20 Feb 2013

Dialog Agama; antara Akidah dan Toleransi


Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral (Photo: http://ocieyzoet.blogspot.com)
Sesungguhnya perbedaan manusia dalam beragama dan akidah adalah sunnah (hukum) yang telah di tetapkan oleh Allah ta’ala dengan tujuan dan hikmah yang besar sebagai ujian dan cobaan.
Allah ta’ala telah berfirman : “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka Senantiasa berbeda, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. dan untuk Itulah Allah menciptakan mereka. kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: Sesungguhnya aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya”. ( Q.S. Hud ; 118-119).  
Yang dimaksud dengan berbeda disini adalah berbeda dalam agama, dan bukan perbedaan dalam warna kulit, bahasa, bangsa dan lainnya. Dan perbedaan yang paling mendasar antar agama adalah perbedaan antara umat muslim dan ahli kitab (yahudi dan nasrani).
Sejak diutusnya Nabi Muhammad saw. dan para sahabat yang mengikuti risalah islamnya hingga akhir zaman ketika turunnya nabiyullah ‘Isa ‘alaihissalam, perbedaan itu akan tetap terjadi, Allah ta’ala berfirman : “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". (Q.S. Al Baqarah ; 120)
Kristen dan dialog
Pada saat sekarang ini dan khususnya sejak pertengahan abad terakhir setelah Konsili Vatikan II (1962 - 1965 M), muncul perkembangan baru dalam metode penyebaran dan pengajaran agama kristen, sebuah kristenisasi di bawah jubah dialog dan perbaikan hubungan serta kerjasama mengenai isu-isu umum antar agama.
Metode baru ini, yakni kristenisasi dengan berdialog, bertujuan untuk memperbaiki kristenisasi setelah kekalahannya dari ajaran sekuler dalam beberapa tahun terakhir, terutama karena masyarakat barat telah membayangkan hal-hal yang negatif tentang Gereja pada abad pertengahan dan renaissance (pencerahan) serta era modern, sehingga membuat dunia barat menjadi terbuka seperti sekarang. Dan agama dianggap sebagai ancaman bagi gereja di masa depan, terutama dengan peningkatan  masuknya orang-orang kristen ke dalam ajaran islam.
Dialog dalam Islam
Pada masa-masa sebelumnya, ulama-ulama islam belum pernah  berurusan dengan agama lain kecuali untuk berdakwah dan berjihad menyebarkan kalimat tauhid. Sebagaimana yang diajarkan dalam kitab suci Al-Quran yang menghendaki Nabi dan pengikutnya menyampaikan dan menyuarakan Islam lewat argumentasi, hikmah, dialog, dan debat dalam cara terbaik, entah kepada kaum Muslim sendiri maupun kepada kaum diluar pemeluk Islam. Ini sesuai dengan firman-Nya: “Serulah (manusia) pada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. (QS. Al-Nahl : 125).
Atau pada firman-Nya yang lain; “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik”. (QS. al-Ankabut: 46).
Dari dua ayat diatas mengungkapkan strategi dakwah agama Islam yang dilandasi argumentasi, dalil, dan debat terbaik. Bahkan, kalangan ahli tafsir menjelaskan bahwa debat terbaik (jidal ahsan) merupakan dialog peradaban atau debat dalam semangat persaudaraan, kelembutan, jauh dari ucapan kotor dan cacimaki.
Metode Dialog Agama
Sebelum masuk lebih dalam lagi tentang pendekatan yang tepat (almanhaj asshahih) seputar dialog antar agama, agar slogan "dialog antar agama" tidak terbebani dengan banyaknya makna dan ideologi palsu sehingga membuat pikiran setiap orang yang mendengarnya menjadi berpandangan negatif, maka perlu adanya pembedaan dalam pokok pembahasan antara tujuan asli dari dialog agama dengan sesempilan yang ikut terbawa dari urusan dunia. Karena pada saat ini, fakta menunjukan bahwa lembaga-lembaga Islam yang ada sekarang lebih didasarkan pada pendekatan dialog yang bertentangan dengan pendekatan rabbani. Yaitu pendekatan yang telah diajarkan dalam Al Quran dan As Sunnah.
Agar lebih jelasnya, bahwa dialog dengan non-muslim terbagi menjadi dua bidang:
1) Dialog dalam hal duniawi, dan ini disebut juga negosiasi kebijakan yang masih dalam ketentuan Islam, seperti dalam perdamaian dan perjanjian dan penanganan terkait masalah duniawi, dan tidak ada hubungan yang berkaitan seputar akidah dan agama, Hal  ini dimaksudkan untuk hidup berdampingan dengan damai dan tentram dengan saling menghormati.
2) Dialog mengenai masalah-masalah agama, yaitu dialog dalam hal agama dan konsep iman dan isu-isu yang menjadi perbedaan, seperti tauhid dan iman dan hari kebangkitan, dan lain sebagainya.
Jika dialog dalam hal-hal duniawi tidak memerlukan pembuktian dan pembenaran, maka dialog dalam masalah-masalah agama ini, memerlukan pemahaman dan penguatan dari dalil-dalil yang kuat baik dari segi akli (akal) maupun nakli (al-quran dan as sunnah shahihah).
Dengan adanya pembedaan semacam ini, sehingga tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan dalam pembahasan dialog agama, sehingga berjalan dengan baik dan mampu menghasilkan  sesuai tujuan.
Tujuan dari dialog agama tidak lain adalah untuk memperlihatkan dan membuktikan kebenaran Islam itu sendiri, sehingga pengikut agama lain, berdasarkan intuisi dan pengetahuan, dapat melangkah ke jalan yang lurus dan benar dengan tidak memberikan ruang untuk bernegossiasi dalam masalah akidah dan iman. Namun, pada saat yang sama, Islam tetap percaya bahwa ruang dialog itu tetap terbuka sekalipun tidak meninggalkan hasil yang diinginkan, yakni pelaku dialog tetap berpegang teguh kepada ajaran agamanya masing-masing.
Hal ini sekaligus untuk menyanggah pernyatan Dr. Mariam Ait Ahmed yang mengatakan “Dialog agama, yang mana para pemuka agama atau pakarnya saling bertemu untuk bertukar pendapat dengan metode yang tepat tentang kepercayaan agama mereka. Dengan saling menghormati satu sama lain.”1.
Karena dalam akidah dan kepercayaan tidak ada tawar menawar dan bertukar satu sama lain, sebagaimana yang telah di contohkan oleh Rasulullah dalam menghadapi kafir Quraisy.
Asbabun nuzul surah Al Kafirun
Telah diriwayatkan bahwa Walid bin Mugirah, ‘As bin Wail As Sahmi, Aswad bin Abdul Muttalib dan Umaiyah bin Khalaf bersama rombongan pembesar-pembesar Quraisy datang menemui Nabi SAW. menyatakan, “Hai Muhammad! Marilah engkau mengikuti agama kami dan kami mengikuti agamamu dan engkau bersama kami dalam semua masalah yang kami hadapi, engkau menyembah Tuhan kami setahun dan kami menyembah Tuhanmu setahun. Jika agama yang engkau bawa itu benar, maka kami berada bersamamu dan mendapat bagian darinya, dan jika ajaran yang ada pada kami itu benar, maka engkau telah bersekutu pula bersama-sama kami dan engkau akan mendapat bagian pula daripadanya”. Beliau menjawab, “Aku berlindung kepada Allah dari mempersekutukan-Nya”. Lalu turunlah surah Al Kafirun sebagai jawaban terhadap ajakan mereka.
Kemudian Nabi SAW pergi ke Masjidilharam menemui orang-orang Quraisy yang sedang berkumpul di sana dan membaca surah Al Kafirun, maka mereka berputus asa untuk dapat bekerja sama dengan Nabi SAW. Sejak itu mulailah orang-orang Quraisy meningkatkan permusuhan mereka ke pada Nabi dengan menyakiti beliau dan para sahabatnya, sehingga tiba masanya hijrah ke Madinah.
”Lakum Diinukum Waliya Diin” Ayat pamungkas yang merupakan ringkasan dan kesimpulan seluruh kandungan surat Al-Kaafirun, secara umum semakna dengan firman Allah yang lain dalam QS. Yunus [10]: 41, dan mungkin juga QS. Al-Qashash [28]: 55, serta yang lainnya. Dimana semuanya berintikan pernyataan dan ikrar ketegasan sikap setiap orang beriman terhadap setiap orang kafir, tanpa adanya sedikitpun toleransi, kompromi dan pencampuran, jika terkait secara khusus tentang masalah dan urusan agama masing-masing, yakni yang meliputi aspek aqidah, ritual ibadah dan hukum.
Namun demikian dari sisi yang lain, jika kita renungkan, surat inipun dari awal sampai akhir, sebenarnya juga mengandung makna sikap toleransi Islam dan kaum muslimin terhadap agama lain dan pemeluknya. Yakni berupa sikap pengakuan terhadap eksistensi agama selain Islam dan keberadaan penganut-penganutnya. Meskipun yang dimaksud tentulah sekadar pengakuan terhadap realita, dan sama sekali bukan pengakuan pembenaran.
Dan diperbolehkan untuk berinteraksi dengan orang-orang kafir dalam berbagai bidang kehidupan umum, Sebagaimana tersirat dalam Al Quran surah Luqman ayat 15 yang artinya; “dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. QS [60]: 8
Dan pada surat Al-Mumtahanah ayat 8, Allah ta’ala berfirman : “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.”

*Burhan Ali, Lc, Mahasiswa Universitas Hassan II – Casablanca, pada program Master jurusan "Akidah dan Agama-agama di Gharb Al Islam dan Pengaruhnya dalam Dialog”
**Artikel untuk mengisi buletin bulanan Sayyidul Ayyam - PPI Maroko edisi Februari 2013.
Sumber:
 

2 Des 2012

Akhir dari Sebuah Dosa Bab 2



13. Maksiat akan merusak akal. Karena akal memiliki cahaya sementara maksiat pasti akan memadamakaan cahaya akal. Bila cahaya telah padam akal menjadi lemah dan kurang.

Sebagian salaf berkata: “Tidaklah seseorang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga hilang akalnya.”

Hal ini jelas sekali Karena orang yang hadir akal tentu akan menghalangi diri dari berbuat maksiat. Ia sadar sedang berada dalam pengawasan-Nya di bawah kekuasaan-Nya ia berada di bumi Allah Subhanahu wa Ta’ala di bawah langit-Nya dan para malaikat Allah Subhanahu wa Ta’ala menyaksikan perbuatannya.

14. Bila dosa telah menumpuk hatipun akan tertutup dan mati hingga ia termasuk orang2 yang lalai. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوْبِهِمْ مَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Sekali-kali tidak sebenar apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.”
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata menafsirkan ayat di atas: “Itu adalah dosa di atas dosa hingga mati hatinya.”3

15. Bila si pelaku dosa enggan untuk bertaubat dari dosa ia akan terhalang dari mendapatkan doa para malaikat. Karena malaikat hanya mendoakan orang2 yang beriman yang suka bertaubat yang selalu mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الَّذِيْنَ يَحْمِلُوْنَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُوْنَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُوْنَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُوْنَ لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِيْنَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيْلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيْمِ. رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ. وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

“Malaikat-malaikat yang memikul Arsy dan malaikat yang berada di sekeliling bertasbih memuji Rabb mereka dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang2 yang beriman seraya berucap ‘Wahai Rabb kami rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu maka berilah ampunan kepada orang2 yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. Wahai Rabb kami masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang2 yang shalih di antara bapak-bapak mereka istri-istri mereka dan keturunan mereka semuanya. Sesungguh Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha memiliki hikmah. Dan peliharalah mereka dari kejahatan. orang2 yang Engkau pelihara dari pembalasan kejahatan pada hari itu maka sungguh telah Engkau anugerahkan rahmat kepada dan itulah kemenangan yang besar’.”

Demikian beberapa pengaruh negatif dari perbuatan dosa dan maksiat yang diringkas dari kitab Ad-Da`u wad Dawa` karya Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu hal. 85-99.

Melakukan perbuatan dosa dan kesalahan merupakan salah satu tabiat manusia. Meskipun Allah telah memperingatkan akan bahaya dosa dan kesalahan, bahkan dengan mengancam dengan siksa yang pedih, tetap saja banyak orang yang bergelimang dosa dan selalu bermaksiat. Bahkan manusia-manusia sekaliber nabi pun tak lepas dari dosa dan kesalahan ini.

Lalu bagaimanakah seharusnya kita sebagai seorang muslim menyikapi kecenderungan manusia untuk berbuat dosa dan kesalahan ini? Apakah kita menyerah begitu saja, karena memang ini tabiat manusia? 

Apakah kita membiarkan dosa-dosa menyeret kita ke neraka yang penuh siksa?

Bertaubat dari dosa menerbitkan cinta Allah dan pahala surga. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu mengatakan:

“Dosa-dosa itu akan mengurangi keimanan. Jika seorang hamba bertaubat, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencintainya. Derajatnya akan diangkat disebabkan taubatnya.

Sebagian salaf mengatakan: ‘Dahulu setelah Nabi Daud ‘alaihissalam bertaubat, keadaannya lebih baik dibandingkan sebelum terjatuh dalam kesalahan. Barangsiapa yang ditakdirkan untuk bertaubat maka dirinya seperti yang dikatakan Sa’id ibnu Jubair radhiyallahu ‘anhu:

“Sesungguhnya seorang hamba yang melakukan amalan kebaikan, bisa jadi dengan sebab amalan kebaikannya itu akan memasukkannya ke dalam neraka. Bisa jadi pula seorang hamba melakukan amalan kejelekan akan tetapi membawa dirinya masuk ke dalam surga. Hal itu karena ia membanggakan amalan kebaikannya. Sebaliknya, hamba yang terjatuh ke dalam kejelekan membawa dirinya untukmeminta ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni kesalahan-kesalahannya.”

Telah disebutkan dalam hadits yang shahih bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِمِ

“Amal-amal (seorang hamba) tergantung amalan-amalan yang dikerjakan pada akhir kehidupannya.”
Sesungguhnya kesalahan/dosa seorang mukmin akan dihapuskan dengan sepuluh sebab, sebagai berikut:

1.         Bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuninya. Karena seseorang yang bertaubat dari sebuah dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.

2.         Meminta ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuninya.

3.         Mengerjakan amalan-amalan kebaikan, karena amalan-amalan kebaikan akan menghapuskan amalan-amalan kejelekan.

4.         Mendapatkan doa dari saudara-saudaranya yang beriman. Mereka memberikan syafaat kepadanya ketika masih hidup dan sesudah meninggal.

5.         Mendapatkan hadiah pahala dari amalan-amalan saudara-saudaranya yang beriman agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan manfaat kepadanya dari hadiah tersebut.

6.         Mendapatkan syafaat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

7.         Mendapatkan musibah-musibah di dunia ini yang akan menghapuskan dosa-dosanya.

8.         Mendapatkan ujian-ujian di alam barzakh yang akan menghapus dosa-dosanya.

9.         Mendapatkan ujian-ujian di padang Mahsyar pada hari kiamat yang akan menghapuskan dosa-dosanya.

10.       Mendapatkan rahmat dari Arhamur Rahimin, Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Barangsiapa yang tidak memiliki salah satu sebab dari sebab-sebab yang bisa menghapuskan dosa-dosa ini, janganlah ia mencela kecuali kepada dirinya sendiri. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kelak di hari akhir:

يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ

“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya ini adalah amalan-amalanmu. Aku menghitungnya untukmu kemudian Aku membalasinya untukmu. Maka barangsiapa yang mendapatkan kebaikan hendaklah ia memuji Allah, dan barangsiapa yang mendapatkan selain daripada itu maka janganlah ia mencela kecuali kepada dirinya sendiri.” [HR. Muslim, 2577]


==========================================================
Sucikanlah 4 hal dengan 4 perkara :
"Wajahmu dengan linangan air mata keinsafan, Lidahmu basah dengan berzikir kepada Penciptamu, Hatimu takut dan gementar kepada kehebatan Rabbmu, ..dan dosa-dosa yang silam di sulami dengan taubat kepada Dzat yang Memiliki mu."


Akhir dari Sebuah Dosa Bab. 1


Allah swt. telah mengisahkan bagaimana menghancurkan kaum terdahulu karena diakibatkan dosa-dosa mereka, maka selayaknya kita mengambil ibrah (pelajaran) dari kisah-kisah kaum terdahulu yang telah binasa, ditimpa azab dan bencana. Allah swt. berfirman:

 “Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamakaan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamakaan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Al-Ankabuut [29] : 40).

Ada banyak akibat yang ditimbulkan dosa terhadap manusia, baik itu pada hatinya, maupun pada bentuk bencana-bencana yang dialami manusia. Hal ini mengingatkan kepada kita agar sungguh-sungguh memperhatikan kehidupan kita, bahwa dosa-dosa akan membawa pengaruh buruk dan mengakibatkan kerusakan bahkan kebinasaan kepada manusia.

Dosa dapat membuat hati keras dan buta dari kebenaran, akan menutup pintu hati dari melihat kebenaran dan membuatnya terbalik dalam menilai.

Setiap satu dosa yang dilakukan tanpa bertaubat itu akan menyebabkan terjadinya satu titik hitam pada hati. Itu baru satu dosa. Maka bayangkanlah bagaimana pula kalau sepuluh dosa? Seratus dosa? Seribu dosa? Alangkah hitam dan kotornya hati ketika itu.

Perkara ini jelas digambarkan dalam hadis Rasulullah bermaksud: "Siapa yang melakukan satu dosa, maka akan tumbuh pada hatinya setitik hitam, sekiranya dia bertaubat akan terkikislah titik hitam itu daripada hatinya. Jika dia tidak bertaubat, maka titik hitam itu akan terus merebak hingga seluruh hatinya menjadi hitam." (HR. Ibn Majah).

Hadis ini selaras dengan firman Allah yang artinya "Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka (karena dosa)." (QS. Al-Muthaffifiin, ayat 14).

Hati yang kotor dan hitam akan menjadi keras. Apabila hati keras, kemanisan dan kelezatan beribadah tidak dapat dirasakan. Ia akan menjadi penghalang kepada masuknya nur iman dan ilmu. Belajar sebanyak mana pun ilmu yang bermanfaat atau ilmu yang boleh memandu kita, namun ilmu itu tidak akan masuk ke dalam hati, kalau pun kita faham, tidak ada daya dan kekuatan kita untuk mengamalkannya.

Allah berfirman yang bermaksud "Kemudian selepas itu, hati kamu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Pada hal antara batu-batu itu ada yang terpancar dan mengalir sungai daripadanya, dan ada pula antaranya yang pecah-pecah terbelah lalu keluar mata air daripadanya. Dan ada juga antaranya yang jatuh ke bawah karena takut kepada Allah sedang Allah tidak sekali-kali lalai daripada apa yang kamu kerjakan." (QS Al-Baqarah, ayat 74).

Begitulah Allah mendatangkan contoh dan menerangkan bahwa batu yang keras itu pun ada kalanya bisa mengalirkan air dan bisa terpecah karena amat takut pada Allah.

Oleh itu, apakah hati manusia lebih keras daripada batu hingga tidak bisa menerima petunjuk dan hidayah daripada Allah.

Imam Al-’Allamah Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullahu menyebuntukan secara panjang lebar dampak negatif dari dosa, diantaranya:

1. Terhalang dari ilmu yang haq. Karena ilmu merupakan cahaya yang dilemparkan ke dalam hati sementara maksiat akan memadamakaan cahaya.

Tatkala Imam Syafi’i rahimahullahu belajar kepada Imam Malik rahimahullahu, Imam Malik terkagum-kagum dengan kecerdasan dan kesempurnaan pemahaman Syafi’i. Imam Malik pun berpesan pada murid ini “Aku memandang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memasukkan cahaya ilmu di hatimu. maka janganlah engkau padamakaan cahaya tersebut dengan kegelapan maksiat.”

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu pernah bersajak:
شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِي
فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي
وَقَالَ اعْلَمْ بِأَنَّ الْعِلْمَ نور
وَ نور اللهِ لاَ يُؤْتاَهُ للمعَاصِ

“Aku mengeluhkan jelek hafalanku kepada Waki’
Maka ia memberi bimbingan kepadaku agar meninggalkan maksiat
Ia berkata “Ketahuilah ilmu itu merupakan cahaya
dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang berbuat maksiat.”1

2. Terhalang dari rizki dan urusan dipersulit.
Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mendatangkan rizki dan memudahkan urusan seorang hamba sebagaimana firman-Nya:

وَ مَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagi orang tersebut jalan keluar dan memberi rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”

وَمَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan bagi kemudahan dalam urusannya.”
Meninggalkan takwa berarti akan mendatangkan kefakiran dan membuat si hamba terbelit urusannya.

3. Hati terasa jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan merasa asing dengan-Nya sebagaimana jauh pelaku maksiat dari orang-orang baik dan dekat dengan setan.

4. Menggelapkan hati si hamba sebagaimana gelap malam. Karena ketaatan adalah cahaya sedangkan maksiat adalah kegelapan. Bila kegelapan itu bertambah di dalam hati akan bertambah pula kebingungan si hamba. Hingga ia jatuh ke dalam bid’ah kesesatan dan perkara yang membinasakan tanpa ia sadari. Sebagaimana orang buta yang keluar sendirian di malam yang gelap dengan berjalan kaki.

Bila kegelapan itu semakin pekat akan tampaklah tanda di mata si hamba. Terus demikian hingga tampak di wajah yang menghitam yang terlihat oleh semua orang.

5. Maksiat akan melemahkan hati dan tubuh Karena kekuatan seorang mukmin itu bersumber dari hatinya. Semakin kuat hati semakin kuat tubuhnya. Adapun orang fajir/pendosa sekalipun badan tampak kuat namun sebenar ia selemah-lemah manusia.

6. Maksiat akan ‘memperpendek‘ umur dan menghilangkan keberkahan sementara perbuatan baik akan menambah umur dan keberkahannya. Mengapa demikian? Karena kehidupan yang hakiki dari seorang hamba diperoleh bila hati hidup. Sementara orang yang hati mati walaupun masih berjalan di muka bumi hakikat ia telah mati. Oleh karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan orang non muslim adalah mayat dalam keadaan mereka masih berkeliaran di muka bumi:

أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ

“Mereka itu adalah orang-orang mati yang tidak hidup.”

Dengan demikian kehidupan yang hakiki adalah kehidupan hati. Sedangkan umur manusia adalah hitungan kehidupannya. Berarti umur tidak lain adalah waktu-waktu kehidupan yang dijalani Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menghadap kepada-Nya mencintai-Nya mengingat-Nya dan mencari keridhaan-Nya. Di luar itu tidaklah terhitung sebagai umurnya.

Bila seorang hamba berpaling dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyibukkan diri dengan maksiat berarti hilanglah hari-hari kehidupan yang hakiki. Di mana suatu hari nanti akan jadi penyesalan baginya:

يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي

“Aduhai kira dahulu aku mengerjakan amal shalih untuk hidupku ini.”

7. Satu maksiat akan mengundang maksiat lain sehingga terasa berat bagi si hamba untuk meninggalkan kemaksiatan. Sebagaimana ucapan sebagian salaf: “Termasuk hukuman perbuatan jelek adalah pelaku akan jatuh ke dalam kejelekan yang lain. Dan termasuk balasan kebaikan adalah kebaikan yang lain. Seorang hamba bila berbuat satu kebaikan maka kebaikan yang lain akan berkata ‘Lakukan pula aku.’ Bila si hamba melakukan kebaikan yang kedua tersebut maka kebaikan ketiga akan berucap yang sama. Demikian seterusnya. Hingga menjadi berlipatgandalah keuntungan kian bertambahlah kebaikannya. Demikian pula kejelekan.”

8. Maksiat akan melemahkan hati dan secara perlahan akan melemahkan keinginan seorang hamba untuk bertaubat dari maksiat hingga pada akhir keinginan taubat tersebut hilang sama sekali.

9. Orang yang sering berbuat dosa dan maksiat hati tidak lagi merasakan jelek perbuatan dosa. Malah berbuat dosa telah menjadi kebiasaan. Dia tidak lagi peduli dengan pandangan manusia dan acuh dengan ucapan mereka. Bahkan ia bangga dengan maksiat yang dilakukannya.

Bila sudah seperti ini model seorang hamba ia tidak akan dimaafkan sebagaimana berita dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِيْنَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَََّيْلِ عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ عَلَيْهِ فيَقُوْلُ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا. وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ

“Setiap umatku akan dimaafkan kesalahan/dosa kecuali orang2 yang berbuat dosa dengan terang-terangan. Dan termasuk berbuat dosa dengan terang-terangan adalah seseorang melakukan suatu dosa di waktu malam dan Allah menutup perbuatan jelek yang dilakukan tersebut, namun di pagi hari ia berkata pada orang lain “Wahai Fulan tadi malam aku telah melakukan perbuatan ini dan itu.” Padahal ia telah bermalam dalam keadaan Rabb menutupi kejelekan yang diperbuatnya. Namun ia berpagi hari menyingkap sendiri tutupan Allah yang menutupi dirinya.”

10. Setiap maksiat yang dilakukan di muka bumi ini merupakan warisan dari umat terdahulu yang telah dibinasakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Perbuatan homoseksual adalah warisan kaum Luth. Mengambil hak sendiri lebih dari yang semestinya dan memberi hak orang lain dengan mengurangi adalah warisan kaum Syu’aib. Berlaku sombong di muka bumi dan membuat kerusakan adalah warisan dari kaum Fir’aun. Sombong dan tinggi hati adalah warisan kaum Hud.

11. Maksiat merupakan sebab dihinakan seorang hamba oleh Rabbnya. Bila Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghinakan seorang hamba maka tidak ada seorang pun yang akan memuliakannya.

وَمَنْ يُهِنِ اللهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ

“Siapa yang dihinakan Allah niscaya tidak ada seorang pun yang akan memuliakannya.”

Walaupun mungkin secara zhahir manusia menghormati Karena kebutuhan mereka terhadap atau mereka takut dari kejelekan namun di hati manusia ia dianggap sebagai sesuatu yang paling rendah dan hina.

12. Bila seorang hamba terus menerus berbuat dosa pada akhir ia akan meremehkan dosa tersebut dan menganggap kecil. Ini merupakan tanda kebinasaan seorang hamba. Karena bila suatu dosa dianggap kecil maka akan semakin besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Imam Bukhari rahimahullahu dalam Shahihnya- menyebutkan ucapan sahabat yang mulia Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا

“Seorang mukmin memandang dosa-dosa seakan-akan ia duduk di bawah sebuah gunung yang ditakuntukan akan jatuh menimpanya. Sementara seorang fajir/pendosa memandang dosa-dosa seperti seekor lalat yang lewat di atas hidung ia cukup mengibaskan tangan untuk mengusir lalat tersebut.”



==========================================================
Sucikanlah 4 hal dengan 4 perkara :
"Wajahmu dengan linangan air mata keinsafan, Lidahmu basah dengan berzikir kepada Penciptamu, Hatimu takut dan gementar kepada kehebatan Rabbmu, ..dan dosa-dosa yang silam di sulami dengan taubat kepada Dzat yang Memiliki mu."



 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes