4 Mar 2014

Hadist-Hadist tentang Akibat Memelihara Anjing

Hadits Pertama
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من أمسك كلبا فإنه ينقص كل يوم من عمله قيراط إلا كلب حرث أو ماشية
Barangsiapa memelihara anjing, maka amalan sholehnya akan berkurang setiap harinya sebesar satu qiroth (satu qiroth adalah sebesar gunung uhud), selain anjing untuk menjaga tanaman atau hewan ternak.”
Ibnu Sirin dan Abu Sholeh mengatakan dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
إلا كلب غنم أو حرث أو صيد
Selain anjing untuk menjaga hewan ternak, menjaga tanaman atau untuk berburu.”
Abu Hazim mengatakan dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كلب صيد أو ماشية
Selain anjing untuk berburu atau anjing untuk menjaga hewan ternak.” (HR. Bukhari)
[Bukhari: 46-Kitab Al Muzaro’ah, 3-Bab Memelihara Anjing untuk Menjaga Tanaman]

Hadits Kedua 
Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا إِلاَّ كَلْبَ مَاشِيَةٍ أَوْ ضَارِى نَقَصَ مِنْ عَمَلِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطَانِ
Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak, maka amalannya berkurang setiap harinya sebanyak dua qiroth (satu qiroth adalah sebesar gunung uhud).” (HR. Muslim: 23 Kitab Al Masaqoh).
An Nawawi membawakan hadits di atas dalam Bab “Perintah membunuh anjing dan penjelasan naskhnya, juga penjelasan haramnya memelihara anjing selain untuk berburu, untuk menjaga tanaman, hewan ternak dan semacamnya.”

Hadits Ketiga 
Dari Salim bin ‘Abdullah dari ayahnya –‘Abdullah-, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا إِلاَّ كَلْبَ مَاشِيَةٍ أَوْ كَلْبَ صَيْدٍ نَقَصَ مِنْ عَمَلِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطٌ
Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak dan anjing untuk berburu, maka amalannya berkurang setiap harinya sebanyak satu qiroth (satu qiroth adalah sebesar gunung uhud).” (HR. Muslim: 23 Kitab Al Masaqoh). ‘Abdullah mengatakan bahwa Abu Hurairah juga mengatakan, “Atau anjing untuk menjaga tanaman.
An Nawawi membawakan hadits ini dalam bab yang sama dengan hadits sebelumnya.

Hadits Keempat 
Dari Salim bin ‘Abdullah dari ayahnya –‘Abdullah-, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّمَا أَهْلِ دَارٍ اتَّخَذُوا كَلْبًا إِلاَّ كَلْبَ مَاشِيَةٍ أَوْ كَلْبَ صَائِدٍ نَقَصَ مِنْ عَمَلِهِمْ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطَانِ
Rumah mana saja yang memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak atau anjing untuk berburu, maka amalannya berkurang setiap harinya sebanyak dua qiroth (satu qiroth adalah sebesar gunung uhud).” (HR. Muslim: 23 Kitab Al Masaqoh). An Nawawi membawakan hadits ini dalam bab yang sama dengan hadits pertama.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin mengatakan, “Adapun memelihara anjing dihukumi haram bahkan perbuatan semacam ini termasuk dosa besar -Wal ‘iyadzu billah-. Karena seseorang yang memelihara anjing selain anjing yang dikecualikan (sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits di atas, pen), maka akan berkurang pahalanya dalam setiap harinya sebanyak 2 qiroth (satu qiroth = sebesar gunung Uhud).” (Syarh Riyadhus Shalihin, pada Bab “Haramnya Memelihara Anjing Selain Untuk Berburu, Menjaga Hewan Ternak atau Menjaga Tanaman”)

Hukum Memanfaatkan Anjing
Para ulama sepakat bahwa tidak boleh memanfaatkan anjing kecuali untuk maksud tertentu yang ada hajat di dalamnya seperti sebagai anjing buruan dan anjing penjaga serta maksud lainnya yang tidak dilarang oleh Islam.
Ulama Malikiyah berpendapat bahwa terlarang (makruh) memanfaatkan anjing selain untuk menjaga tananaman, hewan ternak atau sebagai anjing buruan. Sebagian ulama Malikiyah ada yang menilai bolehnya memelihara anjing untuk selain maksud tadi. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 25/124)
Mengenai larangan memelihara anjing terdapat dalam hadits dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam, beliau bersabda,
مَنِ اتَّخَذَ كَلْبًا إِلاَّ كَلْبَ مَاشِيَةٍ أَوْ صَيْدٍ أَوْ زَرْعٍ انْتَقَصَ مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطٌ
Barangsiapa memanfaatkan anjing selain anjing untuk menjaga hewan ternak, anjing (pintar) untuk berburu, atau anjing yang disuruh menjaga tanaman, maka setiap hari pahalanya akan berkurang sebesar satu qiroth” (HR. Muslim no. 1575). Kata Ath Thibiy, ukuran qiroth adalah semisal gunung Uhud (Fathul Bari, 3/149).
Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا لَيْسَ بِكَلْبِ مَاشِيَةٍ أَوْ ضَارِيَةٍ ، نَقَصَ كُلَّ يَوْمٍ مِنْ عَمَلِهِ قِيرَاطَانِ
Barangsiapa memanfaatkan anjing, bukan untuk maksud menjaga hewan ternak atau bukan maksud dilatih sebagai anjing untuk berburu, maka setiap hari pahala amalannya berkurang sebesar dua qiroth.” (HR. Bukhari no. 5480 dan Muslim no. 1574)
Anjing yang dibolehkan untuk dimanfaatkan adalah untuk tiga maksud yaitu sebagai anjing yang digunakan untuk berburu, anjing yang digunakan untuk menjaga hewan ternak dan anjing yang digunakan untuk menjaga tanaman.

Bagaimana Memanfaatkan Anjing untuk Menjaga Rumah?
Ibnu Qudamah rahimahullah pernah berkata,
وَإِنْ اقْتَنَاهُ لِحِفْظِ الْبُيُوتِ ، لَمْ يَجُزْ ؛ لِلْخَبَرِ .وَيَحْتَمِلُ الْإِبَاحَةَ .وَهُوَ قَوْلُ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ ؛ لِأَنَّهُ فِي مَعْنَى الثَّلَاثَةِ ، فَيُقَاسُ عَلَيْهَا .وَالْأَوَّلُ أَصَحُّ ؛ لِأَنَّ قِيَاسَ غَيْرِ الثَّلَاثَةِ عَلَيْهَا ، يُبِيحُ مَا يَتَنَاوَلُ الْخَبَرُ تَحْرِيمَهُ . قَالَ الْقَاضِي : وَلَيْسَ هُوَ فِي مَعْنَاهَا ، فَقَدْ يَحْتَالُ اللِّصُّ لِإِخْرَاجِهِ بِشَيْءِ يُطْعِمُهُ إيَّاهُ ، ثُمَّ يَسْرِقُ الْمَتَاعَ .
“Tidak boleh untuk maksud itu (anjing digunakan untuk menjaga rumah dari pencurian) menurut pendapat yang kuat berdasarkan maksud hadits (tentang larangan memelihara anjing). Dan memang ada pula ulama yang memahami bolehnya, yaitu pendapat ulama Syafi’iyah (bukan pendapat Imam Asy Syafi’i, pen). Karena ulama Syafi’iyah menyatakan anjing dengan maksud menjaga rumah termasuk dalam tiga maksud yang dibolehkan, mereka simpulkan dengan cara qiyas (menganalogikan). Namun pendapat pertama yang mengatakan tidak boleh, itu yang lebih tepat. Karena selain tiga tujuan tadi, tetap dilarang. Al Qodhi mengatakan, “Hadits tersebut tidak mengandung makna bolehnya memelihara anjing untuk tujuan menjaga rumah. Si pencuri bisa saja membuat trik licik dengan memberi umpan berupa makanan pada anjing tersebut, lalu setelah itu pencuri tadi mengambil barang-barang yang ada di dalam rumah”. (Al Mughni, 4/324)
Walaupun sebagian ulama membolehkan memanfaatkan anjing untuk menjaga rumah, namun itu adalah pendapat yang lemah yang menyelisihi hadits yang telah dikemukakan di atas.

Biar Rumah Aman, Tawakkal itu Kuncinya
Sebagian orang menyangka bahwa menjaga rumah mesti dengan menyewa satpam atau dengan penjaga yang haram yaitu anjing. Bahkan yang senang dipilih adalah anjing karena tanpa biaya bulanan. Padahal sebaik-baik tempat bergantung adalah pada Allah Yang Maha Mencukupi dan sebaik-baik tempat bergantung. Meskipun ada satpam atau anjing penjaga sekalipun, kalau Allah takdirkan rumah kecolongan, yah pasti kecolongan. Karena satpam dan anjing tadi bisa saja dikelabui oleh si pencuri. Maka tawakkal itu adalah kunci utama. Tawakkal adalah bersandarnya hati pada Allah dengan disertai usaha semaksimal mungkin.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3). Ath Thobari rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa bertakwa pada Allah dan menyandarkan urusannya pada Allah, maka Allah yang mencukupinya.”(Tafsir Ath Thobari, 23/46)
Menghidupkan rumah dengan dzikir dan ibadah pun bisa menjaga rumah dari gangguan makhluk jahat termasuk pencuri. Dzikir yang bisa dirutinkan setiap pagi dan sore agar melindungi dari berbagai gangguan adalah sebagai berikut,
بِسْمِ اللهِ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Bismillahilladzi laa yadhurru ma’as mihi syai-un fil ardhi wa laa fis samaa’, wa huwas samii’ul ‘aliim” [Dengan nama Allah yang bila disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui] (Dibaca 3 x). Dalam hadits ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa barangsiapa yang mengucapkan dzikir ini sebanyak tiga kali di shubuh hari dan tiga kali di sore hari, maka tidak akan ada yang memudhorotkannya. (HR. Abu Daud no. 5088, 5089, At Tirmidzi no. 3388, Ibnu Majah no. 3869, Ahmad (1/72). Syaikh Ibnu Baz menyatakan bahwa sanad hadits tersebut hasan dalam Tuhfatul Akhyar hal. 39)
Rajin shalat sunnah di rumah juga bisa melindungi dari berbagai kejelekan atau gangguan.[1] Sebagaimana terdapat hadits dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا خَرَجْتَ مِنْ مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَمْنَعَانِكَ مِنْ مَخْرَجِ السُّوْءِ وَإِذَا دَخَلْتَ إِلَى مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَمْنَعَانِكَ مِنْ مَدْخَلِ السُّوْءِ
Jika engkau keluar dari rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang berada di luar rumah. Jika engkau memasuki rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah.” (HR. Al Bazzar, hadits ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shohihah no. 1323).
Daripada menjaga rumah dengan anjing yang najis dan haram, maka melindungi rumah dengan dzikir dan ibadah yang kami contohkan tentu lebih utama.
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.
 —
Panggang-Gunung Kidul, 30 Jumadal Ula 1432 H (03/05/2011)
di kutip dari Artikel Muslim.Or.Id



20 Sep 2013

Secarik Nota Kerinduan

Pada kertas putih ini, ku tuliskan bait-bait cinta isi gundahan hati yang merana, dirangkai dalam kata-kata berupa sanjungan dan harapan.

Masih diharapkan dari masa lalu yang damai dalam kebersamaan canda tawa kita, dari waktu itu, kini hingga esok masih ada kata damai dalam kebersamaan kita.

Masih di kertas putih ini, ku ukirkan goresan pena penggalang jiwa, penentu raga dalam asa. Ku sampaikan pesan hati berisi cinta, secarik nota kerinduan mendalam.

Masih tak percaya secepat itu kau pergi, tinggalkan lara terbungkus asa, tinggalkan suka terbungkus duka, lara hati dalam sepi, sedu dan sunyi.

Tak ada yang bisa memaksa, kala takdir berbicara, semua bungkam  diam membisu, tertunduk lesu terpatuk pilu.

Pasrah raga dan jiwa, menatap hari-hari dalam pusara, hidup ria dirasa tak sampai, mati rasa pun kian tak ujung.

Kutunggu balasan darimu, atas secarik nota kerinduanku, tuk genapi masa depanku, menaruh harapan tanpa keraguan.

Seperti pertemuan jarum jam dalam angka-angka waktu hitungan.


Rabat, 22:22, 20-9-2013

Khutbah Jumat : Ibadah, Bentuk Komunikasi Hamba Dengan Tuhannya

إنّ الْحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا، أَشُهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، اللّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا مُحَمَّدٍ أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن،
 
أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِالتَّقْوَى الله، فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى

قَالَ اللهُ سبحانه وتَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْز، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ الله الرَّحْمنِ الرَّحِيْم: ((يَا آيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا ادْخُلُوْا فِيْ السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ)) (سورة البقرة:208)

Ma`asyiral Muslimin wa zumrotal mu’minin Rahimakumullah.
Puji dan syukur marilah senantiasa kita ucapkan kehadirat Allah SWT yang selalu melimpahkan ni`mat dan karuniaNya bagi kita, karena Dia-lah, Allah ta’ala yang telah menciptakan manusia yang terdiri dari berbagai unsur yang membuatnya melebihi dari ciptaan-ciptaan Allah yang lainnya. Shalawat dan salam juga haruslah selalu kita perbanyak untuk Rasulullah SAW yang telah berjuang dan mengorbankan segala-galanya untuk kemaslahatan dan kebahagiaan ummatnya, baik di dunia maupun di akhirat.

Ma`asyiral muslimin Rahimakumullah.
Manusia terdiri dari 3 unsur, ‘akliyah, jasadiyah dan ruhiyah. Dalam 3 unsur ini Islam telah memberikan perhatian yang lebih kepada tiga hal tersebut untuk menjaga keberlangsungan dan kesinambungan diantara ketigannya. Pada unsur jasadiyah islam menganjurkan untuk berolah-raga, memakan makanan yang baik, menjaga dari berbagai macam penyakit, dan menjauhkan dari hal-hal yang membahayakan tubuh.

Sedangkan pada unsur ‘akliyah islam menekankan untuk selalu meningkatkan kemampuan akal dengan metode pembelajaran untuk menangkap ilmu pengetahuan baik dengan meneliti, berfikir ataupun bertadabbur.
 
Adapun pada unsur ruhiyah, Islam memberi makan ruh melalui apa yang telah disyariatkan Allah taala untuk hambaNya melalui hukum syariat islam dan ibadah yang selalu menjadi jembatan penghubung antara hamba dengan sang penciptanya. Dan pengaruh ibadah ini juga masuk kepada kepribadian seorang mukmin dan kaitannya dengan hal-hal berikut ini:

Yang pertama: Bahwa Ibadah adalah penghubung ruhiyah antara seorang hamba dengan tuhannya (seperti yang dikatakan sebelumnya). Dalam hal ini manusia selalu membutuhkan petunjuk dan arahan agar bisa meneruskan perjalanan hidup yang mana dalam hidup selalu terjadi peperangan antara kebenaran dan kebatilan. Oleh karena itu, Rasulullah SAW selalu menyegerakan shalat baik sunnat maupun wajib ketika beliau menghadapi sebuah permasalahan, beliau SAW bersabda: “tenangkan kami dengan shalat, wahai Bilal”, untuk meminta petunjuk dan pertolongan dari Allah ta’ala dan beristirahat dari kesibukan dunia.

Untuk memperjelas gambaran tersebut, dalam sebuah hadist qudsi, diriwayatkan oleh Imam Muslim ra. disebutkan, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: Allah swt berfirman:

“Aku membagi shalat (Al-Fatihah) menjadi dua bagian, sebagian untuk-Ku dan sebagian untuk hamba-Ku. Dan hamba-Ku akan mendapatkan apa yang ia minta. Ketika seorang hamba mengatakan “alhamdulillahi rabbil ‘alamin” (segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam), maka Aku menjawab, “Hamba-Ku telah memuji-Ku”. Ketika seorang hamba mengatakan “Arrahmanir rahim” (Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang), maka Aku menjawab, “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku”. Ketika seorang hamba mengatakan “Maaliki yaumid diin” (Yang menguasai hari pembalasan), maka Aku menjawab, “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku”. Ketika seorang hamba mengatakan “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” (hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan), maka Aku menjawab, “Ini adalah bagian-Ku dan bagian hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta”. Ketika seorang hamba mengatakan “Ihdinas shiraathal mustaqim. Shiraathal ladziina an’amta alaihim, ghairil maghdhuubi alaihim, wa ladh-dhaalliin” (Tunjukkanlah kami jalan yang lurus. [yaitu] jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan [jalannya] orang-orang yang Engkau murkai, dan bukan pula [jalannya] orang-orang yang tersesat), maka Aku menjawab, “Ini adalah untuk hamba-Ku dan baginya apa yang ia minta”(H.R Muslim).

Ma`asyiral muslimin Rahimakumullah.
Yang kedua : Bahwa ibadah sebagai pengampun dosa dan penghapus keburukan, seperti-halnya shalat, Allah ta’ala berfirman :
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ

Yang artinya : Dan dirikanlah sholat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (Q.S Hud : 114)

Dan Rasulullah SAW bersabda dalam konteks untuk menjelaskan makna ayat  ini, dari Abu Hurairah, bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di depan pintu rumah salah seorang dari kalian, lalu dia mandi lima kali setiap hari? Apakah kalian menganggap masih akan ada kotoran (daki) yang tersisa padanya?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan ada yang tersisa sedikitpun kotoran padanya.” Lalu beliau bersabda: “Seperti itu pula dengan shalat lima waktu, dengannya Allah akan menghapus semua kesalahan.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Ahmad)

 Pada hadist lain Rasulullah bersabda :
 إِنَّ لِلّهِ تَعَالَى مَلَكًا يُنَادِيْ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ : يَا بَنِيْ آدَمَ قُوْمُوْا إِلَى نِيْرَانِكُمْ الَّتِيْ أَوْقَدْتُمُوْهَا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَأَطْفِئُوْهَا بِالصَّلاَةِ

“Sesungguhnya Allah -Ta’ala- memiliki seorang malaikat yang memanggil setiap kali sholat, “Wahai anak Adam, bangkitlah menuju api (neraka) kalian yang telah kalian nyalakan bagi diri kalian, maka padamkanlah api itu dengan sholat“. [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath (9452) dan Ash-Shoghir (1135), Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah (3/42-43), dan lainnya]. (Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- melemahkan hadits ini dalam Adh-Dho’ifah (3057))

Pada konteks ibadah puasa yang bisa menghapus dosa, nabi SAW bersabda : “Barang siapa mendirikan puasa Ramadan dengan penuh keimanan dan kebaikan, maka akan diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu” (HR Bukhari – Muslim)

Pada Ibadah Haji Rasulullah SAW bersabda:
« مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ، فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّه »

”Barang siapa berhaji ke Baitullah kemudian ia tidak berbuat rafats dan tidak berbuat fasik maka ia kembali seperti pada hari dilahirkan oleh ibunya (bersih dari dosa).” (HR. Al-Bukhari)

Rafats adalah semua bentuk kekejian dan perkara yang tidak berguna. Termasuk di dalamnya bersenggama, bercumbu atau membicarakannya, meskipun dengan pasangan sendiri selama ihram. Fusuq adalah keluar dari ketaatan ke-pada Alloh , apapun bentuknya. Dengan kata lain, segala bentuk maksiat adalah fusuq yang dimaksudkan dalam hadits di atas.

Sedangkan pada zakat, Allah ta’ala berfirman :
خذ من أموالهم صدقة تطهرهم وتزكيهم بها وصل عليهم إن صلاتك سكن لهم

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan shalatlah (berdo'alah) untuk mereka. Sesungguhnya shalat (do'a) kamu itu merupakan ketenteraman jiwa bagi mereka”. (QS. At-Taubah : 103)

Dari sisi lain, ketika kita menelaah lebih jauh tentang ibadah shalat, kita akan menemukan seluruh ajaran dan perintah islam dalam shalat. Dimana didalamnya mengandung Tauhid, yaitu segala sesuatu hanya mengagungkan yang Esa atau tunggal .
قل إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين لا شريك له وبذلك أمرت وأنا أول المسلمين

Ketika melaksanakan shalat kita tidak makan dan minum, itu merupakan ajaran berpuasa. Dan melakukan shalat berarti menggunakan sebagian waktu dari umur manusia yang berarti sebagai ruh Zakat (pembersihan). Dan dalam shalat selalu menghadap kiblat, yakni baitul haram yang merupakan ajaran untuk haji.
 أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ  إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.



Khutbah ke 2
إِنّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا و مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ ، اَللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آله وأصحابه أجمعين.

Ma`asyiral muslimin Rahimakumulla, Allah taala telah memberikan wasiat kepada kita untuk bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benar takwa, dan menjadi seorang muslim yang kaafah selama hidup di dunia hingga ajal menjemput.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Ma`asyiral muslimin Rahimakumullah.

Yang ketiga: tujuan ketiga dari ibadah adalah mendidik  dan meluruskan kepribadian, baik pribadi maupun golongan. Menjadikan seorang hamba merasakan bahwa  Allah ta’ala dekat denganya dan selalu bersamanya dimanapun berada.
مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا  ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ  إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Yang artinya: “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al mujadilah : 7)
عَنْ أَبِي عَمْرو، وَقِيْلَ : أَبِي عَمْرَةَ سُفْيَانُ بْنِ عَبْدِ اللهِ الثَّقَفِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِي فِي اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَداً غَيْرَكَ . قَالَ : قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ]  رواه مسلم[

Dari Abu ‘Amr –ada juga yang menyebutnya- Abu Amrah Sufyan bin Abdullah Ats Tsaqafi radhiyallahu’anhu. Dia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam suatu perkataan yang aku tidak akan bertanya tentang hal itu kepada seorang pun selainmu”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Katakanlah, aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim). Shahih dikeluarkan oleh Muslim di dalam [Al Iman/38/Abdul Baqi])

Iman kepada Allah ta’ala, para malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul dan kepada hari akhir  adalah asas iman atau pijakan pertama seorang mukmin atau sering disebut dengan sisi akidah dan iman. sedangkan dari sudut pandang lainnya, yaitu dari sisi pengamalan yang terdapat pada bagian kedua dari hadist diatas adalah “kemudian Istiqamahlah”.

Kesimpulannya, bahwa ibadah yang dilaksanakan sesuai manhaj nabawi akan memberikan dampak positif dan hasilnya adalah membangun kepribadian yang lurus, hati yang bersih, dan menjadikan hamba yang selalu merasa bahwa dirinya selalu dalam pengawasan dari tuhannya, baik di kala terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, dan semuanya akan dipertanggung-jawakan baik hal-hal yang kecil maupun yang besar dibalas dengan adil. Sesuai dengan janji Allah pada surat An-Najm ayat 39-41 :
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى * وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى * ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَى

“dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,. dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). kemudian akan diberi Balasan kepadanya dengan Balasan yang paling sempurna,”

Akhirnya marilah kita jadikan ibadah kita sebagai jembatan penghubung kita dengan tuhan dan kembalikan seluruh niat ibadah kita hanya untuk mendapatkan ridha dan maghfirah dari Allah SWT, semoga kita semua mendapatkan balasan ibadah kita yang di ridloi. Amin ya rabbal `alamin.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِي يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلىَ اِبْرَاهِيْم وَعَلىَ آلِ اِبْرَاهِيْم وَباَرِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا باَرَكْتَ عَلىَ اِبْرَاهِيْم فِى اْلعاَلَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد.

اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُما كَمَارَبَّيانَا صَغِيرًا وَلِجَمِيْعِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَات وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِناَتِ اْلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْواَتِ بِرَحْمَتِكَ ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ  

اَللّهُمَّ آرِناَ الْحَقَّ حَقاًّ وَارْزُقْناَ اتِّباَعَهُ وَآرِناَ اْلباَطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْناَ اجْتِناَبَهُ.

اللَّهُمَّ افْتَحْ عَلَيْنَا اَبْوَابَ الخَيْرِ وَاَبْوَابَ البَرَاكَةِ وَاَبْوَابَ النِّعْمَةِ وَاَبْوَابَ السَّلاَمَةِ وَاَبْوَابَ الصِّحَّةِ وَاَبْوَابَ الجَنَّةِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ. رَبَّناَ آتِناَ فِي الدُّنْياَ حَسَنَةِ وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةِ وَقِناَ عَذاَبَ الناَّر. وَصَلَّى اللهُ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ  وَالحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.


@. Disampaikan pada khutbah Jumat tanggal 20 September 2013 di KBRI Rabat.


1 Jun 2013

Hadist : 7 Golongan yang di Lindungi Allah Pada Hari Kiyamat

Ma’syiral Muslimin Rahimakumullah


Setelah kita mengucapkan kalimat tahmid, dan kalimat tahlil sebagai bentuk sanjungan dan pujian kita kepada Dzat satu-satunya tempat kita menggantungkan diri dari segala sesuatu, maka tiada kata dan ungkapan yang sepatutnya kita sampaikan dalam majelis yang mulia ini melainkan washiyatut taqwa, yaitu satu kalimat yang dengannya Allah Subhaanahu wa Ta’ala telah menyebutkan dalam sekian banyak ayat, dan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun seringkali memberikan washiyat kepada para shahabatnya dalam khutbah-khutbahnya dengan kalimat tersebut, sebagaimana yang pernah beliau sampaikan  kepada dua orang sahabat yang bernama Abu Dzar dan Mu’ad bin Jabal dalam riwayat at-Tirmidzi beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bersabda:


اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَاَتْبِعِ السَّيِّئَةَ اْلحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ


“Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, dan barengilah perbuatan yang buruk dengan perbuatan yang baik dan berakhlak baiklah kepada semua manusia” (HR. at-Tirmudzi).


Hadits yang mulia ini, jelas-jelas telah memberikan penjelasan kepada kita bahwa ketaqwaan itu tidak terbatas pada waktu dan tempat tertentu. Namun demikian apa yang dipahami oleh para sahabat dari kalimat yang agung ini tidaklah sesederhana yang kita pahami, sebagai kalimat yang sering kita dengar, mudah kita ucapkan, namun kita acapkali susah dalam mencernanya apalagi merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Umar bin Khathab radhiayallahu 'anhu pernah mengatakan dalam Riwayat shahih,


التَّقْوَى هُوَ اْلخَوْفُ بِاْلجَلِيلِ وَاْلعَمَلُ بِالتَّنْزِيلِ وَالرِّضَى بِالْقَلِيلِ وَاْلاِسْتِعْدَادِ بِيَوْمِ الرَّحِيلِ.


“At-Taqwa adalah perasaan takut kepada Allah, beramal dengan apa yang datang dari Allah dan Nabi-Nya, merasa cukup dengan apa yang ada, dan mempersiapkan diri dalam menghadapi hari akhir.”


Maa’syiral Muslimin Rahimakumullah


عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ، فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ، الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ، اجْتَمَعَا عَلَيْهِ، وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ، وَجَمَالٍ، فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى، حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا، فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ.) أخرجه البخاري ومسلم .)


Sabda Rasulullah saw : “Tujuh Golongan yg dinaungi Allah dihari kiamat yg tiada tempat berteduh selain yg diizinkan Nya swt, Pemimpin yg Adil, dan pemuda yg tumbuh dengan beribadah pd Tuhannya, dan orang yg mencintai masjid, dan dua orang yg saling menyayangi karena Allah, bersatu karena Allah dan berpisah karena Allah, dan orang yg diajak berbuat hina oleh wanita cantik dan kaya namun ia berkata : Aku Takut pd Allah, dan pria yg sedekah dg sembunyi2, dan orang yg ketika mengingat Allah dalam kesendirian berlinang airmatanya” (HR. Bukhari dan Muslim)


pada hadist di atas yang diriwayatkan oleh imam bukhari dan muslim, Rasulullah SAW telah memberitahukan kepada kita umatnya, bahwa pada hari kiyamat, hari pembuktian di hadapan Allah ta’ala.

 يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلاً


“Manusia akan dikumpulkan pada hari Kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian dan belum dikhitan.” (Hadits shohih. diriwayatkan oleh Muslim, no. 5102 dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha). manusia dikumpulkan di padang Mahsyar, matahari didekatkan sejauh satu mil dari mereka, sehingga manusia berkeringat, hingga keringat tersebut menenggelamkan mereka sesuai dengan amalan masing-masing ketika di dunia.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Pada hari kiamat, matahari didekatkan jaraknya terhadap makhluk hingga tinggal sejauh satu mil.” –Sulaim bin Amir (perawi hadits ini) berkata: “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan mil. Apakah ukuran jarak perjalanan, atau alat yang dipakai untuk bercelak mata?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sehingga manusia tersiksa dalam keringatnya sesuai dengan kadar amal-amalnya (yakni dosa-dosanya). Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kakinya. Ada yang sampai kedua lututnya, dan ada yang sampai pinggangnya, serta ada yang tenggelam dalam keringatnya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat dengan meletakkan tangan ke mulut beliau.” (Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2864)


Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Jarak satu mil ini, baik satu mil yang biasa atau mil alat celak, semuanya dekat. Apabila sedemikian rupa panasnya matahari di dunia, padahal jarak antara kita dengannya sangat jauh, maka bagaimana jika matahari tersebut berada satu mil di atas kepala kita?!” (Syarah al-’Aqidah al-Wasithiyyah, 2/134).


Ketika matahari sudah berada di atas kita pada hari kebangkitan, maka tidak ada lagi tempat berteduh dan tempat berlindung dari panasnya terik matahari saat itu, tidak ada pohon, tidak ada awan yang bisa melindungi kepala manusia.


Maka pada saat itu Allah ta’ala turun dengan kemulyaannya dengan menaiki ‘arsy nya yang di bawa oleh para malaikat. Dan allah ta’ala memanggil kepada setiap makhluk yang bisa di dengarkan oleh semuanya baik yang berada didekat maupun yang berada di ujung jauh. Seperti yang di riwayatkan oleh Imam Bukhari dalam sebuah hadist Qudsi[1]: أنا الملك أين ملوك الأرض Saya adalah raja, dimanakah raja2 kalian di dunia, dan dalam hadist shahih lain, diriwayatkan Allah ta’ala berfirman : لمن الملك اليوم siapakah raja pada hari ini? (2 kali).  Dan berfirman: لله الواحد القهار Hanya milik allah yang maha kuasa.


Dan pada saat itu dimana manusia dari zaman nabi Adam hingga zaman kita sekarang ini semua di kumpulkan jadi satu, tidak ada apapun yang melindungi manusia, kecuali Arsy allah ta’ala, Dan disitulah Allah melindungi sekelompok manusia yang di khususkan dalam perlindunganNya. Siapakah mereka yang berhak mendapat lindungan Allah. Mereka adalah 7 orang yang telah disebutkan dalam Hadist Nabi yang pertama.


Marilah kita berdoa sejenak, semoga kita menjadi salah satu dari 7 golongan yang disebutkan oleh Nabi, dan mendapatkan perlindungan di hari kebangkitan, ketika tidak ada perlindungan kecuali dari Allah SWT.


Ma’syiral Muslimin Rahimakumullah


Salah satu dari ketujuh golongan yang di sebutkan pada hadist sebelumnya adalah امام عادل   imamun adilun.  Pemimpin yang adil. Yaitu pemimpin yang berbuat adil berdasarkan perintah Allah dan Rasulnya, baik itu pemimpin yang memiliki kekuasaan besar maupun kekuasaan kecil seperti : yang dikatakan oleh imam ibn taimiyah. Sampai Sebagian Ahli ilmu berkata. “barang siapa yang berbuat adil kepada dua orang muridnya, maka dia adalah pemimpin yang adil, dan bila ia meberikan ujian kepada dua muridnya itu dan berlaku adil, maka ia termasuk dari tujuh golongan diatas.. “ Jadi Pemimpin yang adil itu bisa pada siapa saja dan dimana saja, baik itu di rumah, di sekolah dan di tempat kerja. 

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasalam bersabda :


عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالأَمِيرُ الَّذِى عَلَى النَّاسِ رَاعٍ عَلَيْهِمْ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالَعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.


Dari Abdullah bin Umar, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : “Ketahuilah…Setiap dari kalian adalah pemimpin yang akan di mintai pertanggung jawabannya, seorang amir/kepala daerah adalah pemimpin bagi masyarakatnya dan akan di mintai pertanggung jawabanya tentang kepimpinannya, seorang suami adalah pemimpin bagi keluarga dan ia bertanggung jawab terhadap keluarganya, seorang istri adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya dan ia bertanggung jawab terhadap mereka, seorang pembantu adalah pemimpin bagi harta tuannya dan ia bertanggung jawab terhadapnya, setiap kalian adalah pemimpin dan tiap kalian mempunyai tanggung jawab terhadap yang di pimpinnya”. (HR. Abu Daud : 2930)


Hadits ini mengingatkan kepada kita semua — dengan apapun profesi kita saat ini, Presiden, menteri, dubes, bupati, dosen, guru, mahasiswa, murid, suami, istri, majikan, pembantu, penggembala atau lainnya– bahwa Allah akan memintakan pertanggungjawaban dari semua amanah yang telah Dia embankan kepada hambaNya. Tidak ada yang dibiarkan olehNya kecuali setiap kita  akan ‘diberondong’ dengan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dan saat itu tak ada satu makhlukpun yang bisa untuk berdusta.


Selain adil, seorang pemimpin juga di tuntut untuk berlaku bijaksana dan menjadi amanah dalam menjalankan tugas:


ان الله يامركم ان تؤدوا الأمانات الى أهلها واذا حكمتم بين الناس ان تحكموا بالعدل ان الله نعما يعظكم به. ان الله كان سميعا بصيرا


"Sesungguhnya Allah menyuruhmu untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan menyuruh kamu apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."


Ayat tersebut berkaitan dengan perintah Allah kepada orang beriman untuk menjaga dan menyampaikan amanah serta berlaku adil dalam menegakkan hukum. Amanah dan keadilan adalah dua kata yang kerapkali didengar dan dikumandangkan. Itulah sebabnya menurut hadits Rasulullah. pemimpin amanah lagi adil  akan mendapatkan jaminan perlindungan Allah di hari Kiamat nanti.


Ma’asyiral Muslimin, Majlis Jum’at Rahimakumullah


Amanah dalam ayat di atas bersifat menyeluruh. Karena itulah diungkap dalam bentuk jamak muannats salim (amanaat). Karena cakupannya meliputi amanah yang luas, yakni amanah menjalankan ibadah kepada Allah,  amanah mendidik  masyarakat dan generasi muda, membina keluarga, memelihara harta kekayaan negara, dan lain sebagainya.  Semua amanah itu akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah swt.


Allah mengakhiri ayat tentang amanah ini dengan dua asma Allah (وكان الله سمبعا بصيرا  ) "Sami'an Bashiran".  Ini menunjukkan bahwa: "Allah Maha mendengar segala yang diucapkan, Maha mengetahui segala niat dan perbuatan. Tidak ada yang tersembunyi bagi Allah, semuanya tercatat dalam catatan-Nya."   مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ   “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf:18).


Di hadapan Allah, tidak ada yang bebas periksa. Kalau di dunia mungkin keadilan bisa dibeli, tapi di akhirat kelak kita dihadapkan dengan pengadilan Allah yang Maha Adil.


Dan apabila seorang pemimpin mampu melaksanakannya dengan  baik maka ia akan di berikan hadiah oleh Allah ta’ala, sebagaimana yang di riwayatkan oleh, Abi Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda: Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil di sisi Allah (balasan) adalah mereka berada di atas mimbar dari cahaya di sisi kanan Allah yang Maha Al-Rahman dan kedua tanganNya adalah kanan, yaitu orang-orang yang berlaku adil di dalam menghukumi dan adil terhadap keluarga mereka serta adil terhadap apa yang menjadi tanggung  jawab mereka".


Namun juga sebaliknya, bila kepemimpinan itu tersia-siakan maka Allah akan membalasnya. Demikian keterangan yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari dan juga dalam Shahih Muslim hadist dari Ma'qil bin Yasar ra berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda:  Tidaklah seorang hamba diberikan oleh Allah untuk mengurusi perkara rakyat kemudian dia mati dalam keadaan menipu rakyatnya  kecuali Allah akan mengharamkan surga atas dirinya".


Jama’ah Jum’ah yang Berbahagia


Demikianlah, khutbah kali ini semoga benar-benar menjadi pelajaran bagi kita semua.


Khutbah Jumat, 10-5-2013
@KBRI RABAT

17 Mei 2013

Apakah Orang Kafir Melihat Allah SWT?


Dalam masalah ini, seperti yang tertera pada judul diatas, sempat terjadi perdebatan yang sengit antara ulama-ulama, bahkan ikut merembet ke kalangan masyarakat umum hingga jadi pertentangan antara satu golongan dengan golongan yang lain, mereka keluar baik yang dirumah maupun yang di pasar-pasar, dan hampir saja terjadi pertikaian yang bisa mengakibatkan pembunuhan.

Pada saat terjadi masalah-yang genting itu, seorang laki-laki yang memiliki ahklakul hasanah berdiri dan pergi dari kediamannya dengan menaiki himar (keledai) nya. Ia menyusuri perkampungan-perkampungan, tidak ada tempat yang terdapat seorang alim dan fakih kecuali ia singgahi untuk bertanya tentang permasalah yang sedang terjadi didaerahnya itu.

Ia terus berjalan menyusuri tempat-tempat orang ahli Ilmu, ahli hadist, ahli kalam dan seterusnya untuk berdiskusi tentang masalah yang ia bawa itu.

Hingga ada seseorang yang berkata : “Seandainya engkau pergi kepada Syekh Abu ‘Imran alFasi, engkau akan mendapatkan jawaban dari permasalahan itu”. Dengan petunjuk itu, ia pun segera bergegas menuju tempat kediaman syekh yang dimaksud itu dan diikuti oleh jamaah yang lain.

Tak lama kemudian orang-orang berdatangan kerumah Syekh. Dan Syekh pun mempersilahkan tamu-tamunya itu, kemudian berkata kepada mereka : “Sesungguhnya kalian tahu, bahwa jika terjadi suatu permasalahan di masyarakat, mereka akan pergi kepada ulama-ulamanya, karena yang terjadi dipasar itu hanyalah berupa bualan-bualan kosong yang tidak menyelesaikan masalah. Begitupun dengan permasalahan yang tengah terjadi ini”.

Kemudian Syekh Abu ‘Imran melanjutkan perkataannya : “Jikalau kalian diam dan mendengarkannya dengan baik, akan ku beritahukan tentang semua yang kumiliki”.

Orang-orang pun berkata kepada syekh : “yang kami inginkan hanyalah jawaban yang jelas sesuai dengan kemampuan pemahaman kami”.

Dan Syekh Abu Imran pun menjawab : “Billahi attaufiq”, sambil menghela nafas dan melanjutkan perkataannya, “Tidak ada yang berbicara kecuali hanya satu orang dan yang lainnya menyimak”.

Syekh Abu Imran pun memulainya dengan berkata: “Apakah kalian tidak melihat, seandainya aku bertemu dengan seseorang dan berkata kepadanya ‘apakah kamu tahu Abu Imran Alfasi?’, dia jawab: ‘Ya, aku mengenalnya’, kemudian bertanya lagi: ‘Ceritakan kepadaku tentang ciri-ciri dan sifatnya!’. Dan dijawab: ‘Dia adalah seorang laki-laki yang menjual barang-barang seperti keranjang, gandum, minyak di pasar Bani Hisyam, dan ia tinggal di pedalaman’. Kemudian Abu Imran pun berkata lagi: ‘ Apakah kamu mengenaliku?’, di jawab ‘tidak’.

Kemudian beliau melanjutkan penjelasannya lagi : “Setelah itu, ku bertemu lagi dengan orang lain dan berkata kepadanya: ‘Apakah kamu tahu Syekh Abu Imran?, kemudian dijawab: ‘Ya, aku mengenalnya’. Berkata lagi : ‘ Ceritakan kepadaku tentang ciri-ciri dan cifatnya?’ kemudian dijawab : ‘ Dia Seorang laki-laki yang mengajarkan ilmu, berfatwa untuk menyelesaikan permasalahan manusia, ia tinggal di perkampungan’.  Kemudian Abu Imran pun berkata lagi: ‘ Apakah kamu mengenaliku?’, di jawab ‘Ya’…

Setelah bercerita syekh menjelaskan : “Orang pertama yang ditanya apakah ia mengenaliku dan menjawab ‘tidak’, itu diibaratkan seperti orang kafir yang berkata tentang tuhannya:‘Yaitu (tuhan) yang memiliki anak, bersekutu, berjasad dan menyerupai makhluk’ , dia ingin menyembah tuhannya dengan sifat yang ia ketahui itu, ia tidak mengenali tuhannya kecuali dengan sifat-sifat itu. Berbeda dengan orang Mukmin (beriman) yang berkata : ‘Bahwa yang disembah adalah Allah yang Maha Esa, yang tidak memiliki anak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia (surat Al Ikhlas).’ Dan yang kedua ini (orang mukmin) telah mengetahui Allah yang disembahnya dengan segala sifat-sifat-Nya, dan ia bermaksud menyembah-Nya dengan sifat ketuhanan-Nya”.

Kemudian orang-orang pun berdiri dan berkata kepada syekh: “Jazakallahu khairan, engkau telah mengobati apa yang ada didalam diri  kami”. Kemudian mereka mendoakan syekh, dan setelah kejadian itu maka masalah itu pun tidak pernah muncul lagi di kalangan masyarakat.



********************
Demikianlah sepenggal kisah tentang kearifan seorang ulama Maroko, Syekh Abu ‘Imran alFasi, meninggal tahun 430 H, yang bernama asli Musa bin ‘Isa bin Abi Haj, yang lebih dikenal dengan Abu ‘Imran Alfasi, beliau lahir pada tahun 368 H seperti yang dinukil oleh imam Ibn Abdil Bar, namun menurut Abu ‘Amr Addani beliau lahir tahun 365, yang  ini lebih pas seperti yang tertera pada kitab “Al-Madarik” dan “Ad-Dibaj”. Beliau besar dan belajar menuntut ilmu kepada Ulama-ulama Fes, kemudian di Qaraouiyyine, Qordoba, Bilad al Masyriq, Baghdad dan Makkah.

Di ambil dari kitab: “Dzikrayat Masyahir  Rijal al-Maghrib” pengarang : Syekh Abdulloh Gennoun Maghriby, Juz1. dan diterjemahkan oleh : Burhan Ali, Lc.

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes