28 Agu 2011

Ramadhan Dengan Spirit Sosial


Dalam hitungan hari lagi bulan ramadhan akan segera meninggalkan kita, dan kita pun tidak tahu apakah ramadhan yang akan datang masih bisa berjumpa lagi dengan bulan yang penuh hikmah tersebut.

Dikarenakan besarnya hikmah dan isi di bulan ramadhan kita pun berharap agar ramadhan ada pada tiap-tiap bulan, sebagaimana hadist rasululloh saw “Sekiranya hamba-hamba Allah itu mengetahui apa–apa yang terdapat di bulan Ramadhan, niscaya mereka akan berharap seluruh tahun isinya ramadhan”. (HR. At-Thobroni).

Namun walau bagaimanapun, bulan ramadhan akan segera berlalu tanpa memperdulikan setiap hamba yang mengharapakannya karena itu sudah ketentuan dari Yang Maha Menentukan Alloh swt.

Sebagai insan yang taat, sudah seharusnyalah bagi kita untuk tetap mengamalkan apa yang menjadi pesan dan isi dari bulan ramadhan walau bulan tersebut akan berlalu, sehingga bulan yang penuh berkah akan tetap terasa pada bulan-bulan yang lain.

Ramadhan mengajarkan kepada kita akan nilai-nilai sosial dan spirit kebersamaan yang terkandung dalam amalan-amalan baik amalan yang wajib maupun yang sunah sebagaimana yang akan kita pelajari bersama berikut ini.

Ibadah dalam syariat islam, selain berorientasi pada perbaikan diri, ibadah juga berdimensi sosial. Sholat misalnya, ibadah yang merupakan kewajiban pribadi ini harus berimbas  pada kesholihan sosial. Dalam Al-Qur’an di jelaskan bahwa “Inna sholata tanha ‘anil fahsyaai wal munkar “ (artinya: Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar). Dari ayat diatas maknanya jelas bahwa dengan sholat – jika sholatnya benar – seorang muslim akan terjaga dari kekejian dan kemunkaran.

Zakat juga demikian, ia adalah upaya pembersihan harta yang telah dirizkikan oleh Alloh kepada kita. Dengan kewajiban itu ada kaum dhu’afa yang ikut menikmati sebagian rizki dari Alloh itu. Selain berorientasi Illahiyah, zakat nyatanya juga akan mampu menghapus sekat antara kaum berpunya dan dhuafa.

Puasa pun demikian, shaum memberikan energi kepada kaum muslimin untuk lebih sensitif dalam merasakan penderitaan kaum mustadh’afin. Tidak hanya menahan haus dan lapar, menahan hawa nafsu juga meningkatkan kepiawaian muslim dalam mengelola manajemen pribadi untuk lebih cerdas menahan emosi yang berujung pada perbaikan hubungan sosial kita di tengah komunitas sosial manusia.

Dengan menghadiri majelis keilmuan, sholat tarawih berjamaah, mengikuti aneka kegiatan ifthor jama’i (buka bersama) akan membuat muslimah jadi ‘gaul’ dengan lingkungan. Nggak cuma gaul thok, tapi ikatan silaturahim juga bisa lebih dijaga. Dan ketika Ramadhan telah berlalu, nggak ada salahnya jika muslimah melanjutkan ‘tali kasih’ yang sudah terjalin itu. Apalagi, yang demikian itu merupakan salah satu dari rangkaian dakwah, yang tujuannya jelas untuk merangkul semua kalangan dalam rangka sama-sama mencari ridho Alloh swt.

Dan, secara sosial, kata Hassan Hanafi dalam al-Din wa al-Tsawrah (1990: 63), puasa melatih kepekaan atas nasib sesama yang menderita kelaparan dan kehausan. Dalam konteks itulah kita bisa memahami adanya perintah untuk mengeluarkan zakat fitrah di penghujung bulan Ramadan bahkan sejak awal memasuki Ramadhan sudah terlihat kepekaan itu dengan berbuka bersama di Masjid-masjid, di suarau, di kantor bahkan di jalan-jalan, dan semakin lama semakin terasa rasa kebersamaan, persaudaraan dan kecintaan kita pada sesama.

“Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak memperoleh apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga”. Mereka itu adalah orang yang telah menjadikan ibadah puasa sebagai sebuah rutinitas, tanpa ruh-spirit. Termasuk juga, mereka yang melakukan ritual puasa pribadi, tapi melupakan pesan untuk melakukan puasa sosial. Puasa yang demikian adalah puasa yang tidak sinkron dengan janji-janji ideal Islam.

Perubahan paling mencolok yang diharapkan muncul dari taqwa sebagai buah dari puasa adalah kesadaran sosial akan nasib dan penderitaan sebagian besar kelompok masyarakat yang masuk dalam kelompok fakir, miskin, dhuafa’, dan mustadh’afin. Mereka inilah kelompok yang secara sosial dan ekonomi lemah dan tidak berdaya sehingga posisi dan eksistesinya sama sekali tidak diindahkan oleh golongan masyarakat di atasnya yang memiliki lebih banyak sumber daya. Tak heran jika kelemahan ini bukan hanya bersifat duniawi berupa kekurangan pada materi, tetapi juga kekurangan ukhrawi yang membuat mereka rentan dengan kekufuran. Sabda Nabi Saw : “Kaada al-faqru an yakuuna kufran”  hampir-hampir kefakiran membawa seseorang pada kekufuran.

Dari aspek sosial, shalat berjama’ah merupakan manifestasi dari ittihadul muslim (bersatunya umat islam). Tanpa adanya pecah bela diantara mereka. Tanpa memandang derajat antara kaya dan miskin. Bersatu padu dalam komando seorang imam. Hal ini telah di gambarkan oleh  rasulullah saw ketika  mempersaudarakan para sahabat dari golongan anshar (orag-orang yang menyambut kedatangan rasulullah saw) dan golongan muhajirin (orang-orang yang hjrah bersama rasullullah saw). beliau mengatakan bahwa ukhuwah tercipta dengan adanya satu rasa sebagai saudara seiman dan seislam yang akan tumbuh secara perlahan-lahan dengan salah satu medianya berupa sholat jama’ah.

Seorang tokoh orientalis mengataan bahwa Islam akan tetap berdiri kokoh jika tiga perkara masih kokoh berdiri, yaitu sholat jumat -yang sudah barang tentu dilakukan secara berjamaah-, mekkah masih menjadi kiblat umat Islam dan puasa Ramadhan. Dari sini cukup jelas bahwa bentuk ibadah yang di lakukan secara berjama’ah merupakan basic dari pada kekuatan umat Islam.

Disamping itu, ibadah sholat yang di lakuan secara jama’ah akan menciptakan rasa  empati  terhadap sesama, hingga akhirnya tercipta sebuah rasa kasih sayang antar sesama muslim yang berawal dari ta’aruf (saling mengenal).  

Sebagai gambaran nyata,  masyarakat saat ini pada umumnya  disibukan dengan berbagai aktivitas sehari-hari, sehingga untuk mengenal atau bertemu tetangganya sendiri saja serasa sulit sekali. Akan tetapi dengan adanya sholat berjama’ah seperti sholat lima waktu ataupun shalat jumaat dan shalat tarawih di bulan ramadhan maka akan memberikan solusi untuk saling mengenal dan menjalin silaturrahmi antar sesama. Dan ini merupakan yang diajarkan dalam islam, sebagaimana firman Allah swt. yang artinya, ”Dan sesungguhnya kami jadikan kalian dari berbagai kaum dan suku  agar kalian saling mengenal.” (Al Hujarat:13).

Sedangkan balasan bagi mereka yang melakuan shalat berjama’ah ialah pahala yang berlipat ganda. Sebagaimana Sabda Rasulullah saw., ”sholat berjama’ah lebih utama di banding shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.” (muttafaqun ‘alaih dari Ibnu umar). Hadits ini setidaknya memberikan motivasi kepada kita untuk senantiasa berlomba-lomba dalam melaksanakan ibadah  shalat secara berjama’ah.

Kesadaran sosial adalah mandat dari Yang Maha Hidup agar melakukan peran nyata yang disebut sebagai peran sosial, sebuah persembahan terbaik dalam kehidupan nyata untuk kesejahteraan masyarakat. Sebab manusia yang terbaik adalah mereka yang punya spirit memberi manfaat sebanyak-banyaknya kepada masyarakat

Spirit melakukan interaksi dalam kehidupan bermasyarakat adalah agar manusia dapat memberikan yang terbaik bagi orang lain. Pengabdian hidup kepada Sang Maha Kuasa menjadi tingkatan pertama dalam tahap mencapai kecerdasan spiritual.

Nah.. di bulan yang penuh rahmat ini, segala ibadah didorong untuk lebih optimal. Artinya, karena ibadah-ibadah itu semuanya berdimensi sosial, maka harapannya seorang muslim selaku komponen dalam kehidupan masyarakat juga mampu mengambil andil dalam kebaikan di Ramadhan ini. Dan, tentunya itu harus berlanjut di bulan-bulan berikutnya. (Ba)

21 Agu 2011

Dimana Malam-malam Ramadhan?


Tak terasa puasa ramadhan yang kita jalani kini telah sampai hari yang ke duapuluh satu untuk di Indonesia dan memasuki yang ke duapuluh untuk yang sedang berpuasa di Maroko. 
Masih sembilan hari lagi kedepan untuk menikmati betapa indahnya dan agungya bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Sebagaimana dalam sebuah riwayat hadist dari Rasulullah Saw, “Seandainya umatku tahu (keutamaan) apa yang ada pada bulan Ramadhan, niscaya berharap agar satu tahun seluruhnya terdiri dari Ramadhan.”

Namun dari berlalunya sebagian dari bulan penuh pahala dan rahmat ada yang telah  meninggalkan kesan dengan berbagai amalan-amalan yang insyaAlloh diridloi dan dicintai Alloh ta'ala.

Ada yang sudah dari awal ingin mendapatkan pahala disisi Alloh sebanyak-banyaknya dengan memulai membaca al-qur'an sampai ia khataman, shalat qiyamullail, infaq shadaqah, ibadah yang bernilai syakhsi maupun ijtima'i.

Namun ada juga yang melewati sebagian bulan berkah ini dengan ibadah yang masih belum maksimal, atau bisa dikatakan bolong-bolong. shalatnya masih kadang-kadang kalau pas kebetulan ada acara bersama, omongannya masih sering menyakitkan orang, dan bacaannya masih sering kalo menunggu didengar orang lain.

Ada yang pernah bilang "apakah yang dibilang 1 adalah banyak, 2 adalah jarang, 3 adalah kadang-kadang dan 4 adalah sedikit?"

Yang dimaksud 1 adalah banyak yaitu minggu pertma orang-orang ramai dan berbondong-bondong pergi kemasjid untuk shalat tarawih, dan minggu kedua sudah mulai jarang yang pergi ke masjid atau sudah mulai berkurang, dan memasuki minggu ketiga yang ikut melaksanakan shalat tarawih mulai kadang-kadang, dan pada minggu keempat tinggal sedikit istiqamah menyelesaikan ibadah shalat tarawih.

Diriwayatkan dari `Aisyah Radhiyallahu Anha. Bahwa” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam “Apabila memasuki sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, Beliau menghidupkan malam dan membangunkan anggota keluarganya dan beliau kencangkan pakaiannya” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, (dia berkata), “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) malam kesepuluh (terakhir), yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya.” (HR. Muslim ).

Begitulah seharusnya kita bila memasuki sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan agar mencontoh Rasulullah agar meningkatkan kadar ibadah kita dan bersungguh-sungguh dalam menjalankannya.

Inilah kesempatan terakhir kita untuk menyempurnakan ibadah dibulan ramadhan, dan bagi yang belum maksimal, inilah kesempatan untuk memperbaiki kualitas ibadah dan kuantitasnya, semoga Alloh melimpahkan rahmatnya untuk kita semua.

Dan renungkanlah, akankah kita akan bertemu lagi dengan bulan Ramadhan tahun depan? mungkin inilah Ramadhan terakhir kita, karenanya bersungguh-sungguhlah selagi kita masih bisa merasakannya.

Mari kita ambil intisari dan hikmah dari amalan-amalan para ulama-ulama salafusshalih di bulan ramadhan agar lebih memotivasi kita untuk lebig giat beribadah.

Adalah Aswad bin Yazid An Nakha’i Al Kufi. Disebutkan dalam Hilyah Al Auliya (2/224) bahwa beliau mengkhatamkan Al Qur`an dalam bulan Ramadhan setiap dua hari, dan beliau tidur hanya di waktu antara maghrib dan isya, sedangkan di luar Ramadhan beliau menghatamkan Al Qur`an dalam waktu 6 hari.

Tidak hanya bermujahadah dalam menghatamkan Al Qur`an, dalam ibadah shalat, Imam Adz Dzahabi menyebutkan bahwa tabi’in ini melakukan shalat 6 ratus rakaat dalam sehari semalam. (Al Ibar wa Al Idhadh, 1/86).

Adapula Qatadah bin Diamah, dalam hari-hari “biasa”, tabi’in ini menghatamkan Al Qur`an sekali tiap pekan, akan tetapi tatkala Ramadhan tiba beliau menghatamkan Al Qur`an sekali dalam tiga hari, dan apabila datang sepuluh hari terakhir beliau menghatamkannya sekali dalam semalam .(Al Hilyah, 2/228).

Tabi’in lain, Abu Al Abbas Atha’ juga termasuk mereka yang “luar biasa” dalam tilawah. Di hari-hari biasa ia menghatamkan Al Qur`an sekali dalam sehari. Tapi di bulan Ramadhan, Abu Al Abbas mempu menghatamkan 3 kali dalam sehari. (Al Hilyah 10/302).

Sedangkan Said bin Jubair, dalam Mir’ah Al Jinan, Al Yafi’i menyebutkan sebuah riwayat, bahwa di suatu saat tabi’in ini membaca Al Qur`an di Al Haram, lalu beliau berkata kepada Wiqa’ bin Abi Iyas pada bulan Ramadhan: “Pegangkan Mushaf ini”, dan ia tidak pernah beranjak dari tempat duduknya itu, kacuali setelah menghatamkan Al Qur`an.

Diriwayatkan juga dari Said bin Jubair, beliau pernah mengatakan: “Jika sudah masuk sepuluh hari terakhir, aku melakukan mujahadah yang hampir tidak mampu aku lakukan.”

Beliau juga menasehati: “Di malam sepuluh terakhir, jangan kalian matikan lentera.” Maksudnya, agar umat Islam menghidupkan malamnya dengan membaca Al Qur`an.

Thabaqat Fuqaha Madzhab An Nu’man Al Mukhtar, yang dinukil oleh Imam Laknawi dalam Iqamah Al Hujjah (71,72) disebutkan periwayatan bahwa dalam bulan Ramadhan Said bin Jubair mengimami shalat dengan dua qira`at, yakni qira`at Ibnu Mas’ud dan Zaid bin Tsabit.

Manshur bin Zadan, termasuk tabi’in yang terekam amalannya di bulan diturunnya Al Qur`an ini. Hisham bin Hassan bercerita, bahwa di bulan Ramadhan, Manshur mampu menghatamkan Al Qur`an di antara shalat Maghrib dan Isya’, hal itu bisa beliau lakukan dengan cara mengakhirkan shalat Isya hingga seperempat malam berlalu. Dalam hari-hari biasapun beliau mampu menghatamkan Al Qur`an sekali dalam sehari semalam. (Al Hilyah, 3/57).

Tidak ketinggalan pula Imam Mujahid, salah satu tabi’in yang pernah berguru langsung dengan Ibnu Abbas juga amat masyur dengan mujahadahnya. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud dengan sanad yang shahih, bahwa tabi’in ahli tafsir ini juga menghatamkan Al Qur`an pada bulan Ramadhan di antara maghrib dan isya.

Sebagian besar ulama berpendapat bahwa Abu Hanifah termasuk pada golongan tabi`in, karena telah bertemu dengan sahabat Anas bin Malik. Banyak riwayat yang menegaskan bahwa beliau adalah ulama yang ahli ibadah. Yahya bin Ayub, ahli zuhud yang semasa dengan beliau mengatakan: Tidak ada seorangpun yang datang ke Makkah, pada zaman ini lebih banyak shalatnya dibanding dengan Abu Hanifah.
Karena itu beliau dijuluki Al Watad (tiang) karena banyak shalat (Tahdzib Al Asma, 2/220).

Lalu, bagaimana amalan ulama ahli ibadah ini dalam bulan Ramadhan?
Orang yang melakukan shalat fajar dengan wudhu isya selama 40 tahun ini menghatamkan Al Qur`an 2 kali dalam sehari di bulan Ramadhan, pada waktu siang sekali, dan pada waktu malam sekali (Manaqib Imam Abu Hanifah, 1/241-242).

Bahkan disebutkan oleh Imam Al Kardari bahwa Abu Hanifah termasuk 4 imam yang bisa menghatamkan Al Qur`an dalam 2 rakaat, mereka adalah Utsman bin Affan, Tamim Ad Dari, Said bin Jubair, serta Abu Hanifah sendiri.

19 Agu 2011

Ramadhan Untuk Kita

Perjalanan kita di bulan Ramadhan tinggal sebentar lagi, setengah dari bulan Ramadhan telah kita lewati bersama. Ada sebagian orang yang mengisi hari-hari di bulan berkah ini dengan berbagai ibadah yang telah dicontohkan rosululloh SAW agar bisa mendekatkan diri kepada sang pencipta alam semesta.

Namun ada sebagian lagi yang mengisinya dengan hal-hal yang biasa sebagaimana ia lakukan di hari-hari yang lain. Ramadhan yang hanya tiba satu tahun sekali ini pun berlalu tanpa kesan apapun kecuali  terjadi pergeseran kebiasaan makan dan rutinitas harian.

Semoga kita termasuk orang yang menghargai setiap waktu yang lewat dibulan penuh berkah dan ampunan ini. Ramadhan yang tinggal sebentar lagi, marilah kita isi dengan hal-hal yang lebih baik dari hari-hari sebelumnya. 

Bagi yang sudah mengisinya dengan maksimal untuk lebih dimaksimalkan lagi hingga akhir waktu dari bulan ramadhan agar kita menjadi khsunul khatimah. Dan bagi yang belum maksimal, inilah saatnya kita untuk berinstropeksi diri dengan menambah berbagai bentuk ibadah dan mengisi hari-hari kedepan dengan amal shalih agar kita sampai ke puncak dimana malam lailatul qadar yang kita dambakan sama-sama.

Sepuluh hari pertama telah kita lewati, apakah kita benar-benar telah melewatinya dengan mendapatkan rahmat dari Alloh sebagaimana yang termaktub dalam hadist yang diriwayatkan oleh sahabat Salman Al Farisi: “Adalah bulan Ramadhan, awalnya rahmat, pertengahannya maghfirah dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”

Dan apakah di sepuluh hari kedua ini kita pantas mendapatkan maghfirah dari Alloh ta'ala. Marilah kita jawab sendiri dalam renungan kita dengan melihat setiap amalan yang telah kita lakukan.

Dan satu hari lagi kita akan memasuki sepuluh hari terakhir dengan balasan 'itqu min an-nar atau pembebasan dari api neraka. Apakah yang harus kita lakukan agar kita sampai dengan hasil tersebut bahkan lebih dari itu.

Dalam hadist Shahihain diriwayatkan oleh Imam Bukhori, "Dari ummul mukminin, Aisyah ra., menceritakan tentang kondisi Nabi saw. ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan: “Beliau jika memasuki sepuluh hari terkahir Ramadhan, mengencangkan ikat pinggang, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.”

Dalam hadist yang diriwayatkan Imam Muslim juga menjelaskan “Biasanya Rasulullah bersungguh-sungguh beribadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan melebihi kesungguhan beliau pada malam-malam yang lain”.
Apa rahasia perhatian lebih beliau terhadap sepuluh hari terakhir Ramadhan? Paling tidak ada dua sebab utama:

Sebab pertama, karena sepuluh terkahir ini merupakan penutupan bulan Ramadhan, sedangkan amal perbuatan itu tergantung pada penutupannnya atau akhirnya. Rasulullah saw. berdo’a:
اللهم اجعل خير عمري آخره وخير عملي خواتمه وخير أيامي يوم ألقاك
Ya Allah, jadikan sebaik-baik umurku adalah penghujungnya. Dan jadikan sebaik-baik amalku adalah pamungkasnya. Dan jadikan sebaik-baik hari-hariku adalah hari di mana saya berjumpa dengan-Mu Kelak.”

Sebab kedua, karena dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah turunnya lailatul qadar,  sebagaimana hadist nabi SAW yang artinya : “Carilah lailatul qadar di sepuluh terakhir Ramadhan.”

Banyak hadits yang menerangkan lailatul qadar berada di sepuluh hari terakhir. Dan juga banyak hadits yang menerangkan lailatul qadar ada di bilangan ganjil akhir Ramadhan. Rasulullah saw. bersabda:
التمسوها في العشر الأواخر وفي الأوتار
“Carilah lailatul qadar di sepuluh hari terakhir dan di bilangan ganjil.”

Karena tidak ada kesamaan antara berbagai negara dalam menetapkan awal bulan ramadhan, ada yang sudah ganjil dan ada yang genap. Maka dari itu, marilah kita ibadah di sepuluh hari terakhir Ramadhan baik itu malam ganjil ataupun malam yang genap untuk mendapatkan ridlo Alloh swt.

Patut kita renungkan bersama, “Laa takuunuu Ramadhaniyyan, walaakin kuunuu Rabbaniyyan. Janganlah kita menjadi hamba Ramadhan, tapi jadilah hamba Tuhan.” 

Karena ada sebagian manusia yang menyibukkan diri di bulan Ramadhan dengan keta’atan dan qiraatul Qur’an, kemudian ia meninggalkan itu semua bersamaan berlalunya Ramadhan.

Dan marilah kita renungkan bersama saudaraku seiman, "Boleh jadi ini adalah bulan Ramadhan terakhir bagi kita. Tidak akan kita temukan lagi di tahun-tahun mendatang. Karena itu isilah bulan ramadhan yang tersisa hari-hari yang mulia ini dengan kesungguhan sebagaimana kita akan berpisah." 

Setiap tahun kita berpuasa ramadhan, tetapi obsesi sebagian kita sebatas menggugurkan kewajiban. Maka pada ramadhan tahun ini, hendaknya yang menjadi obsesi kita adalah merealisasikan makna puasa yang Imanan wahtisaban agar kita mendapatkan ampunan atas dosa-dosa kita yang lalu.

Setiap tahun kita mengkhatamkan al Qur’an berkali-kali. Maka Hendaknya pada salah satu pengkhataman kita tahun ini disertai tadabbur, perenungan terhadap makna-maknanya serta komitmen untuk mengikuti petunjuknya, menjalankan perintahNya dan meninggalkan laranganNya.

Pada awal-awal bulan kita begitu antusias untuk mendapatkan shalat berjamaah bersama Imam. Maka sedapat mungkin tahun ini sepanjang bulan kita kita ketinggalan takbiratul ihram bersama Imam. (Ba)

10 Agu 2011

Perjalanan Ramadhan di Negeri Maghribi

Menara Koutoubia, Masjid tua di Maroko
Rabat - Ramadhan 1432 H tahun ini adalah bulan puasa yang ke empat dijalani di tanah Maroko. sejak bulan puasa yang jatuh pada tahun 2008 lalu, saya memulai puasa dengan jauh dari keluarga dekat. bulan puasa pertama yang begiu berat mengingat sejak kecil terbiasa menjalani ibadah puasa di tengah-tengah kehangatan keluarga tercinta.

Maroko sebagai negeri yang masih asing di telinga, kini menjadi negara kedua bagi saya setelah tiga tahun lebih menetap disini untuk menimba ilmu. Begitu pun Ramadhan yang berat dilaksakan di awal kini terasa dekat bahkan bisa merasakan suasana hangatnya keluarga.

Kegiatan Ramadhan yang di susun oleh Perhimmpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko bekerjasama dengan KBRI Rabat menjadi obat rindu kebersamaan ibadah bersama keluarga.

Setiap malam ahad, kami warga negara Indonesia mengikuti kegiatan buka bersama, shalat maghrib, isya dan tarawih bersama di Mushola KBRI Rabat, ditambah dengan pengajian bersama yang biasa di bawakan oleh teman-teman Mahasiswa lainnya.

Selain kegiatan di KBRI, bersama teman-teman Mahasiswa yang lain pun punya kesibukan dari kegiatan ilmiah sampai olah raga bersama di asrama mahasiswa Souissi II, Rabat.

Berbaur dengan teman-teman Mahasiswa/i membawa pengaruh dengan kebudayaan sehari-hari dikampung halaman, berbeda lagi kala berbaur dan bersosial dengan orang-orang Maroko, menambah suasana Ramadhan semakin berkesan dengan kultur dan budaya Mereka.

Suasana Spiritual orang Maroko sangat terasa ketika puasa, rasa saling menghormati dan mengasihi pun bertambah di banding hari-hari lainnya. apalagi kita sebagai mahasiswa, sering rasanya ketika dirumah kontrakan sering diberi soup Harirah (sup tomat dan bumbu-bumbu khas Maroko) makanan khas chebekia (roti goreng oles madu) dan sellou (gula-gula dari kacang almond dan biji wijen), dan kurma yang merupakan sajian yang populer di bulan suci ini.

lain cerita lagi ketika kita menjalankan puasa di daerah pedesaan. berkunjung ke rumah teman Maroko bisa menjadi agenda untuk menambah dan mendalami kebiasaan orang Maroko kala Ramadhan. Seperti halnya Indonesia, orang-orang Maroko pun sebuk dengan menu untuk berbuka puasa.

Makanan merupakan penunjang pokok dalam bulan puasa. Namun hal itu tidak melupakannya dari hal yang paling mendasar dibulan suci ini yakni Ibadah.

Dalam hal ibadah, Orang-orang Maroko pun berlomba-lomba untuk mendapatkan hidayah dan ampunan Alloh swt. dengan membaca al-quran, berdzikir, beri'tikaf di Masjid dan bersedekah.

Suasana spiritual lebih terasa ketika malam menjelma, orang-orang pergi ke Masjid untuk menunaikan shalat tarawih. shalat tarawih yang mengikuti madzhab Imam Maliki dengan delapan raka'at di awal malam setelah shalat Isya dan delapan raka'at lain dengan shalat witir di akhir malam sebelum terbit fajar. setiap kali shalat tarawih satu juz ayat selesai di baca, hingga di akhir ramadhan akan khatam tiga puluh juz dari Al-Qur'an.

Apalagi ketika memasuki hari sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan, masjid-masjid di Maroko semakin penuh dan sesak sampai kebanyakan dari mereka sampai shalat di luar masjid dan pinggir jalan demi mendapatkan pahala dari Alloh dan mencari malam Lailatul qadar.

Gaya Ramadhan di Maroko

Ramadhan tidaklah cuma soal berpuasa sepanjang hari dan berbuka saat matahari terbenam. Bagi banyak orang, Ramadhan adalah perjalanan sebulan penuh menuju pencerahan spiritual dan latihan berdisiplin dan rendah hati. Di bulan ini kaum Muslim menahan diri dari bergosip, berkata kotor, amarah, berhubungan seks (saat berpuasa) dan berpikir negatif, sembari tetap menjalankan rutinitas sehari-hari mereka.

Perjalanan itu berbeda tidak saja antara satu orang dengan orang lainnya, tapi juga antara satu negara dengan negara lainnya. Sebagian merasa khawatir dengan lingkungan yang ada ketika menjalankan ibadah puasa, sementara yang lain merasakan suasana yang lebih tenang dan khusyuk. Dan di seluruh dunia, aspek spiritual dan kultural Ramadhan terbaur dalam cara yang berbeda-beda.

Menara Koutoubia dilihat dari sahah Djemaa el Fna, Marrakech
 Di Rabat, Maroko, bulan Ramadhan tidak saja hanya dengan terjadi pergeseran kebiasaan makan dan rutinitas harian orang-orang, tapi juga ada perubahan suasana. Orang-orang merasa lebih sadar akan hubungan mereka dengan Tuhan dan manusia lainnya dengan seringnya mereka melakukan salat, berdoa dan bersedekah.

Bagi banyak orang, Ramadhan adalah pengalaman spiritual dan kultural sekaligus. “Bagi saya Ramadhan adalah bulan ibadah, di bulan ini sehari bisa lebih dari dua juz al-quran selesai di baca”. “begitu pula dengan teman-teman pelajar indonesia yang kini tinggal di asrama selama musim liburan, terjadi perubahan suasana spiritual pada mereka.”
Dan ada suasana sibuk di mana-mana: “Pasar-pasar lebih ramai diwaktu sore dan penuh orang saat jelang waktu berbuka. Masjid-masjid penuh saat waktu salat.

Ramadhan tahun ini berlangsung di bulan Agustus yang termasuk pada bulan-bulan di musim panas, sehingga lama waktu puasa mencapai 17 jam.  Sama seperti biasanya, Ramadhan membawa semangat kedamaian, rahmat dan kebahagiaan. Selama sebulan, Ramadhan membawa kaum Muslim di seluruh Maroko ke suasana hening dan spiritualitas.

 Bagi kebanyakan orang Maroko, bulan suci ini adalah kesempatan untuk menyucikan diri mereka melalui pengendalian nafsu, untuk memperkuat jiwa mereka dengan menyegarkan hubungan mereka dengan Tuhan dan mengevaluasi diri agar bisa menjadi manusia yang lebih baik.

Suasan spiritual yang paling kentara adalah ketika malam menjelma, orang-orang pergi ke Masjid untuk menunaikan shalat tarawih. shalat tarawih yang mengikuti madzhab Imam Maliki dengan delapan raka'at di awal malam setelah shalat Isya dan delapan raka'at lain dengan shalat witir di akhir malam sebelum terbit fajar. setiap kali shalat tarawih satu juz ayat selesai di baca, hingga di akhir ramadhan akan khatam tiga puluh juz dari Al-Qur'an .

Ramadhan adalah saat menengok ke luar dan ke dalam diri kita. “Ramadan adalah waktunya orang-orang mengunjungi keluarga mereka dan sama-sama berbagi makanan lezat. 

“Makanan khas, seperti harira (sup tomat dan bumbu-bumbu khas Maroko), chebekia (roti goreng oles madu) dan sellou (gula-gula dari kacang almond dan biji wijen), adalah sajian yang populer di bulan suci ini. Banyak orang menghabiskan waktu malam mereka di luar rumah, berjumpa teman di kafe, atau menonton acara-acara baru di televisi. Anak-anak khususnya senang dengan baju-baju baru untuk Idul Fitri, hari raya yang menandai akhir Ramadan.”

22 Jul 2011

Menyambut Ramadhan 1432 H




Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,

Hari demi hari kita lalui, hingga kita bertemu dengan Jum'at kembali. Sebuah hari yang agung, sayyidul ayyam, yang penuh dengan barakah dari Allah SWT. Maka keimanan yang dianugerahkannya kepada kita, ditambah dengan kesehatan yang kita miliki merupakan nikmat yang luar biasa besarnya.

Terhadap segala nikmat yang dianugerahkan Allah Azza Wa Jalla, berlaku sebuah kaidah pelipatgandaan. Syaratnya: mensyukuri nikmat-nikmat itu.

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim : 7)
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah.

Tak terasa kita telah melewati nisfu sya’ban yang jatuh pada hari minggu yang lalu, menandakan bahwa hari ini kita telah berada di akhir bulan Sya’ban 1432 H. Ini artinya, tidak lama lagi/tidak kurang dari sepuluh hari lagi kita akan berjumpa dengan tamu agung, tamu istimewa; Ramadhan yang mulia.

Ada dua buah do'a yang hampir sama dalam menyambut bulan nan agung Ramadhan. Yang satu sampai kepada kita melalui Imam Ahmad dan yang satu melalui Al Baihaqi dan Thabrani.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَارِكْ لَنَا فِى رَمَضَانَ

Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, serta berkahilah kami dalam bulan Ramadhan (HR. Ahmad).

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبَ وَ شَعْبَانَ وَ بَلِغْنَا رَمَضَانَ

Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, serta pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan (HR. Al-Baihaqi dan Thabrani).

Hadits yang kedua ini, yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, umumnya adalah hadits yang lebih populer dan lebih kita hafal daripada yang pertama. Namun, hadits ini dinilai dha'if oleh Al-Albani.

Meskipun, hadits kedua itu adalah hadits dha'if, dan kita tidak berani memastikan bahwa itu adalah doa Rasulullah SAW yang diajarkannya kepada para sahabat beliau, setidaknya kita kemudian mengetahui bahwa itu adalah doa orang-orang shalih. Doa yang menyadarkan kita betapa orang-orang shalih terdahulu biasa menyambut Ramadhan jauh-jauh hari sebelumnya; bahkan ketika masih berada di bulan Rajab seperti yang tertera pada dua hadist diatas.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,

Lalu bagaimana bentuk penyambutan kita kepada Ramadhan, khususnya Ramadhan 1432 H yang akan datang?

Dalam sebuah lagu lawas gubahan Sunan Kali jaga yang terkenal dengan judulnya E DHAYOHE TEKA (eh tamunya datang) di jelaskan bagaimana kita harus mempersiapakan diri untuk menyambut bulan suci.

(E dhayohe teka e gelarna klasa,
e klasane bedhah,
e tambalen jadah,
e jadahe mambu e pakakna asu,
e asune mati e buwangen kali,
e kaline banjir e buwangen pinggir,
e pinggire lunyu e yo golek sangu,) 

Tembang tersebut menceritakan kepada umat Islam bila tamunya datang yaitu bulan Ramadhan sudah datang, maka semua umat Islam supaya menyambut dengan penuh suka cita karena akan bertemu dengan bulan yang penuh berkah dan penuh kemuliaan. 

Caranya dengan membersihkan hati terlebih dahulu dari segala kekotoran dunia. Membersihkan atau menjernihkan pikiran, rasa dan keinginan. Semua itu mesti hati-hati dan diibaratkan menggelar tikar (gelarna klasa). Tikarnya jangan sampai sobek atau rusak, dan kalau terpaksa memang sobek atau rusak ditambal pakai jadah (makanan dari ketan). Maka dari itu, didalam bulan ramadhan tersebut jangan dekat-dekat dengan setan tetapi dekatlah dengan Allah Yang Maha Kuasa dengan menjalankan mujahadah dan muhasabah.

Tamu dalam pandangan sufisme jawa, ibarat bayi yang baru lahir. Bayi tersebut bersih, suci belum punya noda dan cacat. Makanya menyambut bulan suci ramadhan tadi harus disambut dengan rasa gembira, ikhlas, ridho hingga kedalam hati, seperti ketika kita kedatangan bayi yang baru lahir. Selanjutnya ada yang melaksanakan padusan(bersihan) supaya bersih dan suci dari najis atau kekotoran.

Allah SWT menegaskan pentingnya membersihkan hati (tazkiyatun nafs) dalam firman-Nya:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
“Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya” (QS. Asy-Syams : 9)
Maka dalam waktu sepuluh hari ke depan kita perlu melakukan evaluasi diri, muhasabah, apakah penyakit-penyakit aqidah masih bersarang dalam diri kita.
Sungguh sangat rugi, jika kita susah payah beramal, namun masih ada kesyirikan yang bersemayam dalam diri kita. Tak peduli sebesar apapun amal kita, jika kita syirik, menyekutukan Allah, maka amal-amal kita tidak akan diterima.
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Al Zumar: 65)

Setelah melakukan muhasabah, selanjutnya kita bermujahadah untuk menghilangkan penyakit-penyakit itu. Alangkah indahnya saat Ramadhan tiba dan kita benar-benar dalam kondisi ikhlas menapaki hari-hari istimewa yang dibawa oleh tamu mulia itu.

Saat-saat keikhlasan bersenyawa dalam diri kita sepanjang Ramadhan merupakan saat-saat terbaik yang akan menjamin kita memperoleh ampunan Allah SWT.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap perhitungan (pahala) akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (Muttafaq 'Alaih)

وقل رب اغفر وارحم و انت خير الراحمين
Khutbah ke dua

Jama'ah jum'at yang dirahmati Allah,

Salah satu tuntunan Allah SWT adalah mensegarakan amal kebaikan dan upaya mendapatkan ampunan. Sebagaimana firman-Nya:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga-Nya yang luasnya seluas langit dan bumi; disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Ali Imran : 133)

Maka demikian pula kita mensegerakan diri dalam menyambut Ramadhan dengan persiapan yang sempurna.

Semoga dengan upaya kita mempersiapkan diri dalam menyambut Ramadhan 1432 H ini, Allah SWT berkenan mempertemukan kita dengan Ramadhan, lalu memberikan taufiq kepada kita untuk mendapatkan keberkahan Ramadhan itu. Selama sebulan penuh kita beramal di bulan suci lagi mulia itu, disertai dengan rahmat dan ampunan Allah SWT, hingga menjadikan kita diridhai-Nya lalu dianugerahi surga.

24 Jun 2011

Hati Yang Buta


Jasad batin atau ruh yang selalu kita artikan sebagai hati, mempunyai kemampuan memandang dan mengenal sesuatu, merasakan kesenangan dan kesusahan, mengetahui yang lahir maupun yang batin khususnya mengetahui keberadaan Allah SWT.

Itulah kelebihan manusia daripada makhluk lain yaitu mempunyai hati yang dapat mengenal Allah dengan sebenar-benarnya sehingga menjadi hamba Allah yang benar-benar takut pada Allah. Sebagaimana difirmankan oleh Allah : Terjemahannya : Apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati-hati mereka.(Al Anfaal : 2)

Hati yang terang-benderang seperti itu dimiliki oleh para ‘ariffin, muqarrobin dan solehin. Hati mereka dapat melihat dan betul-betul mengenal sifat-sifat keagungan Allah. Karena itu mereka benar-benar dapat menghambakan diri kepada Allah SWT. Sebaliknya ada juga manusia yang hatinya gelap (buta) tidak dapat melihat dan mengenal Allah. Hal itu juga difirmankan oleh Allah SWT : Terjemahannya : Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama seperti orang yang buta (mengetahui)? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.(Ar Ra’d : 19)

Firman Allah lagi :Terjemahannya : Mereka itulah orang-orang yang hatinya, pendengarannya dan penglihatannya telah dikunci oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang lalai.(An Nahl : 108)

Dari Umar Al Khattab, Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud :"Cap penutup hati tergantung di kaki arasy. Bila seseorang melanggar larangan Allah (menghalalkan yang diharamkan oleh Allah) maka Allah akan menutup hati mereka dengan cap penutup hati tersebut."

Bila hati sudah buta, atau sudah dikunci mati oleh Allah SWT, maka hati tidak dapat lagi mengenal Allah. Begitulah hati orang-orang kafir dan munafik yang menyebabkan mereka menolak kebenaran.

Namun bukan hanya hati orang kafir dan munafik saja yang sudah buta, kita sebagai umat Islam pun masih banyak yang hatinya buta. Buktinya adalah kita masih sering membuat dosa (kecil atau besar). Orang yang masih membuat dosa adalah orang yang tidak takut pada Allah. Orang yang tidak takut pada Allah adalah orang yang tidak kenal siapa Allah. Jika tidak kenal Allah menandakan bahwa hati telah buta.

Sabda Rasulullah SAW : Terjemahannya : Sesungguhnya seorang mukmin apabila ia melakukan dosa maka terjadilah satu bintik hitam di hatinya. Jika dia bertaubat dan berusaha membuangnya (bintik hitam tersebut) maka akan selamatlah hatinya. Kalau dosanya bertambah maka hatinya akan semakin terkunci.

Sabda baginda lagi yang maksudnya :Orang yang membuat satu dosa hilanglah sebagian akalnya untuk tidak kembali lagi selama-lamanya.

Kalau mata kita buta, maka kita tidak dapat melihat, tidak dapat mengenal bahkan tidak dapat berjalan lagi. Begitulah kalau hati kita buta, kita tidak dapat mengenal Allah dan tidak dapat menempuh jalan syariat lagi. Kita tidak takut, tidak redha, tidak tawakal, tidak yakin, tidak berharap kepada Allah, tidak cinta, tidak yakin dengan janji-Nya yaitu Syurga, Neraka, Hari Hisab, siksa kubur, dan lain-lain lagi. Bila perasaan tersebut sudah tidak ada di hati kita maka datanglah penyakit hati.

Firman Allah :Terjemahannya : Dalam hati mereka ada penyakit lalu ditambah Allah penyakitnya dan bagi mereka siksa yang pedih disebabkan mereka berdusta. (Al Baqarah : 10)

Mereka akan tersiksa di dunia dan di Akhirat. Di dunia mereka akan merasa kecewa, putus asa, berkeluh kesah, dan tidak tenang. Di akhirat tentulah lebih tersiksa lagi.

Penyakit hati yang Allah maksudkan itu diantaranya ialah iri dengki, dendam, buruk sangka, serakah, cinta dunia, bakhil, pemarah, penakut, riya', ujub dan sombong.

Langkah pertama yang wajib ditempuh untuk mengobati penyakit hati kita ialah dengan mengobati hati yang buta itu. Bila hati sudah tidak buta maka penyakit-penyakit hati lainnya akan hilang dengan sendirinya.

Kalau mata kita sakit atau buta, maka kita akan pergi ke dokter mata. Mungkin mata kita akan dibersihkan, dibedah dan sebagainya. Begitupun kalau hati kita yang buta, maka kita mesti memberi pengobatan yang sesuai.

Untuk itu mari kita lihat dulu apakah yang menyebabkan hati terhijab? Di antaranya adalah:

a. Memakan makanan haram dan makanan syubhat, baik sadar atau tidak.

Bersabda Rasulullah SAW yang maksudnya:

"Hati itu dibina dengan apa yang dimakan."

Hati kita adalah segumpal darah yang mengandung sel-sel darah merah dan zat-zat besi. Sel dan zat-zat itu berasal dari makanan yang kita makan. Kalau makanan kita bersih (halal mengikut syariat Islam) maka sel dan zat itu juga bersih sehingga hati kita juga akan bersih. Sebaliknya kalau makanan yang kita makan itu kotor (haram dan syubhat) baik benda itu haram atau uang yang digunakan untuk membelinya haram, maka sel dan zat-zat besi, atau zat-zat yang membina hati kita itu kotor, busuk dan gelap.

Hati seperti wadah yang terbuka. Hati yang kotor tidak akan menerima taufik dari Allah sebab Allah tidak akan memberi taufik dan hidayah kepada hati yang kotor. Sama halnya kita tidak akan memasukkan makanan ke dalam piring yang kotor. Apalagi taufik dan hidayah dari Allah itu sangat tinggi harganya.

Bila hati tidak bisa melihat kebenaran maka tidak akan terasa kebesaran, kehebatan, kasih sayang dan didikan dari Allah, tidak terasa anugerah, penjagaan, pengawasan dan pembelaan Allah. Kalau hati tidak mendapat hidayah dan taufik lagi maka kita akan menjadi orang yang sesat dan selalu terlibat melakukan maksiat dan mungkar.

Bersabda Rasulullah SAW :

Terjemahannya : Dalam diri anak Adam itu ada segumpal daging. Bila baik daging itu baiklah seluruh anggota dan seluruh jasad. Bila jahat dan busuk daging itu jahatlah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati.(Riwayat Al Bukhari & Muslim)

Firman Allah : Terjemahannya : Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman dengan-Nya. (Al Maidah : 88)

Perintah memakan makanan yang halal adalah wajib. Kalau kita makan makanan yang haram dalam keadaan sadar bahwa benda yang kita makan itu haram maka kita akan berdosa dan hati kita akan gelap. Tetapi kalau makanan yang haram dan syubhat itu kita makan, tanpa diketahui bahwa benda itu haram dan syubhat maka kita tidak berdosa tetapi hati kita yang dibina dari makanan itu tetap akan gelap.

Atas dasar itulah Sayidina Abu Bakar As Siddiq mengorek kembali makanan yang telah ditelannya hingga muntah-muntah, setelah dia mengetahui bahwa makanan itu sumbernya adalah syubhat. Amirul Mukminin itu merasa cukup takut bila makanan itu akan membutakan hatinya. Setelah mengorek makanan itu, dengan rasa bimbang bila saja ada sisa-sisa makanan tersebut yang masih ada dalam perutnya, maka beliau pun berdoa, "Ya Allah, jangan Engkau bertindak kepadaku akan apa yang telah jadi darah dagingku"

Begitulah Sayidina Abu Bakar menjaga hatinya. Sebab itu hatinya menjadi terang-benderang. Jadi, tidak mengherankan kalau keyakinan beliau cukup kuat dengan Allah.
Rasulullah SAW pun memuji beliau dengan sabda baginda : Terjemahannya : Kalau dibandingkan iman Abu Bakar dengan iman seluruh manusia kecuali Nabi dan Rasul niscaya imannya masih lebih baik.

Hal yang serupa terjadi pada Imam Nawawi. Semasa hidupnya ia tidak makan buah-buahan di Damsyik karena merasa buah-buahan itu syubhat. Beliau sangat menjaga hatinya.

Hati yang terang-benderang akan mempunyai basirah (pandangan batin) yang tajam yang dapat menembus alam gaib dan alam kerohanian. Bila alam gaib yang hebat itu bisa terlihat oleh kita maka alam yang lahir itu sudah tidak berarti apa-apa.

Perbandingannya seperti ini : Misalnya suatu hari kita diundang menjadi tetamu raja. Maka masuklah kita ke istana. Di sana kita akan diberi dengan pelayanan yang istimewa, dengan pakaian dan makanan, peralatan dan perhiasan yang tidak pernah kita jumpai. Kita merasa sangat gembira dan kita merasa tidak mau kembali lagi ke rumah kita, sebab rumah kita sudah tidak berharga apa-apa lagi dibandingkan dengan kehidupan yang indah di istana.

Begitulah keadaan mereka yang bisa melihat kehebatan alam gaib. Alam yang lahir menjadi tidak berharga lagi. Karena itulah Sayidina Abu Bakar r.a bisa mengorbankan semua harta bendanya kepada jihad fisabilillah hingga tidak ada apa-apa lagi yang ditinggalkan untuk anak isterinya. Beliau mau menebus kehidupan di alam gaib yang maha hebat dengan menggadaikan seluruh harta benda dunia yang murah itu. Begitu juga sahabat-sahabat yang lain dan mujahid-mujahid Islam, mereka telah mengorbankan dunia yang sedikit itu untuk membeli kehidupan akhirat yang agung di alam baqa’ nanti.

Firman Allah : Terjemahannya : Sesungguhnya Allah SWT telah membeli dari orang mukmin, diri dan harta mereka dengan (harga) Syurga untuk mereka. (At Taubah : 111)

Mari kita mengobati hati kita dengan menghindar dari makanan yang haram. Langkah-langkah yang perlu diambil untuk mengelak dari makanan yang haram diantaranya ialah :

1. Jangan memakan makanan yang zatnya jelas haram seperti arak atau makanan yang dicampur arak atau daging yang tidak disembelih.
2. Jangan memakan makanan yang bernajis baik sifatnya najis (karena dibuat dari bahan yang tidak halal) atau karena cara mencucinya tidak betul atau tidak menurut syariat, sehingga tetap najis (tetap tidak halal).
3. Jangan memakan daging yang disembelih secara tidak halal dan membersihkannya tidak menurut syariat.
4. Jangan memakan makanan yang dibeli dengan uang yang haram (sekalipun makanan itu halal). Uang yang haram contohnya uang suap, uang riba, uang curian dan tipuan.
5. Jangan kita memakan makanan dari usaha yang haram seperti riba, pelacuran, judi, dan lain-lain.

Makanan syubhat ialah makanan yang kita ragukan halal atau haram dan uang syubhat ialah uang yang sumbernya kita ragukan halal atau haram. Makanan dan uang yang syubhat itu wajib dielakkan supaya kita berpeluang memperoleh kejernihan batin untuk mengenal Allah dengan pengenalan yang sebenarnya.

Sekarang ini banyak makanan di restoran yang menyalahgunakan perkataan 'HALAL' dan 'ISLAM' sebagai tanda perniagaan mereka. Kita harus berhati-hati juga sebab musuh Islam telah menyalahgunakan kata-kata 'HALAL' dan 'ISLAM' itu untuk keuntungan perut dan kantong mereka saja. Mereka sama sekali tidak takut pada Allah dan tidak ingin untuk mencari keredhaan-Nya.

Makan makanan yang halal tetapi berlebihan juga menjadi satu faktor penentu kepada corak hati kita.

Sabda Rasulullah SAW : Terjemahannya : Wadah yang paling dibenci oleh Allah adalah perut yang penuh dengan makanan yang halal.

Allah benci kepada perut yang penuh dengan makanan sebab perut yang penuh itu akan melemahkan kegiatan hati sehingga tidak kuat untuk memandang pada alam gaib.

Bila hati lemah maka manusia menjadi lalai dan malas. Malas beribadah dan mudah terjebak dalam maksiat. Atas dasar itulah para salafussoleh mengurangi porsi makan mereka.

Rasulullah SAW selalu melatih perutnya untuk berada dalam keadaan lapar. Beliau pernah meletakkan batu di perut dan kemudian mengikat perutnya dengan kain agar tidak terasa kekosongan perut yang memang kosong. Beliau jarang berada dalam keadaan kenyang. Jika satu hari kenyang, maka tiga hari lapar. Beliau selalu berpuasa satu hari, kemudian satu hari lagi berbuka.

Begitu pula cara hidup yang ditempuh oleh Nabi Sulaiman a.s yang dikenal sebagai orang kaya-raya. Beliau selalu berpuasa dan hanya memakan roti kering dan air putih. Nabi Yusuf a.s pun ketika menjadi menteri di Mesir melakukan sehari berpuasa dan sehari berbuka. Bila ditanya mengapa Beliau berbuat begitu, jawabnya, "Di hari aku lapar, aku dapat merasa bahwa aku adalah hamba yang memerlukan pertolongan Allah. Di hari aku kenyang maka aku dapat bersyukur pada Allah SWT yang memberikan rezeki."

Begitulah cara hidup Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul, orang-orang muqarrobin dan orang-orang soleh. Mereka berjuang melawan nafsu untuk membersihkan hati supaya merasa diri sebagai hamba Allah yang lemah dan hina dina. Cara hidup mereka itulah yang wajib kita contoh. Kita mesti senantiasa berperang dengan nafsu yang selalu mengajak kita lalai dari Allah.

Mari kita obati hati kita dengan cara mengurangi makan. Langkah-langkah praktis yang mesti diambil untuk mengurangi makan di antaranya ialah :

1. Hidangan makanan kita janganlah lebih dari dua jenis lauk. Itulah amalan Sayidina Umar. Beliau tidak makan dengan lebih dari dua jenis lauk. Sebab bila jenis lauk sudah bermacam-macam nafsu kita bertambah besar untuk merasakan semua jenis lauk.
2. Makanan itu sebaiknya sederhana, jangan terlalu enak. Sebab kalau terlalu enak, kita tidak mampu mengawal nafsu untuk makan berlebihan.
3. Jangan menyimpan berbagai kelebihan makanan dalam rumah, sebab bila makanan tersedia maka kita senantiasa berfikir untuk makan. Sebaliknya kalau tidak ada simpanan makanan, nafsu tidak akan mengajak kita berfikir untuk makan.
4. Coba memperbanyak puasa sunat seperti di hari Senin dan Kamis atau paling kurang tiga hari dalam sebulan.

Harus kita fahami bahwa langkah-langkah di atas adalah untuk membersihkan hati dan membuat hati kita merasa menjadi hamba Allah yang lemah dalam segala masalah kita.

b. Pandangan dan Pendengaran yang Haram

Kita telah sepakat bahwa : "Dari mata turun ke hati." Artinya hasil dari pandangan (termasuk pendengaran) bukan sekedar terasa di mata dan telinga tetapi akan bersambung dan berkesan di hati. Kalau apa yang kita pandang dan dengar itu baik, maka hati kita akan menerima kebaikannya. Sebaliknya kalau yang kita pandang dan dengar itu maksiat dan mungkar (haram), maka hati kita akan berisi kejahatan dan kemungkaran itu.

Hati yang senantiasa menerima pandangan dan pendengaran yang mungkar akan menjadi hati yang gelap dan pekat, buta dari melihat keagungan Allah. Hati itu tidak lagi merasa takut pada Allah, bahkan cinta dan rindu pada Allah SWT akan hilang.

Saya rasa kita semua tentunya memiliki pengalaman pribadi terhadap hal itu. Kalau setiap hari hati kita terisi dengan zikrullah, bacaan Al Quran, puasa, shalat sunat, membaca kitab dan mendengar pengajian agama, hati kita akan lembut, terasa indah dalam beribadah kepada Allah, rindu kepada kebaikan, benci dan takut kepada dosa.

Tetapi kalau setiap hari hati kita isi dengan program TV, berkata-kata kosong, mengumpat dan mencaci, membaca majalah hiburan yang penuh maksiat, mendengar lagu-lagu pop, maka kita akan menjadi malas beribadah, memandang kecil tentang cara hidup sunnah, tidak ada rasa takut dengan Allah, tidak membesarkan Allah apalagi untuk rindu pada-Nya, tidak suka pada pemuka agama dan lupa pada Akhirat. Hati kita menjadi cinta kepada dunia dengan segala hiburannya. Hati selalu ingin lepas, bebas tanpa disekat oleh hukum Islam, malas berjuang dan berangan-angan, serta ingin hidup lebih lama lagi.
Itulah bukti-bukti yang menunjukkan bahwa tindakan lahir, pendengaran dan penglihatan yang haram akan membuat hati kita buta kepada kebenaran.

Allah berfirman : Terjemahannya : Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercantum (benih) yang akan Kami mengujinya (dengan perintah dan larangan) karena itu Kami menjadikan dia mendengar dan melihat. (Al Insaan : 2)

Tujuan Allah memberi kita mata dan telinga adalah untuk mencari dan mengenal pencipta kita yaitu Allah SWT. Selain itu supaya kita sadar untuk berbakti dan menurut perintah-Nya. Firman-Nya : Terjemahannya : Tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk menyembah Aku. (Adz Dzaariyat : 56)

Kita mesti merasa bahwa diri kita adalah sebagai hamba dalam melaksanakan perintah suruhan dan larangan dari Allah. Yang penting adalah rasa kehambaan. Ibadah yang sebenarnya adalah yang berasal dari rasa kehambaan. Kalau waktu beribadah itu kita tidak merasa hina dan tidak merasa hamba, tetapi merasa besar diri, sombong, marah, dengki, maka amalan lahir itu bukan lagi dinilai ibadah. Sama halnya dengan seorang kuli yang menghadap tuannya dengan rasa besar diri, dengan bertolak pinggang. Bukankah lebih baik bila ia tidak menghadap, sebab tentu akan menimbulkan kemarahan tuannya.
Hidup bukan untuk dunia tetapi hidup untuk Allah dan untuk mencari bekal kembali ke Akhirat. Untuk tujuan itulah kita dikaruniakan Allah pendengaran dan penglihatan. Gunakanlah keduanya sebaik mungkin sebagai alat untuk sampai kepada tujuan yang diredhai-Nya.

Mari kita obati hati kita dengan menjaga pandangan dan pendengaran hanya kepada yang dapat mengingatkan kita kepada Allah, merasa takut pada-Nya dan untuk berbakti pada-Nya.
Langkah-langkah yang sebaiknya diambil di antaranya ialah :

1. Banyakkan membaca Al Quran dan terjemahannya, hadist dan kitab-kitab serta buku-buku agama termasuk majalah dan risalah yang berunsur dakwah. Dalam waktu yang sama, elakkan dari membaca buku-buku khayalan, majalah hiburan dan berita-berita yang jauh dari kebenaran.
2. Selalu mengunjungi mesjid, tempat pengajian agama, majelis dakwah, tahlil dan zikrullah serta mengelak dari tempat-tempat maksiat, acara-acara yang liar (pergaulan bebas) dan keluar rumah tanpa tujuan, sebab di luar banyak pandangan dan pendengaran yang membawa kepada maksiat. Juga kita mengelak dari bergaul dengan kawan yang mengajak kita kepada maksiat.
3. Mendatangi orang-orang soleh, sebab dengan melihat mereka, dapat memberi Kekuatan.
4. Ingat mati, karena selalu mengingat mati akan melembutkan hati.
5. Elakkan dari menonton program TV yang tidak berfaedah. Sekali kita biarkan mata dan telinga kita memandang dan mendengar perkara yang dibenci oleh Allah, maka selama itu kita biarkan nafsu menjadi raja di hati kita sehingga kita lalai dan tidak takut kepada penglihatan dan pengawasan Allah. Lebih baik kita tidur daripada menonton TV sampai larut malam. Hasilnya kita bisa bangun dengan segar untuk menyembah Allah dan mendekatkan hati pada-Nya. Kalau hati kita merasa sama saja antara melihat maksiat atau tidak, itu tandanya hati kita sudah rusak dan jauh dari Allah.

Itulah di antaranya langkah-langkah yang perlu diambil untuk menjernihkan batin kita. Perlu diingat bahwa langkah-langkah itu mesti diperjuangkan sungguh-sungguh dan terus menerus.

Kita jangan cepat jemu atau mudah terpengaruh dengan bujukan nafsu liar kita. Dan janganlah kita mengharap untuk memperoleh hasilnya dalam jangka waktu yang singkat. Sebab menurut pengalaman orang-orang yang telah menempuh jalan itu, waktu paling singkat untuk memperoleh hati yang bersih (taraf kerohanian yang tinggi) melalui mujahadah melawan hawa nafsu (mujahadatunnafsi) adalah 20 sampai 30 tahun lebih.

Waktu yang akan kita tempuh, sesuai dengan waktu yang kita gunakan untuk maksiat. Sejak dalam perut ibu, kita sudah menerima makanan yang tidak jelas halalnya. Setelah lahir pun kita berada di tengah-tengah maksiat dan macam-macam kemungkaran. Hati kita sudah gelap pekat dengan karat-karat dosa yang kita lakukan secara sadar atau tidak. Jadi memang sudah selayaknya kalau kita korbankan 20-30 tahun umur kita yang akan datang untuk membersihkan hati nurani kita. Mudah-mudahan di akhir umur kita, dapat kita rasakan kebersihan hati dan keselamatan dari mazmumah. Mudah-mudahan kita dapat menghadap Allah membawa hati yang selamat.

Firman Allah :

Terjemahannya : Di hari itu (hari kita meninggal dunia) tidak berguna lagi harta dan anak kecuali mereka yang menghadap Allah membawa hati yang selamat. (Asy Syuara’: 88-89)

Apabila ruh kita sudah bersih dan sudah kembali pada fitrahnya semula (sewaktu di alam ruh), maka kita akan merasakan bermacam-macam pengalaman batin yang luar biasa. Tapi hal itu juga tergantung kepada taraf kebersihan ruh yang dapat kita capai. Ada dua peringkat ruh yang bersih yaitu :

1. Ruh yang terlalu bersih (orang yang Mukasyafah)
Biasanya dicapai oleh muqarrobin. Ruh itu dapat menembus hijab antara alam dunia dan malakut dan dapat melihat segala rahasia-rahasia batin manusia.

Hal-hal yang biasanya oleh orang biasa dilihat di alam mimpi maka mereka dapat melihatnya di waktu sadar. Contohnya : kalau ada seseorang yang sifat batinnya seperti anjing maka orang itu akan terlihat oleh mereka seperti anjing. Kalau orang biasa mendapat ilmu dengan belajar maka mereka memperoleh ilmu melalui ilham.

2. Ruh yang bersih
Tingkatan itu dapat dicapai oleh orang-orang soleh. Ruh mereka dapat mengesan rahasia-rahasia batin hanya melalui mimpi-mimpi yang benar dan rasa hati yang benar dan tepat dengan kehendak Allah. Mereka tidak dapat melihatnya secara nyata, sebab hijab pada diri mereka tidak terangkat semua. Allah menceritakan hal itu dalam hadist Qudsi, firman-Nya yang bermaksud : Barang siapa yang memusuhi wali-Ku (orang yang setia pada-Ku) maka Aku mengisytiharkan perang terhadapnya. Dan tiada amal seorang hamba-Ku yang bertakwa (yang beramal) pada-Ku yang lebih Kucintai daripada dia menunaikan semua yang Kufardhukan ke atasnya. Dan hambaKu yang senantiasa bertaqarrub kepadaKu dengan nawafil (ibadah sukarela) sehingga Aku mencintainya, maka jadilah Aku seolah-olah sebagai pendengarannya yang ia mendengar dengannya dan sebagai penglihatannya yang ia melihat dengannya dan sebagai tangannya yang ia bertindak dengannya dan sebagai kakinya yang ia berjalan dengannya.

Dan andaikata ia memohon pasti akan Kuberi padanya. Dan andaikata ia berlindung kepada-Ku pasti akan Kulindungi.

Rasulullah SAW bersabda : Terjemahannya : Takutilah olehmu firasat (pandangan tembus) orang-orang Mukmin karena ia memandang dengan cahaya Allah. (Riwayat At Tarmizi)


Jangan Sepelekan Gizi Pepaya!

KOMPAS.com  - Meski semakin banyak jenis dan ragam buah impor, pepaya tetap populer di Indonesia. Selain murah, zat gizi yang dikandungnya pun lengkap. Biji, daun, batang, dan akarnya sangat bermanafaat sebagai obat.

Pada tahun 1992, The Center for Science in the Public Interest (CSPI) di Washington AS meneliti manfaat kesehatan dari 40 jenis buah. Penilaian didasarkan pada sumbangan dari sembilan jenis vitamin, potasium, dan serat pangan yang terkandung pada masing-masing buah terhadap angka kecukupan gizi yang dianjurkan (AKG).

Dari penilaian tersebut, pepaya telah ditetapkan sebagai buah yang paling menyehatkan, kemudian disusul oleh cantaloupe, stroberi, orange, dan tangerine.
Hasil penelitian CSPI tersebut tentu sangat menggembirakan. Sebab, selain bergizi dan menyehatkan, pepaya juga dikenal sebagai buah yang murah harganya dan enak rasanya. Varietas yang beragam dan ketersediaannya sepanjang tahun turut memperkokoh posisi pepaya sebagai buah idola.

Buah pepaya matang sangat unggul dalam hal betakaroten (276 mikrogram/100 g), betacryptoxanthin (761 mikrogram/100 g), serta lutein dan zeaxanthin (75 mikrogram/100 g). Betakaroten merupakan provitamin A sekaligus antioksidan yang sangat ampuh untuk menangkal serangan radikal bebas.

Vitamin A yang diperoleh dari 100 g buah pepaya matang berkisar antara 1.094-18.250 SI, tergantung dari varietasnya. Sementara betacryptoxanthin, lutein, dan zeaxanthin lebih banyak berperan sebagai antioksidan untuk mencegah timbulnya kanker dan berbagai penyakit degeneratif.

Sumbangan vitamin yang sangat menonjol adalah vitamin C (62-78 mg/100 g) dan folat (38 mikrogram/100 g). Kadar serat per 100 gram buah masak 1,8 gram.
Serat pepaya sangat dikenal manfaatnya dalam memperlancar proses buang air besar (BAB) dan mencegah sembelit. Satu potong pepaya berukuran 140 gram mampu memberikan sumbangan vitamin C sebanyak 150 persen dari angka kecukupan gizi yang dianjurkan per hari (AKG), serta sumbangan serat sebanyak 10 persen dari AKG.

Komposisi mineral pada buah pepaya matang sangat bagus, yaitu dominan potasium (257 mg/100 g) dan sangat sedikit sodium (3 mg/100 g). Rasio potasium terhadap sodium yang tinggi sangat bermanfaat untuk mencegah terjadinya hipertensi.
Mineral lain yang terkandung dalam jumlah lumayan adalah kalsium, besi, magnesium, fosfor, zinc, dan selenium. Keunggulan lain dari buah pepaya adalah rendah lemak, tanpa kolesterol, rendah sodium.   

Batang, Daun, Biji, dan Akar
Selain buah, bagian lain dari tanaman pepapa pun banyak manfaatnya. Sari akar tanaman pepaya misalnya, dapat digunakan sebagai obat penyakit kencing batu, penyakit saluran kencing, dan cacing kremi. Biji pepaya dapat digunakan sebagai obat penyakit cacing kremi.

Batang, daun, dan buah pepaya muda mengandung getah berwarna putih. Getah tersebut merupakan sumber enzim papain, yaitu suatu enzim proteolitik (pemecah protein). Sering digunakan sebagai pengempuk daging (meat tenderizer), yaitu untuk memecah serat-serat daging yang alot menjadi empuk.

Selain itu, papain juga digunakan pada industri minuman (sebagai penjernih bir dan anggur), industri farmasi, industri kosmetik, industri tekstil dan kulit (sebagai penyamak), serta sebagai pembersih limbah.

Perasan daun pepaya muda mengandung alkaloid berasa pahit yang konon berkhasiat sebagai obat penyakit malaria, penurun demam, penurun tekanan darah, dan pembunuh amuba. Daun pepaya muda dapat diolah menjadi buntil, urap, atau lalap rebus.

Bagian dari pepaya yang paling populer adalah buah matang. Buah tersebut dapat dinikmati sebagai dessert, yaitu buah segar yang dimakan dengan cara dikerok memakai sendok atau berupa potongan-potongan berbentuk dadu. Campuran buah pepaya masak dengan susu, yoghurt, atau orange juice yang diblender akan menghasilkan smoothie yang lezat.

Campuran buah pepaya dengan melon, pisang, nanas, stroberi, jeruk, dan kelapa muda akan menghasilkan salad buah yang berwarna-warni menyegarkan. Buah pepaya matang dapat diolah menjadi jus, dodol, selai, jeli, serta hancuran buah untuk dressing dan marinade.

Tabel. Komposisi gizi buah pepaya masak, pepaya muda, dan daun pepaya per 100 gram

Zat Gizi
Buah pepaya masak
Buah pepaya muda
Daun pepaya
Energi (kkal)
46
26
79
Protein (g)
0,5
2,1
8,0
Lemak (g)
0
0,1
2,0
Karbohidrat (g)
12,2
4,9
11,9
Kalsium (mg)
23
50
353
Fosfor (mg)
12
16
63
Besi (mg)
1,7
0,4
0,8
Vitamin A (SI)
365
50
18.250
Vitamin B1 (mg)
0,04
0,02
0,15
Vitamin C (mg)
78
19
140
Air (g)
86,7
92,3
75,4

Sumber: Direktorat Gizi, Depkes RI (1992)

Prof Dr. Ir Made Astawan
Ahli Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor

Sumber : Kompas.com

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes