21 Feb 2013

Bukan Kyai Versi Gus Mus

Isu yang dulu pernah merebak tentang wacana usulan sertifikasi ulama yang diutarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk mencegah gerakan terorisme di Indonesia, seperti menjadi wacana lucu dalam kehidupan sehari-hari, seperti drama komedi tv buat selingan.

KH Mustofa Bisri (Gus Mus) pada saat memberikan taushiyah dalam acara peringatan Tahlil Akbar Seribu Hari wafatnya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Ciganjur, Jakarta pada bulan September 2012 lalu, pernah menyinggung soal sertifikasi kyai itu.
Karena menurut saya wacana ini masih layak untuk di perbincangkan terutama fenomena kyai dadakan dengan kyai yang memang bener-bener kyai, agar masyarakat bisa menilainya sendiri.
Sebenarnya seorang yang memang benar-benar kyai itu bisa dilihat langsung dari sepak terjangnya selama ini, atau cara pencapaian ilmu yang dulu didapatnya. Tidak hanya membaca buku terjemahan atau dari cara cepat mbah googele.
Namun menurut simbah Gus Mus, ada ciri-ciri bagaimana yang bukan kyai itu bisa dibedakan dari sang kyai.
Yang pertama : Gampang kaget, bentar-bentar kaget atau langsung ramai mendengar berita yang dianggap menghebohkan… ada lady gaga kaget… bulan ramadhan datang langsung gerebek warung, dan seterusnya.
Yang kedua : Ada pertanyaan semuanya di jawab.
Itu tanda-tanda orang baru jadi kyai… belum tutug (selesai)  ngajinya  dah keburu terkenal, jadi berhenti ngajinya. Jika orang itu benar-benar memahami ilmu, maka ia tidak akan mengatakan apa yang memang ia tidak ketahui.
Belajarlah menjadi kyai sebagaimana kyai-kyai dahulu  belajar, seperti yang pernah terjadi pada Imam Malik bin Anas, pendiri madzhab Maliki.

Datang seseorang, kepada Imam Malik Bin Anas Rahimahullah, dan bertanya:” Wahai Abu Abdullah aku datang kepadamu dari daerah yang jaraknya sekitar 6 bulan perjalanan, aku membawa beberapa permasalahan yang dihadapi oleh kaumku, maka aku akan menanyakan kepada Anda.” Imam Malik menjawab “Silahkan tanyakan.” Setelah tamu tersebut selesai bertanya, Imam Malik berkata:” Aku tidak menguasai permasalahan ini.” Tamu tersebut berkata :” Lalu apa yang akan aku sampaikan kepada kaumku saat aku kembali.” Maka Imam Malik berkata:” Katakan kepada mereka, bahwa Malik bin Anas tidak menguasai permasalahan tersebut.”

Begitupun dengan Imam Asy-Sya’bi Rahimahullah pernah ditanya dalam suatu masalah. Beliau menjawab, "Saya tidak tahu". Maka si penanya heran dan berkata, "Apakah kamu tidak malu mengatakan "tidak tahu", padahal engkau adalah ahlul fiqh negeri Iraq?" Beliau menjawab, "Tidak, karena para malaikat sekalipun tidak malu mengatakan tidak tahu, ketika Allah tanya: "Sebutkan kepadaKu nama benda-benda itu jika kamu memang benar!"(Al-Baqoroh:31). Maka para malaikat menjawab: "Mereka menjawab: Mahasuci Engkau, tidak ada ilmu bagi kami selain dari apa yang telah engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana" (Al-Baqoroh:32)

Ada satu nasihat dari seorang Ulama’ sebagai berikut: "Belajarlah engkau untuk mengucapkan ‘Saya tidak tahu’. Dan janganlah belajar mengatakan ’saya tahu’ (pada apa yang kamu tidak tahu), karena sesungguhnya jika engkau mengucapkan ’saya tidak tahu’ mereka akan mengajarimu sampai “engkau tahu". Tetapi jika engkau mengatakan ‘tahu’, mereka akan menghujanimu dengan pertanyaan hingga mereka tahu bahwa kamu “tidak tahu".

Perhatikan pula ucapan Imam Asy-Sya’bi Rahimahullah,"Kalimat ’saya tidak tahu’ adalah setengah ilmu".



0 komentar:

Poskan Komentar

terima kasih sudah meninggalkan tilasan disini.

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes