28 Jan 2011

Amal Perbuatan yang Tidak Diterima


Hadirin Jamaah Jumat yang di rahmati Alloh SWT.
Alhamdulillah, tentu merupakan satu kenikmatan dan kebahagiaan yang tiada terhingga bahwa pada hari ini kita masih  bisa mengikuti Ibadah Sholat Jumat bersama, Hari yang merupakan sayyidul ayyam bagi umat kaum muslimin. 

Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata: "Hari ini dinamakan Jum'at, karena artinya merupakan turunan dari kata al-jam'u yang berarti perkumpulan, karena umat Islam berkumpul pada hari itu setiap pekan di balai-balai pertemuan yang luas. Allah ta'ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin berkumpul untuk melaksanakan ibadah kepada-Nya. Allah ta'ala berfirman  :
" Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui". (QS. 62:9)

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata: Hari Jum'at adalah hari ibadah. Hari ini dibandingkan dengan hari-hari lainnya dalam sepekan, laksana bulan Ramadhan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Waktu mustajab pada hari Jum'at seperti waktu mustajab pada malam lailatul qodar di bulan Ramadhan. (Zadul Ma'ad: 1/398(
Hadirin Jamaah sholat jumat  Rahimakumulloh,
Pada kesempatan kali  ini dimana kita sekarang berada pada hari  yang istimewa ini,  marilah kita bersama-sama merenungkan diri dari kehidupan kita yang fana ini, kehidupan yang cuma sebentar ini. Apakah tujuan kita diciptakan dan diturunkan ke bumi ini?

Sesungguhnya Alloh ta'ala telah berfirman : "Dan tidaklah kami menciptakan manusia kecuali untuk beribadah"
Dan juga firman Alloh ta'ala yang artinya:
"Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan di kembalikan kepadaNya"(QS. Al mu'minun ; 115)

Ibnu Katsir berkata pada kitab tafsirnya "apakah kalian mengira bahwa kalian diciptakan dengan main-main, tanpa maksud dan tujuan, dan kamu tidak dikembalikan kepada kami "
Ayat diatas menjelaskan bahwa kita diciptakan dengan maksud dan tujuan yang telah di tentukan yaitu untuk taat beribadah kepada yang maha kuasa. Jadi, tidaklah hidup kita ini sia-sia kecuali diri kita sendiri yang menyia-nyiakan yaitu dengan tidak mematuhi terhadap perintah-perintah Alloh ta'ala.

Dengan tidak mentaati dan mengikuti perintah Alloh ta'ala adalah penyebab utama dari hidup  yang sia-sia. Sehingga segala amal perbuatan kita tidak di terima olehNya. Diantara amal perbuatan yang menjadi sia-sia adalah di sebabkan juga karena faktor lain. Diantara hal –hal tersebut antara lain..
1.             Amalan yang tidak bertolak dari ikhlash dan tidak sesuai dengan anjuran pada sunnah Rosuul,
Merupakan suatu kewajiban bagi orang-orang yang mempunyai semangat dari kalangan para ‘Ulama ummat ini dan para penyeru Sunnah yang selalu mengikuti petunjuk Nabi Muhammad  SAW untuk melaksanakan kewajiban menerangkan pokok-pokok dien (agama), menjelaskan prinsip-prinsip manhaj Salafus Shoolih, menampakkan jalannya agar ummat ini dapat membedakan mana yang haq dan mana yang baathil diantara berbagai fitnah yang mengepung di zaman sekarang ini.
Karena generasi terakhir dari ummat ini tidak akan mengalami kejayaan, kecuali mereka mencontoh generasi yang pertama (yakni generasi Shohabat, taabi’in, taabi’ut taabi’in), sebagaimana Imaam Maalik rohimahulloh berkata,
Dan akhir ummat ini tidak akan baik kecuali dengan apa yang membuat generasi pendahulu ummat ini baik. Dan sesuatu yang pada hari itu (di masa Rosuulullooh  SAW tidak merupakan bagian dari dien(agama), maka hari ini tidak bisa disebut dien(agama).”
Syarat dari suatu Ittiba’(mengikuti sunnah Rasululloh), ada 3 (tiga) yakni:
Harus ada Dalil
Dalilnya adalah Shahih
Dalil tersebut difahami berdasarkan pemahaman yang benar (shahih), yakni: pemahaman para As-Salafush Sholih (pemahaman dari tiga generasi manusia terbaik yang direkomendasikan oleh Rosuulullooh SAW sendiri, yaitu: Shohabat, Taabi’in danTaabi’ut Taabi’in)
Alloh ta'ala berfirman:
"Apa yang diberikan Rosul kepadamu maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah…" (QS. Al Hasyr (59) ayat 7)
"Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Alloh, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Alloh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu"(QS. Ali ‘Imron (3) ayat 31 (

2.             Harta yang tidak diinfaqkan, dimana pemiliknya tidak menikmatinya di dunia terlebih lagi membelanjakannya untuk kepentingan akheratnya,
Diceritakan bahwa sahabat bernama Abu Thalhah r.a. Dalam sebuah hadits yang bersumber dari sahabat Anas bin Malik r.a. dia menceritakan:
Abu Thalhah r.a. adalah orang anshar yang paling banyak  pohon kurma di Madinah. Harta yang paling dicintainya adalah kebun Bairaha’ yang menghadap (dekat) masjid. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam sering masuk kebun itu dan minum air bersih yang berada di dalamnya. Anas berkata, “Ketika turun ayat ini, ‘Sekali-kali kamu tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.’ Abu Thalhah menghadap Rosululloh SAW dan berkata, “Ya Rosululloh, sesungguhnya Alloh subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat ini kepadamu: ‘Sekali-kali kamu tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.’ Dan bahwasanya kekayaanku yang paling aku cintai adalah kebun Bairaha’, dan kebun itu aku sedekahkan karena Alloh subhanahu wa ta’ala dan aku mengharap kebajikan dan simpanan yang baik di sisi Alloh subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu pergunakanlah ya Rosululloh, sesuai dengan petunjuk Alloh yang diberikan kepadamu. Maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bagus, itu adalah investasi  yang menguntungkan, itulah investasi yang menguntungkan. Aku telah mendengar apa yang kamu katakan tadi, dan aku berpendapat, hendaklah engkau membagikan kepada kepada sanak kerabat.” Maka Abu Thalhah berkata, “Aku akan kerjakan, ya Rosululloh.” Kemudian Abu Thalhah membagi-bagikan kebun itu kepada sanak kerabat dan keponakan-keponakannya.

Kisah ini menunjukkan bahwa infak yang paling utama adalah dengan menggunakan kekayaan yang paling baik dan paling dicintai oleh seorang hamba.
Sesungguhnya  Harta kekayaan yang dipersembahkan kehadapan Rabbnya untuk suatu hari yang tidak bermanfaat lagi harta dan anak-anak merupakan investasi yang menguntungkan dan perdagangan yang tidak akan merugi, Karena Firman Alloh subhanahu wa ta’ala: "Apa yang ada sisimu akan lenyap, dan apa yang ada pada sisi Alloh adalah kekal." (QS. An Nahl : 96)

3.       Waktu yang tidak dihabiskan untuk mengejar kealpaan, atau bergegas dalam kebajikan dan pendekatan diri pada Alloh SWT,
Masa(waktu) adalah modal utama manusia. Apabila tidak diisi dengan kegiatan, waktu akan berlalu begitu. Ketika waktu berlalu begitu saja, jangankan keuntungan diperoleh, modal pun telah hilang. Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. pernah bersabda,
Rezeki yang tidak diperoleh hari ini masih dapat diharapkan perolehannya lebih banyak di hari esok, tetapi waktu yang berlalu hari ini, tidak mungkin kembali esok.”
Jika demikian waktu harus dimanfaatkan. Apabila tidak diisi, yang bersangkutan sendiri yang akan merugi. Bahkan jika diisi dengan hal-hal yang negatif, manusia tetap diliputi oleh kerugian. Dari sini pula ditemukan sekian banyak hadis Nabi Saw. yang memperingatkan manusia agar mempergunakan waktu dan mengaturnya sebaik mungkin. Dari Ibnu Mas’ud r.a. dari Nabi SAW beliau bersabda:
Tidak akan bergerak kaki anak Adam pada hari kiamat dari sisi Rabbnya sampai dia ditanya dengan lima pertanyaan: Tentang umurnya kemana dia habiskan, tentang masa mudanya dimana dia usahakan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan kemana dia belanjakan, dan apa yang sudah dia amalkan dari ilmunya?” (HR. At-Tirmizi no. 2416 dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7299)

Tidak pelak lagi bahwa waktu harus diisi dengan berbagai aktivitas positif. Dalam surat Al-’Ashr disebutkan empat hal yang dapat menyelamatkan manusia dari kerugian dan kecelakaan besar dan beraneka ragam. Yaitu,
·         yang beriman,
·         yang beramal saleh,
·         yang saling berwasiat dengan kebenaran, dan
·         yang saling berwasiat dengan kesabaran.
Dalam surat Al-Furqan ayat 23 Allah menegaskan,
"dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan."
Yang dimaksud dengan amal mereka disini ialah amal-amal mereka yang baik-baik yang mereka kerjakan di dunia, amal-amal itu tak dibalasi oleh Allah karena mereka tidak dilandasi atas dasar iman. demikianlah bunyi sebuah ayat yang merupakan “undang-undang Ilahi.

4.             Ilmu yang tidak diamalkan, Alloh ta'ala berfirman:''Sungguh besar kemurkaan Allah kepada mereka yang mengatakan (ilmu) tetapi tidak mengamalkan.'' (As-Saff:3(
5.             Dan hati yang kosong dari cinta dan rindu terhadap Allooh SWT,
6.             Dan badan yang tidak difungsikan untuk tho’ah dan berkhidmah pada Alloh SWT,
Para Hadirin dan Hadirat yang Dimuliakan Allah
Diantara hal-hal diatas yang terparah adalah dua yaitu menyia-nyiakan hati dan menyia-nyiakan waktu; hati menjadi sia-sia dengan sikap mengedepankan kepentingan duniawi diatas kepentingan akherat dan waktu sia-sia karena tenggelam dalam angan-angan yang sangat panjang.
Sehingga kerusakan itu pada hakekatnya terpusat pada mengikuti hawa nafsu dan panjangnya angan-angan, dan sebagaimana seluruh kabajikan itu terpusat pada mengikuti hidayah dan bersiap untuk bertemu dengan Alloh SWT.

0 komentar:

Posting Komentar

terima kasih sudah meninggalkan tilasan disini.

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes