sang penciptanya. Dan pengaruh ibadah ini juga masuk kepada kepribadian seorang mukmin dan kaitannya dengan hal-hal berikut ini:

Yang pertama: Bahwa Ibadah adalah penghubung ruhiyah antara seorang hamba dengan tuhannya (seperti yang dikatakan sebelumnya). Dalam hal ini manusia selalu membutuhkan petunjuk dan arahan agar bisa meneruskan perjalanan hidup yang mana dalam hidup selalu terjadi peperangan antara kebenaran dan kebatilan. Oleh karena itu, Rasulullah SAW selalu menyegerakan shalat baik sunnat maupun wajib ketika beliau menghadapi sebuah permasalahan, beliau SAW bersabda: “tenangkan kami dengan shalat, wahai Bilal”, untuk meminta petunjuk dan pertolongan dari Allah ta’ala dan beristirahat dari kesibukan dunia.

Untuk memperjelas gambaran tersebut, dalam sebuah hadist qudsi, diriwayatkan oleh Imam Muslim ra. disebutkan, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: Allah swt berfirman:

“Aku membagi shalat (Al-Fatihah) menjadi dua bagian, sebagian untuk-Ku dan sebagian untuk hamba-Ku. Dan hamba-Ku akan mendapatkan apa yang ia minta. Ketika seorang hamba mengatakan “alhamdulillahi rabbil ‘alamin” (segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam), maka Aku menjawab, “Hamba-Ku telah memuji-Ku”. Ketika seorang hamba mengatakan “Arrahmanir rahim” (Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang), maka Aku menjawab, “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku”. Ketika seorang hamba mengatakan “Maaliki yaumid diin” (Yang menguasai hari pembalasan), maka Aku menjawab, “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku”. Ketika seorang hamba mengatakan “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” (hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan), maka Aku menjawab, “Ini adalah bagian-Ku dan bagian hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta”. Ketika seorang hamba mengatakan “Ihdinas shiraathal mustaqim. Shiraathal ladziina an’amta alaihim, ghairil maghdhuubi alaihim, wa ladh-dhaalliin” (Tunjukkanlah kami jalan yang lurus. [yaitu] jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan [jalannya] orang-orang yang Engkau murkai, dan bukan pula [jalannya] orang-orang yang tersesat), maka Aku menjawab, “Ini adalah untuk hamba-Ku dan baginya apa yang ia minta”(H.R Muslim).

Ma`asyiral muslimin Rahimakumullah.
Yang kedua : Bahwa ibadah sebagai pengampun dosa dan penghapus keburukan, seperti-halnya shalat, Allah ta’ala berfirman :
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ

Yang artinya : Dan dirikanlah sholat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (Q.S Hud : 114)

Dan Rasulullah SAW bersabda dalam konteks untuk menjelaskan makna ayat  ini, dari Abu Hurairah, bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di depan pintu rumah salah seorang dari kalian, lalu dia mandi lima kali setiap hari? Apakah kalian menganggap masih akan ada kotoran (daki) yang tersisa padanya?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan ada yang tersisa sedikitpun kotoran padanya.” Lalu beliau bersabda: “Seperti itu pula dengan shalat lima waktu, dengannya Allah akan menghapus semua kesalahan.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Ahmad)

 Pada hadist lain Rasulullah bersabda :
 إِنَّ لِلّهِ تَعَالَى مَلَكًا يُنَادِيْ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ : يَا بَنِيْ آدَمَ قُوْمُوْا إِلَى نِيْرَانِكُمْ الَّتِيْ أَوْقَدْتُمُوْهَا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَأَطْفِئُوْهَا بِالصَّلاَةِ

“Sesungguhnya Allah -Ta’ala- memiliki seorang malaikat yang memanggil setiap kali sholat, “Wahai anak Adam, bangkitlah menuju api (neraka) kalian yang telah kalian nyalakan bagi diri kalian, maka padamkanlah api itu dengan sholat“. [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath (9452) dan Ash-Shoghir (1135), Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah (3/42-43), dan lainnya]. (Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- melemahkan hadits ini dalam Adh-Dho’ifah (3057))

Pada konteks ibadah puasa yang bisa menghapus dosa, nabi SAW bersabda : “Barang siapa mendirikan puasa Ramadan dengan penuh keimanan dan kebaikan, maka akan diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu” (HR Bukhari – Muslim)

Pada Ibadah Haji Rasulullah SAW bersabda:
« مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ، فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّه »

”Barang siapa berhaji ke Baitullah kemudian ia tidak berbuat rafats dan tidak berbuat fasik maka ia kembali seperti pada hari dilahirkan oleh ibunya (bersih dari dosa).” (HR. Al-Bukhari)

Rafats adalah semua bentuk kekejian dan perkara yang tidak berguna. Termasuk di dalamnya bersenggama, bercumbu atau membicarakannya, meskipun dengan pasangan sendiri selama ihram. Fusuq adalah keluar dari ketaatan ke-pada Alloh , apapun bentuknya. Dengan kata lain, segala bentuk maksiat adalah fusuq yang dimaksudkan dalam hadits di atas.

Sedangkan pada zakat, Allah ta’ala berfirman :
خذ من أموالهم صدقة تطهرهم وتزكيهم بها وصل عليهم إن صلاتك سكن لهم

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan shalatlah (berdo'alah) untuk mereka. Sesungguhnya shalat (do'a) kamu itu merupakan ketenteraman jiwa bagi mereka”. (QS. At-Taubah : 103)

Dari sisi lain, ketika kita menelaah lebih jauh tentang ibadah shalat, kita akan menemukan seluruh ajaran dan perintah islam dalam shalat. Dimana didalamnya mengandung Tauhid, yaitu segala sesuatu hanya mengagungkan yang Esa atau tunggal .
قل إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين لا شريك له وبذلك أمرت وأنا أول المسلمين

Ketika melaksanakan shalat kita tidak makan dan minum, itu merupakan ajaran berpuasa. Dan melakukan shalat berarti menggunakan sebagian waktu dari umur manusia yang berarti sebagai ruh Zakat (pembersihan). Dan dalam shalat selalu menghadap kiblat, yakni baitul haram yang merupakan ajaran untuk haji.
 أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ  إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.



Khutbah ke 2
إِنّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا و مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ ، اَللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آله وأصحابه أجمعين.

Ma`asyiral muslimin Rahimakumulla, Allah taala telah memberikan wasiat kepada kita untuk bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benar takwa, dan menjadi seorang muslim yang kaafah selama hidup di dunia hingga ajal menjemput.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Ma`asyiral muslimin Rahimakumullah.

Yang ketiga: tujuan ketiga dari ibadah adalah mendidik  dan meluruskan kepribadian, baik pribadi maupun golongan. Menjadikan seorang hamba merasakan bahwa  Allah ta’ala dekat denganya dan selalu bersamanya dimanapun berada.
مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا  ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ  إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Yang artinya: “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al mujadilah : 7)
عَنْ أَبِي عَمْرو، وَقِيْلَ : أَبِي عَمْرَةَ سُفْيَانُ بْنِ عَبْدِ اللهِ الثَّقَفِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِي فِي اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَداً غَيْرَكَ . قَالَ : قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ]  رواه مسلم[

Dari Abu ‘Amr –ada juga yang menyebutnya- Abu Amrah Sufyan bin Abdullah Ats Tsaqafi radhiyallahu’anhu. Dia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam suatu perkataan yang aku tidak akan bertanya tentang hal itu kepada seorang pun selainmu”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Katakanlah, aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim). Shahih dikeluarkan oleh Muslim di dalam [Al Iman/38/Abdul Baqi])

Iman kepada Allah ta’ala, para malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul dan kepada hari akhir  adalah asas iman atau pijakan pertama seorang mukmin atau sering disebut dengan sisi akidah dan iman. sedangkan dari sudut pandang lainnya, yaitu dari sisi pengamalan yang terdapat pada bagian kedua dari hadist diatas adalah “kemudian Istiqamahlah”.

Kesimpulannya, bahwa ibadah yang dilaksanakan sesuai manhaj nabawi akan memberikan dampak positif dan hasilnya adalah membangun kepribadian yang lurus, hati yang bersih, dan menjadikan hamba yang selalu merasa bahwa dirinya selalu dalam pengawasan dari tuhannya, baik di kala terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, dan semuanya akan dipertanggung-jawakan baik hal-hal yang kecil maupun yang besar dibalas dengan adil. Sesuai dengan janji Allah pada surat An-Najm ayat 39-41 :
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى * وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى * ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَى

“dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,. dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). kemudian akan diberi Balasan kepadanya dengan Balasan yang paling sempurna,”

Akhirnya marilah kita jadikan ibadah kita sebagai jembatan penghubung kita dengan tuhan dan kembalikan seluruh niat ibadah kita hanya untuk mendapatkan ridha dan maghfirah dari Allah SWT, semoga kita semua mendapatkan balasan ibadah kita yang di ridloi. Amin ya rabbal `alamin.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِي يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلىَ اِبْرَاهِيْم وَعَلىَ آلِ اِبْرَاهِيْم وَباَرِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا باَرَكْتَ عَلىَ اِبْرَاهِيْم فِى اْلعاَلَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد.

اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُما كَمَارَبَّيانَا صَغِيرًا وَلِجَمِيْعِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَات وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِناَتِ اْلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْواَتِ بِرَحْمَتِكَ ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ  

اَللّهُمَّ آرِناَ الْحَقَّ حَقاًّ وَارْزُقْناَ اتِّباَعَهُ وَآرِناَ اْلباَطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْناَ اجْتِناَبَهُ.

اللَّهُمَّ افْتَحْ عَلَيْنَا اَبْوَابَ الخَيْرِ وَاَبْوَابَ البَرَاكَةِ وَاَبْوَابَ النِّعْمَةِ وَاَبْوَابَ السَّلاَمَةِ وَاَبْوَابَ الصِّحَّةِ وَاَبْوَابَ الجَنَّةِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ. رَبَّناَ آتِناَ فِي الدُّنْياَ حَسَنَةِ وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةِ وَقِناَ عَذاَبَ الناَّر. وَصَلَّى اللهُ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ  وَالحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.


@. Disampaikan pada khutbah Jumat tanggal 20 September 2013 di KBRI Rabat.


1 Jun 2013

Hadist : 7 Golongan yang di Lindungi Allah Pada Hari Kiyamat

Ma’syiral Muslimin Rahimakumullah


Setelah kita mengucapkan kalimat tahmid, dan kalimat tahlil sebagai bentuk sanjungan dan pujian kita kepada Dzat satu-satunya tempat kita menggantungkan diri dari segala sesuatu, maka tiada kata dan ungkapan yang sepatutnya kita sampaikan dalam majelis yang mulia ini melainkan washiyatut taqwa, yaitu satu kalimat yang dengannya Allah Subhaanahu wa Ta’ala telah menyebutkan dalam sekian banyak ayat, dan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun seringkali memberikan washiyat kepada para shahabatnya dalam khutbah-khutbahnya dengan kalimat tersebut, sebagaimana yang pernah beliau sampaikan  kepada dua orang sahabat yang bernama Abu Dzar dan Mu’ad bin Jabal dalam riwayat at-Tirmidzi beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bersabda:


اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَاَتْبِعِ السَّيِّئَةَ اْلحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ


“Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, dan barengilah perbuatan yang buruk dengan perbuatan yang baik dan berakhlak baiklah kepada semua manusia” (HR. at-Tirmudzi).


Hadits yang mulia ini, jelas-jelas telah memberikan penjelasan kepada kita bahwa ketaqwaan itu tidak terbatas pada waktu dan tempat tertentu. Namun demikian apa yang dipahami oleh para sahabat dari kalimat yang agung ini tidaklah sesederhana yang kita pahami, sebagai kalimat yang sering kita dengar, mudah kita ucapkan, namun kita acapkali susah dalam mencernanya apalagi merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Umar bin Khathab radhiayallahu 'anhu pernah mengatakan dalam Riwayat shahih,


التَّقْوَى هُوَ اْلخَوْفُ بِاْلجَلِيلِ وَاْلعَمَلُ بِالتَّنْزِيلِ وَالرِّضَى بِالْقَلِيلِ وَاْلاِسْتِعْدَادِ بِيَوْمِ الرَّحِيلِ.


“At-Taqwa adalah perasaan takut kepada Allah, beramal dengan apa yang datang dari Allah dan Nabi-Nya, merasa cukup dengan apa yang ada, dan mempersiapkan diri dalam menghadapi hari akhir.”


Maa’syiral Muslimin Rahimakumullah


عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ، فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ، الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ، اجْتَمَعَا عَلَيْهِ، وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ، وَجَمَالٍ، فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى، حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا، فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ.) أخرجه البخاري ومسلم .)


Sabda Rasulullah saw : “Tujuh Golongan yg dinaungi Allah dihari kiamat yg tiada tempat berteduh selain yg diizinkan Nya swt, Pemimpin yg Adil, dan pemuda yg tumbuh dengan beribadah pd Tuhannya, dan orang yg mencintai masjid, dan dua orang yg saling menyayangi karena Allah, bersatu karena Allah dan berpisah karena Allah, dan orang yg diajak berbuat hina oleh wanita cantik dan kaya namun ia berkata : Aku Takut pd Allah, dan pria yg sedekah dg sembunyi2, dan orang yg ketika mengingat Allah dalam kesendirian berlinang airmatanya” (HR. Bukhari dan Muslim)


pada hadist di atas yang diriwayatkan oleh imam bukhari dan muslim, Rasulullah SAW telah memberitahukan kepada kita umatnya, bahwa pada hari kiyamat, hari pembuktian di hadapan Allah ta’ala.

 يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلاً


“Manusia akan dikumpulkan pada hari Kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian dan belum dikhitan.” (Hadits shohih. diriwayatkan oleh Muslim, no. 5102 dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha). manusia dikumpulkan di padang Mahsyar, matahari didekatkan sejauh satu mil dari mereka, sehingga manusia berkeringat, hingga keringat tersebut menenggelamkan mereka sesuai dengan amalan masing-masing ketika di dunia.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Pada hari kiamat, matahari didekatkan jaraknya terhadap makhluk hingga tinggal sejauh satu mil.” –Sulaim bin Amir (perawi hadits ini) berkata: “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan mil. Apakah ukuran jarak perjalanan, atau alat yang dipakai untuk bercelak mata?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sehingga manusia tersiksa dalam keringatnya sesuai dengan kadar amal-amalnya (yakni dosa-dosanya). Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kakinya. Ada yang sampai kedua lututnya, dan ada yang sampai pinggangnya, serta ada yang tenggelam dalam keringatnya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat dengan meletakkan tangan ke mulut beliau.” (Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2864)


Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Jarak satu mil ini, baik satu mil yang biasa atau mil alat celak, semuanya dekat. Apabila sedemikian rupa panasnya matahari di dunia, padahal jarak antara kita dengannya sangat jauh, maka bagaimana jika matahari tersebut berada satu mil di atas kepala kita?!” (Syarah al-’Aqidah al-Wasithiyyah, 2/134).


Ketika matahari sudah berada di atas kita pada hari kebangkitan, maka tidak ada lagi tempat berteduh dan tempat berlindung dari panasnya terik matahari saat itu, tidak ada pohon, tidak ada awan yang bisa melindungi kepala manusia.


Maka pada saat itu Allah ta’ala turun dengan kemulyaannya dengan menaiki ‘arsy nya yang di bawa oleh para malaikat. Dan allah ta’ala memanggil kepada setiap makhluk yang bisa di dengarkan oleh semuanya baik yang berada didekat maupun yang berada di ujung jauh. Seperti yang di riwayatkan oleh Imam Bukhari dalam sebuah hadist Qudsi[1]: أنا الملك أين ملوك الأرض Saya adalah raja, dimanakah raja2 kalian di dunia, dan dalam hadist shahih lain, diriwayatkan Allah ta’ala berfirman : لمن الملك اليوم siapakah raja pada hari ini? (2 kali).  Dan berfirman: لله الواحد القهار Hanya milik allah yang maha kuasa.


Dan pada saat itu dimana manusia dari zaman nabi Adam hingga zaman kita sekarang ini semua di kumpulkan jadi satu, tidak ada apapun yang melindungi manusia, kecuali Arsy allah ta’ala, Dan disitulah Allah melindungi sekelompok manusia yang di khususkan dalam perlindunganNya. Siapakah mereka yang berhak mendapat lindungan Allah. Mereka adalah 7 orang yang telah disebutkan dalam Hadist Nabi yang pertama.


Marilah kita berdoa sejenak, semoga kita menjadi salah satu dari 7 golongan yang disebutkan oleh Nabi, dan mendapatkan perlindungan di hari kebangkitan, ketika tidak ada perlindungan kecuali dari Allah SWT.


Ma’syiral Muslimin Rahimakumullah


Salah satu dari ketujuh golongan yang di sebutkan pada hadist sebelumnya adalah امام عادل   imamun adilun.  Pemimpin yang adil. Yaitu pemimpin yang berbuat adil berdasarkan perintah Allah dan Rasulnya, baik itu pemimpin yang memiliki kekuasaan besar maupun kekuasaan kecil seperti : yang dikatakan oleh imam ibn taimiyah. Sampai Sebagian Ahli ilmu berkata. “barang siapa yang berbuat adil kepada dua orang muridnya, maka dia adalah pemimpin yang adil, dan bila ia meberikan ujian kepada dua muridnya itu dan berlaku adil, maka ia termasuk dari tujuh golongan diatas.. “ Jadi Pemimpin yang adil itu bisa pada siapa saja dan dimana saja, baik itu di rumah, di sekolah dan di tempat kerja. 

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasalam bersabda :


عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالأَمِيرُ الَّذِى عَلَى النَّاسِ رَاعٍ عَلَيْهِمْ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالَعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.


Dari Abdullah bin Umar, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : “Ketahuilah…Setiap dari kalian adalah pemimpin yang akan di mintai pertanggung jawabannya, seorang amir/kepala daerah adalah pemimpin bagi masyarakatnya dan akan di mintai pertanggung jawabanya tentang kepimpinannya, seorang suami adalah pemimpin bagi keluarga dan ia bertanggung jawab terhadap keluarganya, seorang istri adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya dan ia bertanggung jawab terhadap mereka, seorang pembantu adalah pemimpin bagi harta tuannya dan ia bertanggung jawab terhadapnya, setiap kalian adalah pemimpin dan tiap kalian mempunyai tanggung jawab terhadap yang di pimpinnya”. (HR. Abu Daud : 2930)


Hadits ini mengingatkan kepada kita semua — dengan apapun profesi kita saat ini, Presiden, menteri, dubes, bupati, dosen, guru, mahasiswa, murid, suami, istri, majikan, pembantu, penggembala atau lainnya– bahwa Allah akan memintakan pertanggungjawaban dari semua amanah yang telah Dia embankan kepada hambaNya. Tidak ada yang dibiarkan olehNya kecuali setiap kita  akan ‘diberondong’ dengan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dan saat itu tak ada satu makhlukpun yang bisa untuk berdusta.


Selain adil, seorang pemimpin juga di tuntut untuk berlaku bijaksana dan menjadi amanah dalam menjalankan tugas:


ان الله يامركم ان تؤدوا الأمانات الى أهلها واذا حكمتم بين الناس ان تحكموا بالعدل ان الله نعما يعظكم به. ان الله كان سميعا بصيرا


"Sesungguhnya Allah menyuruhmu untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan menyuruh kamu apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."


Ayat tersebut berkaitan dengan perintah Allah kepada orang beriman untuk menjaga dan menyampaikan amanah serta berlaku adil dalam menegakkan hukum. Amanah dan keadilan adalah dua kata yang kerapkali didengar dan dikumandangkan. Itulah sebabnya menurut hadits Rasulullah. pemimpin amanah lagi adil  akan mendapatkan jaminan perlindungan Allah di hari Kiamat nanti.


Ma’asyiral Muslimin, Majlis Jum’at Rahimakumullah


Amanah dalam ayat di atas bersifat menyeluruh. Karena itulah diungkap dalam bentuk jamak muannats salim (amanaat). Karena cakupannya meliputi amanah yang luas, yakni amanah menjalankan ibadah kepada Allah,  amanah mendidik  masyarakat dan generasi muda, membina keluarga, memelihara harta kekayaan negara, dan lain sebagainya.  Semua amanah itu akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah swt.


Allah mengakhiri ayat tentang amanah ini dengan dua asma Allah (وكان الله سمبعا بصيرا  ) "Sami'an Bashiran".  Ini menunjukkan bahwa: "Allah Maha mendengar segala yang diucapkan, Maha mengetahui segala niat dan perbuatan. Tidak ada yang tersembunyi bagi Allah, semuanya tercatat dalam catatan-Nya."   مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ   “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf:18).


Di hadapan Allah, tidak ada yang bebas periksa. Kalau di dunia mungkin keadilan bisa dibeli, tapi di akhirat kelak kita dihadapkan dengan pengadilan Allah yang Maha Adil.


Dan apabila seorang pemimpin mampu melaksanakannya dengan  baik maka ia akan di berikan hadiah oleh Allah ta’ala, sebagaimana yang di riwayatkan oleh, Abi Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda: Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil di sisi Allah (balasan) adalah mereka berada di atas mimbar dari cahaya di sisi kanan Allah yang Maha Al-Rahman dan kedua tanganNya adalah kanan, yaitu orang-orang yang berlaku adil di dalam menghukumi dan adil terhadap keluarga mereka serta adil terhadap apa yang menjadi tanggung  jawab mereka".


Namun juga sebaliknya, bila kepemimpinan itu tersia-siakan maka Allah akan membalasnya. Demikian keterangan yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari dan juga dalam Shahih Muslim hadist dari Ma'qil bin Yasar ra berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda:  Tidaklah seorang hamba diberikan oleh Allah untuk mengurusi perkara rakyat kemudian dia mati dalam keadaan menipu rakyatnya  kecuali Allah akan mengharamkan surga atas dirinya".


Jama’ah Jum’ah yang Berbahagia


Demikianlah, khutbah kali ini semoga benar-benar menjadi pelajaran bagi kita semua.


Khutbah Jumat, 10-5-2013
@KBRI RABAT

2 Des 2012

Akhir dari Sebuah Dosa Bab 2



13. Maksiat akan merusak akal. Karena akal memiliki cahaya sementara maksiat pasti akan memadamakaan cahaya akal. Bila cahaya telah padam akal menjadi lemah dan kurang.

Sebagian salaf berkata: “Tidaklah seseorang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga hilang akalnya.”

Hal ini jelas sekali Karena orang yang hadir akal tentu akan menghalangi diri dari berbuat maksiat. Ia sadar sedang berada dalam pengawasan-Nya di bawah kekuasaan-Nya ia berada di bumi Allah Subhanahu wa Ta’ala di bawah langit-Nya dan para malaikat Allah Subhanahu wa Ta’ala menyaksikan perbuatannya.

14. Bila dosa telah menumpuk hatipun akan tertutup dan mati hingga ia termasuk orang2 yang lalai. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوْبِهِمْ مَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Sekali-kali tidak sebenar apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.”
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata menafsirkan ayat di atas: “Itu adalah dosa di atas dosa hingga mati hatinya.”3

15. Bila si pelaku dosa enggan untuk bertaubat dari dosa ia akan terhalang dari mendapatkan doa para malaikat. Karena malaikat hanya mendoakan orang2 yang beriman yang suka bertaubat yang selalu mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الَّذِيْنَ يَحْمِلُوْنَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُوْنَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُوْنَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُوْنَ لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِيْنَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيْلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيْمِ. رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ. وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

“Malaikat-malaikat yang memikul Arsy dan malaikat yang berada di sekeliling bertasbih memuji Rabb mereka dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang2 yang beriman seraya berucap ‘Wahai Rabb kami rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu maka berilah ampunan kepada orang2 yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. Wahai Rabb kami masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang2 yang shalih di antara bapak-bapak mereka istri-istri mereka dan keturunan mereka semuanya. Sesungguh Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha memiliki hikmah. Dan peliharalah mereka dari kejahatan. orang2 yang Engkau pelihara dari pembalasan kejahatan pada hari itu maka sungguh telah Engkau anugerahkan rahmat kepada dan itulah kemenangan yang besar’.”

Demikian beberapa pengaruh negatif dari perbuatan dosa dan maksiat yang diringkas dari kitab Ad-Da`u wad Dawa` karya Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu hal. 85-99.

Melakukan perbuatan dosa dan kesalahan merupakan salah satu tabiat manusia. Meskipun Allah telah memperingatkan akan bahaya dosa dan kesalahan, bahkan dengan mengancam dengan siksa yang pedih, tetap saja banyak orang yang bergelimang dosa dan selalu bermaksiat. Bahkan manusia-manusia sekaliber nabi pun tak lepas dari dosa dan kesalahan ini.

Lalu bagaimanakah seharusnya kita sebagai seorang muslim menyikapi kecenderungan manusia untuk berbuat dosa dan kesalahan ini? Apakah kita menyerah begitu saja, karena memang ini tabiat manusia? 

Apakah kita membiarkan dosa-dosa menyeret kita ke neraka yang penuh siksa?

Bertaubat dari dosa menerbitkan cinta Allah dan pahala surga. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu mengatakan:

“Dosa-dosa itu akan mengurangi keimanan. Jika seorang hamba bertaubat, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencintainya. Derajatnya akan diangkat disebabkan taubatnya.

Sebagian salaf mengatakan: ‘Dahulu setelah Nabi Daud ‘alaihissalam bertaubat, keadaannya lebih baik dibandingkan sebelum terjatuh dalam kesalahan. Barangsiapa yang ditakdirkan untuk bertaubat maka dirinya seperti yang dikatakan Sa’id ibnu Jubair radhiyallahu ‘anhu:

“Sesungguhnya seorang hamba yang melakukan amalan kebaikan, bisa jadi dengan sebab amalan kebaikannya itu akan memasukkannya ke dalam neraka. Bisa jadi pula seorang hamba melakukan amalan kejelekan akan tetapi membawa dirinya masuk ke dalam surga. Hal itu karena ia membanggakan amalan kebaikannya. Sebaliknya, hamba yang terjatuh ke dalam kejelekan membawa dirinya untukmeminta ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni kesalahan-kesalahannya.”

Telah disebutkan dalam hadits yang shahih bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِمِ

“Amal-amal (seorang hamba) tergantung amalan-amalan yang dikerjakan pada akhir kehidupannya.”
Sesungguhnya kesalahan/dosa seorang mukmin akan dihapuskan dengan sepuluh sebab, sebagai berikut:

1.         Bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuninya. Karena seseorang yang bertaubat dari sebuah dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.

2.         Meminta ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuninya.

3.         Mengerjakan amalan-amalan kebaikan, karena amalan-amalan kebaikan akan menghapuskan amalan-amalan kejelekan.

4.         Mendapatkan doa dari saudara-saudaranya yang beriman. Mereka memberikan syafaat kepadanya ketika masih hidup dan sesudah meninggal.

5.         Mendapatkan hadiah pahala dari amalan-amalan saudara-saudaranya yang beriman agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan manfaat kepadanya dari hadiah tersebut.

6.         Mendapatkan syafaat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

7.         Mendapatkan musibah-musibah di dunia ini yang akan menghapuskan dosa-dosanya.

8.         Mendapatkan ujian-ujian di alam barzakh yang akan menghapus dosa-dosanya.

9.         Mendapatkan ujian-ujian di padang Mahsyar pada hari kiamat yang akan menghapuskan dosa-dosanya.

10.       Mendapatkan rahmat dari Arhamur Rahimin, Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Barangsiapa yang tidak memiliki salah satu sebab dari sebab-sebab yang bisa menghapuskan dosa-dosa ini, janganlah ia mencela kecuali kepada dirinya sendiri. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kelak di hari akhir:

يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ

“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya ini adalah amalan-amalanmu. Aku menghitungnya untukmu kemudian Aku membalasinya untukmu. Maka barangsiapa yang mendapatkan kebaikan hendaklah ia memuji Allah, dan barangsiapa yang mendapatkan selain daripada itu maka janganlah ia mencela kecuali kepada dirinya sendiri.” [HR. Muslim, 2577]


==========================================================
Sucikanlah 4 hal dengan 4 perkara :
"Wajahmu dengan linangan air mata keinsafan, Lidahmu basah dengan berzikir kepada Penciptamu, Hatimu takut dan gementar kepada kehebatan Rabbmu, ..dan dosa-dosa yang silam di sulami dengan taubat kepada Dzat yang Memiliki mu."


Akhir dari Sebuah Dosa Bab. 1


Allah swt. telah mengisahkan bagaimana menghancurkan kaum terdahulu karena diakibatkan dosa-dosa mereka, maka selayaknya kita mengambil ibrah (pelajaran) dari kisah-kisah kaum terdahulu yang telah binasa, ditimpa azab dan bencana. Allah swt. berfirman:

 “Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamakaan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamakaan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Al-Ankabuut [29] : 40).

Ada banyak akibat yang ditimbulkan dosa terhadap manusia, baik itu pada hatinya, maupun pada bentuk bencana-bencana yang dialami manusia. Hal ini mengingatkan kepada kita agar sungguh-sungguh memperhatikan kehidupan kita, bahwa dosa-dosa akan membawa pengaruh buruk dan mengakibatkan kerusakan bahkan kebinasaan kepada manusia.

Dosa dapat membuat hati keras dan buta dari kebenaran, akan menutup pintu hati dari melihat kebenaran dan membuatnya terbalik dalam menilai.

Setiap satu dosa yang dilakukan tanpa bertaubat itu akan menyebabkan terjadinya satu titik hitam pada hati. Itu baru satu dosa. Maka bayangkanlah bagaimana pula kalau sepuluh dosa? Seratus dosa? Seribu dosa? Alangkah hitam dan kotornya hati ketika itu.

Perkara ini jelas digambarkan dalam hadis Rasulullah bermaksud: "Siapa yang melakukan satu dosa, maka akan tumbuh pada hatinya setitik hitam, sekiranya dia bertaubat akan terkikislah titik hitam itu daripada hatinya. Jika dia tidak bertaubat, maka titik hitam itu akan terus merebak hingga seluruh hatinya menjadi hitam." (HR. Ibn Majah).

Hadis ini selaras dengan firman Allah yang artinya "Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka (karena dosa)." (QS. Al-Muthaffifiin, ayat 14).

Hati yang kotor dan hitam akan menjadi keras. Apabila hati keras, kemanisan dan kelezatan beribadah tidak dapat dirasakan. Ia akan menjadi penghalang kepada masuknya nur iman dan ilmu. Belajar sebanyak mana pun ilmu yang bermanfaat atau ilmu yang boleh memandu kita, namun ilmu itu tidak akan masuk ke dalam hati, kalau pun kita faham, tidak ada daya dan kekuatan kita untuk mengamalkannya.

Allah berfirman yang bermaksud "Kemudian selepas itu, hati kamu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Pada hal antara batu-batu itu ada yang terpancar dan mengalir sungai daripadanya, dan ada pula antaranya yang pecah-pecah terbelah lalu keluar mata air daripadanya. Dan ada juga antaranya yang jatuh ke bawah karena takut kepada Allah sedang Allah tidak sekali-kali lalai daripada apa yang kamu kerjakan." (QS Al-Baqarah, ayat 74).

Begitulah Allah mendatangkan contoh dan menerangkan bahwa batu yang keras itu pun ada kalanya bisa mengalirkan air dan bisa terpecah karena amat takut pada Allah.

Oleh itu, apakah hati manusia lebih keras daripada batu hingga tidak bisa menerima petunjuk dan hidayah daripada Allah.

Imam Al-’Allamah Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullahu menyebuntukan secara panjang lebar dampak negatif dari dosa, diantaranya:

1. Terhalang dari ilmu yang haq. Karena ilmu merupakan cahaya yang dilemparkan ke dalam hati sementara maksiat akan memadamakaan cahaya.

Tatkala Imam Syafi’i rahimahullahu belajar kepada Imam Malik rahimahullahu, Imam Malik terkagum-kagum dengan kecerdasan dan kesempurnaan pemahaman Syafi’i. Imam Malik pun berpesan pada murid ini “Aku memandang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memasukkan cahaya ilmu di hatimu. maka janganlah engkau padamakaan cahaya tersebut dengan kegelapan maksiat.”

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu pernah bersajak:
شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِي
فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي
وَقَالَ اعْلَمْ بِأَنَّ الْعِلْمَ نور
وَ نور اللهِ لاَ يُؤْتاَهُ للمعَاصِ

“Aku mengeluhkan jelek hafalanku kepada Waki’
Maka ia memberi bimbingan kepadaku agar meninggalkan maksiat
Ia berkata “Ketahuilah ilmu itu merupakan cahaya
dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang berbuat maksiat.”1

2. Terhalang dari rizki dan urusan dipersulit.
Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mendatangkan rizki dan memudahkan urusan seorang hamba sebagaimana firman-Nya:

وَ مَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagi orang tersebut jalan keluar dan memberi rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”

وَمَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan bagi kemudahan dalam urusannya.”
Meninggalkan takwa berarti akan mendatangkan kefakiran dan membuat si hamba terbelit urusannya.

3. Hati terasa jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan merasa asing dengan-Nya sebagaimana jauh pelaku maksiat dari orang-orang baik dan dekat dengan setan.

4. Menggelapkan hati si hamba sebagaimana gelap malam. Karena ketaatan adalah cahaya sedangkan maksiat adalah kegelapan. Bila kegelapan itu bertambah di dalam hati akan bertambah pula kebingungan si hamba. Hingga ia jatuh ke dalam bid’ah kesesatan dan perkara yang membinasakan tanpa ia sadari. Sebagaimana orang buta yang keluar sendirian di malam yang gelap dengan berjalan kaki.

Bila kegelapan itu semakin pekat akan tampaklah tanda di mata si hamba. Terus demikian hingga tampak di wajah yang menghitam yang terlihat oleh semua orang.

5. Maksiat akan melemahkan hati dan tubuh Karena kekuatan seorang mukmin itu bersumber dari hatinya. Semakin kuat hati semakin kuat tubuhnya. Adapun orang fajir/pendosa sekalipun badan tampak kuat namun sebenar ia selemah-lemah manusia.

6. Maksiat akan ‘memperpendek‘ umur dan menghilangkan keberkahan sementara perbuatan baik akan menambah umur dan keberkahannya. Mengapa demikian? Karena kehidupan yang hakiki dari seorang hamba diperoleh bila hati hidup. Sementara orang yang hati mati walaupun masih berjalan di muka bumi hakikat ia telah mati. Oleh karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan orang non muslim adalah mayat dalam keadaan mereka masih berkeliaran di muka bumi:

أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ

“Mereka itu adalah orang-orang mati yang tidak hidup.”

Dengan demikian kehidupan yang hakiki adalah kehidupan hati. Sedangkan umur manusia adalah hitungan kehidupannya. Berarti umur tidak lain adalah waktu-waktu kehidupan yang dijalani Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menghadap kepada-Nya mencintai-Nya mengingat-Nya dan mencari keridhaan-Nya. Di luar itu tidaklah terhitung sebagai umurnya.

Bila seorang hamba berpaling dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyibukkan diri dengan maksiat berarti hilanglah hari-hari kehidupan yang hakiki. Di mana suatu hari nanti akan jadi penyesalan baginya:

يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي

“Aduhai kira dahulu aku mengerjakan amal shalih untuk hidupku ini.”

7. Satu maksiat akan mengundang maksiat lain sehingga terasa berat bagi si hamba untuk meninggalkan kemaksiatan. Sebagaimana ucapan sebagian salaf: “Termasuk hukuman perbuatan jelek adalah pelaku akan jatuh ke dalam kejelekan yang lain. Dan termasuk balasan kebaikan adalah kebaikan yang lain. Seorang hamba bila berbuat satu kebaikan maka kebaikan yang lain akan berkata ‘Lakukan pula aku.’ Bila si hamba melakukan kebaikan yang kedua tersebut maka kebaikan ketiga akan berucap yang sama. Demikian seterusnya. Hingga menjadi berlipatgandalah keuntungan kian bertambahlah kebaikannya. Demikian pula kejelekan.”

8. Maksiat akan melemahkan hati dan secara perlahan akan melemahkan keinginan seorang hamba untuk bertaubat dari maksiat hingga pada akhir keinginan taubat tersebut hilang sama sekali.

9. Orang yang sering berbuat dosa dan maksiat hati tidak lagi merasakan jelek perbuatan dosa. Malah berbuat dosa telah menjadi kebiasaan. Dia tidak lagi peduli dengan pandangan manusia dan acuh dengan ucapan mereka. Bahkan ia bangga dengan maksiat yang dilakukannya.

Bila sudah seperti ini model seorang hamba ia tidak akan dimaafkan sebagaimana berita dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِيْنَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَََّيْلِ عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ عَلَيْهِ فيَقُوْلُ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا. وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ

“Setiap umatku akan dimaafkan kesalahan/dosa kecuali orang2 yang berbuat dosa dengan terang-terangan. Dan termasuk berbuat dosa dengan terang-terangan adalah seseorang melakukan suatu dosa di waktu malam dan Allah menutup perbuatan jelek yang dilakukan tersebut, namun di pagi hari ia berkata pada orang lain “Wahai Fulan tadi malam aku telah melakukan perbuatan ini dan itu.” Padahal ia telah bermalam dalam keadaan Rabb menutupi kejelekan yang diperbuatnya. Namun ia berpagi hari menyingkap sendiri tutupan Allah yang menutupi dirinya.”

10. Setiap maksiat yang dilakukan di muka bumi ini merupakan warisan dari umat terdahulu yang telah dibinasakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Perbuatan homoseksual adalah warisan kaum Luth. Mengambil hak sendiri lebih dari yang semestinya dan memberi hak orang lain dengan mengurangi adalah warisan kaum Syu’aib. Berlaku sombong di muka bumi dan membuat kerusakan adalah warisan dari kaum Fir’aun. Sombong dan tinggi hati adalah warisan kaum Hud.

11. Maksiat merupakan sebab dihinakan seorang hamba oleh Rabbnya. Bila Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghinakan seorang hamba maka tidak ada seorang pun yang akan memuliakannya.

وَمَنْ يُهِنِ اللهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ

“Siapa yang dihinakan Allah niscaya tidak ada seorang pun yang akan memuliakannya.”

Walaupun mungkin secara zhahir manusia menghormati Karena kebutuhan mereka terhadap atau mereka takut dari kejelekan namun di hati manusia ia dianggap sebagai sesuatu yang paling rendah dan hina.

12. Bila seorang hamba terus menerus berbuat dosa pada akhir ia akan meremehkan dosa tersebut dan menganggap kecil. Ini merupakan tanda kebinasaan seorang hamba. Karena bila suatu dosa dianggap kecil maka akan semakin besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Imam Bukhari rahimahullahu dalam Shahihnya- menyebutkan ucapan sahabat yang mulia Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا

“Seorang mukmin memandang dosa-dosa seakan-akan ia duduk di bawah sebuah gunung yang ditakuntukan akan jatuh menimpanya. Sementara seorang fajir/pendosa memandang dosa-dosa seperti seekor lalat yang lewat di atas hidung ia cukup mengibaskan tangan untuk mengusir lalat tersebut.”



==========================================================
Sucikanlah 4 hal dengan 4 perkara :
"Wajahmu dengan linangan air mata keinsafan, Lidahmu basah dengan berzikir kepada Penciptamu, Hatimu takut dan gementar kepada kehebatan Rabbmu, ..dan dosa-dosa yang silam di sulami dengan taubat kepada Dzat yang Memiliki mu."



 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes