19 Agu 2011

Ramadhan Untuk Kita

Perjalanan kita di bulan Ramadhan tinggal sebentar lagi, setengah dari bulan Ramadhan telah kita lewati bersama. Ada sebagian orang yang mengisi hari-hari di bulan berkah ini dengan berbagai ibadah yang telah dicontohkan rosululloh SAW agar bisa mendekatkan diri kepada sang pencipta alam semesta.

Namun ada sebagian lagi yang mengisinya dengan hal-hal yang biasa sebagaimana ia lakukan di hari-hari yang lain. Ramadhan yang hanya tiba satu tahun sekali ini pun berlalu tanpa kesan apapun kecuali  terjadi pergeseran kebiasaan makan dan rutinitas harian.

Semoga kita termasuk orang yang menghargai setiap waktu yang lewat dibulan penuh berkah dan ampunan ini. Ramadhan yang tinggal sebentar lagi, marilah kita isi dengan hal-hal yang lebih baik dari hari-hari sebelumnya. 

Bagi yang sudah mengisinya dengan maksimal untuk lebih dimaksimalkan lagi hingga akhir waktu dari bulan ramadhan agar kita menjadi khsunul khatimah. Dan bagi yang belum maksimal, inilah saatnya kita untuk berinstropeksi diri dengan menambah berbagai bentuk ibadah dan mengisi hari-hari kedepan dengan amal shalih agar kita sampai ke puncak dimana malam lailatul qadar yang kita dambakan sama-sama.

Sepuluh hari pertama telah kita lewati, apakah kita benar-benar telah melewatinya dengan mendapatkan rahmat dari Alloh sebagaimana yang termaktub dalam hadist yang diriwayatkan oleh sahabat Salman Al Farisi: “Adalah bulan Ramadhan, awalnya rahmat, pertengahannya maghfirah dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”

Dan apakah di sepuluh hari kedua ini kita pantas mendapatkan maghfirah dari Alloh ta'ala. Marilah kita jawab sendiri dalam renungan kita dengan melihat setiap amalan yang telah kita lakukan.

Dan satu hari lagi kita akan memasuki sepuluh hari terakhir dengan balasan 'itqu min an-nar atau pembebasan dari api neraka. Apakah yang harus kita lakukan agar kita sampai dengan hasil tersebut bahkan lebih dari itu.

Dalam hadist Shahihain diriwayatkan oleh Imam Bukhori, "Dari ummul mukminin, Aisyah ra., menceritakan tentang kondisi Nabi saw. ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan: “Beliau jika memasuki sepuluh hari terkahir Ramadhan, mengencangkan ikat pinggang, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.”

Dalam hadist yang diriwayatkan Imam Muslim juga menjelaskan “Biasanya Rasulullah bersungguh-sungguh beribadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan melebihi kesungguhan beliau pada malam-malam yang lain”.
Apa rahasia perhatian lebih beliau terhadap sepuluh hari terakhir Ramadhan? Paling tidak ada dua sebab utama:

Sebab pertama, karena sepuluh terkahir ini merupakan penutupan bulan Ramadhan, sedangkan amal perbuatan itu tergantung pada penutupannnya atau akhirnya. Rasulullah saw. berdo’a:
اللهم اجعل خير عمري آخره وخير عملي خواتمه وخير أيامي يوم ألقاك
Ya Allah, jadikan sebaik-baik umurku adalah penghujungnya. Dan jadikan sebaik-baik amalku adalah pamungkasnya. Dan jadikan sebaik-baik hari-hariku adalah hari di mana saya berjumpa dengan-Mu Kelak.”

Sebab kedua, karena dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah turunnya lailatul qadar,  sebagaimana hadist nabi SAW yang artinya : “Carilah lailatul qadar di sepuluh terakhir Ramadhan.”

Banyak hadits yang menerangkan lailatul qadar berada di sepuluh hari terakhir. Dan juga banyak hadits yang menerangkan lailatul qadar ada di bilangan ganjil akhir Ramadhan. Rasulullah saw. bersabda:
التمسوها في العشر الأواخر وفي الأوتار
“Carilah lailatul qadar di sepuluh hari terakhir dan di bilangan ganjil.”

Karena tidak ada kesamaan antara berbagai negara dalam menetapkan awal bulan ramadhan, ada yang sudah ganjil dan ada yang genap. Maka dari itu, marilah kita ibadah di sepuluh hari terakhir Ramadhan baik itu malam ganjil ataupun malam yang genap untuk mendapatkan ridlo Alloh swt.

Patut kita renungkan bersama, “Laa takuunuu Ramadhaniyyan, walaakin kuunuu Rabbaniyyan. Janganlah kita menjadi hamba Ramadhan, tapi jadilah hamba Tuhan.” 

Karena ada sebagian manusia yang menyibukkan diri di bulan Ramadhan dengan keta’atan dan qiraatul Qur’an, kemudian ia meninggalkan itu semua bersamaan berlalunya Ramadhan.

Dan marilah kita renungkan bersama saudaraku seiman, "Boleh jadi ini adalah bulan Ramadhan terakhir bagi kita. Tidak akan kita temukan lagi di tahun-tahun mendatang. Karena itu isilah bulan ramadhan yang tersisa hari-hari yang mulia ini dengan kesungguhan sebagaimana kita akan berpisah." 

Setiap tahun kita berpuasa ramadhan, tetapi obsesi sebagian kita sebatas menggugurkan kewajiban. Maka pada ramadhan tahun ini, hendaknya yang menjadi obsesi kita adalah merealisasikan makna puasa yang Imanan wahtisaban agar kita mendapatkan ampunan atas dosa-dosa kita yang lalu.

Setiap tahun kita mengkhatamkan al Qur’an berkali-kali. Maka Hendaknya pada salah satu pengkhataman kita tahun ini disertai tadabbur, perenungan terhadap makna-maknanya serta komitmen untuk mengikuti petunjuknya, menjalankan perintahNya dan meninggalkan laranganNya.

Pada awal-awal bulan kita begitu antusias untuk mendapatkan shalat berjamaah bersama Imam. Maka sedapat mungkin tahun ini sepanjang bulan kita kita ketinggalan takbiratul ihram bersama Imam. (Ba)

0 komentar:

Posting Komentar

terima kasih sudah meninggalkan tilasan disini.

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes