27 Des 2011

Sheikh Youssef Al-Qardawi : Bagi Muslim Hukum Merayakan Natal dan Tahun Baru Haram, Haram

Sheikh Youssef Al-Qardawi
Yang terjadi di negara kita saat ini sungguh memperihatinkan, ada pertanyaan yang perlu kita tanyakan kepada diri kita masing-masing, termasuk golongan manakah kita ini? dan termasuk masyarakat apakah masyrakat kita ini? Muslim atau kah Masehi, Masyarakat islami atau masyarakat kristiani.?

Banyak dari dari kita sebagian yang merayakan natal atau Chrismas yang merupakan hari rayanya umat kristen atau masehi, dan merayakan tahun baru masehi seolah-olah kita berada di eropa yang kebanyakan masyarakatnya masehi dan nasrani.

Kenapa kita malah merayakan natal? dan mengapa tidak merayakan hari maulid Nabi Muhammad Saw. pembawa risalah islami, dan mengapa kita tidak menghidupkan tahun baru hiijriah, sebagai bentuk peringatan hijrah nabi SAW.

Dalam hal ini, Sheikh Youssef Al-Qardawi, presiden Persatuan Ulama Muslim mengumumkan bahwa tidak diperbolehkan bagi seorang Muslim untuk merayakan hari Natal dan Tahun Baru masehi, serta tidak diperbolehkan bagi Masyarakat Muslim untuk mengubah identitas Islam, wajah dan tradisi agamanya.


Mahasiswa Syariah di Fes Mogok Kuliah

Mahasiswa menuntut Rektor mundur
Pertama kali terjadi dalam sejarah di Universitas di Maroko, lebih dari 4.000 mahasiswa di Fakultas Syariah Universitas Qaraouiyyine, Fes memutuskan untuk mengambil Ijazah Baccalaureate (Ijasah SMA) secara bersamaan dan akan mengosongkan kampus pada esok hari rabu, 28 Desember 2011, dan hal ini akan menjadi tanggung jawab Departemen Pendidikan Nasional dan Pendidikan Tinggi.

Langkah ini diambil setelah tuntutan para mahasiswa tidak direspon oleh pihak Universitas agar Rektor mundur dari jabatannya, dan hal ini juga merupakan bentuk kekecewaan mahasiswa terhadap "kebijakan marjinalisasi dan kelalaian seorang Menteri yang bertanggung jawab atas Fakultas Syariah di Fez serta atas tindakan penutupan kuliah dua bulan berturut-turut tanpa ada konfirmasi dan kepastian yang jelas.

Lebih lanjut bahwa pihak Universitas banyak mengalami kejanggalan diantaranya bahwa rektor universitas tidak menandatangani sertifikat kelulusan selama tahun ajaran sebelumnya.

Dalam hal ini, kata Abdul Latief Alrkik (mahasiswa) bahwa penarikan (Ijazah) ini datang sebagai langkah terakhir protes setelah lebih dari dua bulan tidak ada tanggapan serius dari Kementerian pendidikan dan tidak memungkinkan lagi untuk melanjutkan di perguruan tinggi ini.

Alrkik bertanya dalam sebuah pernyataan untuk kepada  "HesPress" bagaimana pelayanan pendidikan ini akan berjalan sedangkan dalam jangka waktu dua bulan kampus pun telah di tutup, ia menambahkan bahwa tidak adanya garis yang jelas dari pimpinan universitas membuat kami memutuskan untuk menarik Ijazah kami dan meninggalkan kuliah.

Sebelumnya Kampus Fakultas Syariah ini telah melihat serangkaian langkah yang diambil mahasiswa yang meningkat sejak awal tahun seperti pemboikotan kampus, demonstrasi harian di kampus, dan unjuk rasa di Fez dan Ibu kota Rabat.


Terjemah bebas dari Sumber: hespress.com

21 Des 2011

Siapa Saya? Sapa Inyong? Who am I? Qui suis-je? من أنا ؟

Coba anda bayangkan ketika anda sedang duduk sendiri di rumah, kemudian ada yang mengetuk pintu di malam hari, dan kemudian anda membukakan pintu, bayangkan kaliat apa yang anda ucapkan ketika itu.

"Siapa anda.?"
"Dari manakah anda?"
"Ada keperluan apa, anda mengetuk pintu malam-malam? Dan apa pekerjaanmu?"
Mungkin sebagian orang akan menjawab : "Nama saya Fulan bin fulan" atau ada yang berkata "saya dokter si fulan" atau ada yang menjawab "saya seorang pengusaha" dan lainnya.
Akan tetapi sangat disayangkan jawaban seperti itu yang di ucapkan, bila kita di Tanya "Siapa anda?" karena jawaban seperrti itu hanyalah sebuah nama dan keadaan sementara.
Saya adalah seorang muslim, yang telah ditunjuki jalan yang lurus melalui ajaran seorang rasul yang mulia, melalui ajaran Al Qur'an yang sempurna.
Saya adalah milik dari Yang Maha Meciptakan alam semesta, baik yang berupa besar dan kecil. "ana lillaahi rabbil 'alamin" yang setiap hamba selalu berdoa, memohon kepadanya Yang Maha Bijaksana. Telah kujualkan diri ini kepada Alloh, dan hanya Allohlah yang membelinya dengan yang lebih baik.
"Saya muslim! Yang akan tetap menjadi muslim yang mengikuti agama Alloh"
Akan tetapi saat sekarang, sangat disayangkan orang-orang malu mengatakan "saya muslim".
Saya Muslim sebagaimana yang telah difitrahkan oleh Alloh ta'ala dalam firman Nya : "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Alloh; (tetaplah atas) fitrah Alloh yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Alloh. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" (Qs. Ar-Rum;30)
Saya Muslim sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw : "Setiap anak Adam dilahirkan berada di atas fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan di Yahudi, Nashrani dan Majusi"(HR. Muslim, No. 2658.) Di dalam riwayat lain disebutkan : "Tidak ada satu anakpun yang dilahirkan kecuali dia berada diatas Millah (agama )ini".
Saya Muslim, dan berserah diri kepada yang Maha Mengatakan dalam FirmanNya "Sesungguhnya (agama Tauhid) Ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, Maka sembahlah Aku."
Saya Muslim, dan berpasrah seperti semua yang ada di alam berpasrah kepada Alloh sperti dalam FirmanNya. :"Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Alloh, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan Hanya kepada Allohlah mereka dikembalikan. (Qs. Al-Imran:83(.
"Siapa Saya?"

 
Dengarkanlah Ceramah ini subhanalloh..

Wanita Maroko Kini Berani Melamar Pria

Moroccan Woman
Dalam tradisi Timur Tengah dan kebanyakan bagian dunia lain, idealnya adalah kaum lelaki yang berinisiatif melamar perempuan. Di Maroko, tradisi itu mulai bergeser.

Naeema Al-Mansouri misalnya. Dia memutuskan untuk melamar tunangannya setelah sekian lama berpacaran. Naeema merasa pantas untuk melamar tunangannya lantaran ia merasa sudah siap untuk menjadi istri yang baik.

"Waktu itu kami tengah menghadiri acara pernikahan. Aku lalu bertemu calon ibu mertua. Aku pun mengutarakan niatku padanya," papar Naeema seperti dikutip alarabiya.net, Rabu (21/12).

Calon ibu mertuanya, lanjut dia, setuju dengan pinangan itu. Ia mengatakan menyukainya dan tak ada masalah dengan pernikahan. Ia pun akan memutuskan hari dimana pertemuan resmi dapat dilakukan.

"Dia suka padaku. Dia mengatakan setuju asalkan hidup dengan ibunya. Sebab, ia merasa kesepian jika kami tinggal jauh dari dia. Saya setuju dan sekarang dia seperti seorang ibu bagiku," ujar Naeema bahagia.

Hend, 30 tahun, mengaku nekad melamar suaminya. "Aku katakan padanya agar mau menikahiku. Aku bawa seikat bunga untuk memuluskan niatku," kata dia sembari tersenyum.

Hend menambahkan suaminya itu sempat terkejut. Sebab, suaminya waktu itu belum resmi bercerai dengan istri pertamanya.

Dari kisah diatas, menimbulkan pro dan kontra seperti yang dikutip alarabiya.net, tidak semua setuju dengan angin perubahan tradisi tersebut.

Hassan al-Haithami, pemimpin redaksi laman Partai Keadilan dan Pembangunan, menilai tidak masalah seorang perempuan melamar laki-laki. Yang terpenting adalah perempuan itu telah memenuhi syarat yang dibutuhkan sebagai seorang istri.

"Ini adalah persoalan perasaan. Anda tidak mengontrol perasaan dan menghilangkan begitu saja. Bukan suatu penghinaan bagi perempuan yang melakukan itu," ungkapnya.

Sementara Rukaia Zayed, seorang ibu rumah tangga dan ibu dari empat anak, tidak setuju dengan pelanggaran tradisi. Baginya, hanya laki-laki yang seharusnya melamar perempuan. "Saya akan menolak lamaran perempuan," kata dia.

Sosiolog Abdul Samad al-Dialmi menilai tren perempuan melamar laki-laki merupakan bagian dari kampanye kesetaraan gender. "Perempuan Maroko berusaha membuktikan bahwa mereka tidak mau begitu saja menjadi perawan tua. Ia juga memiliki hak yang sama untuk menyampaikan niatan baik untuk menikahi seorang laki-laki," ungkapnya.

Abdul Razek al-Jay, peneliti Rabat University, mengatakan tidak ada yang salah dengan tren di kalangan perempuan Maroko. "Nabi Muhammad dahulu dilamar oleh Khadijah. Namun, hal ini belum menjadi bagian dari Sunnah," tuturnya.

Jay menjelaskan Islam adalah agama yang mengajarkan kesetaraan. Itu sebabnya adalah hak perempuan untuk melamar laki-laki.

"Satu-satunya masalah jika perempuan melamar laki-laki karena hartanya atau ketampanannya tanpa memperhatikan moralnya," pungkasnya.

Hemat saya pribadi, seperti yang dijelaskan oleh Ust. Ahmad Sarwat Lc, yang di muat di eramuslim.com, secara hukum syariah, sebenarnya memang tidak ada larangan apapun bagi seorang wanita bila mengajukan diri kepada seseorang yang dianggapnya shalih dan baik untuk dinikahkan. Bahkan dahulu, sayyidatina Khadijah ra. melakukan hal tersebut. Beliau yang melamar calon nabi Muhammad saat itu yang masih berusia 25 tahun. Hal itu karena Khadijah ra. tahu persis kebaikan akhlaq calon suaminya itu, kejujurannya dan kebaikan-kebaikannya yang lain. Sehingga akhirnya mereka berdua menikah, sementara kejadian itu berlangsung sebelum turun wahyu.

Setelah turun wahyu dan syariah, ternyata keadaan seorang wanita yang datang mengajukan diri untuk dinikahkan pun tetap terjadi. Ada beberapa wanita di masa tasyri' menyerahkan diri kepada Rasulullah SAW untuk dinikahi beliau. Salah satunya adalah apa yang kita baca dalam hadits berikut ini.

Dari Sahal bin Sa'ad ra. berkata bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah SAW dan mengatakan,"Ya Rasulllah, aku telah menyerahkan diriku untuk Anda (bersedia dinikahkan)." Salah seorang shahabat berkata,"Kawinkan saja dengan saya." Maka Rasulullah SAW bersabda,"Aku telah nikahkan kamu dengannya dengan mahar berupa bacaan Al-Qur'an yang kamu miliki. .(HR Bukhari)

Ternyata wanita yang pernah datang kepada Rasulullah SAW dan menyerahkan diri kepadanya bukan hanya satu. Di dalam kitab Fathul Bari, Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan beberapa wanita, diantaranya Khaulah binti Hakim, Ummu Syuraik, Fatimah bin Syuraih, Laila binti Hatim, Zaenab binti Khuzaemah, dan Maemunah binti Al-Harits. Tentunya dengan beragam kekuatan sanad yang menerangkan hal itu.

Sehingga hal tersebut membuat Aisyah ummul mukminin ra. merasa cemburu kepada para wanita itu. Hal itu terungkap dalam salah satu hadits shahih.

Dari Aisyah ra. berkata,"Aku merasa cemburu dengan para wanita yang telah menyerahkan dirinya kepada Rasulullah SAW (untuk dinikahi). Aku berpikir bagaimana pantas wanita menawarkan dirinya kepada laki-laki. Ketika Allah SWT menurunkan ayat (Kamu boleh menangguhkan menggauli siapa yang kamu kehendaki diantara mereka dan menggauli siapa yang kamu kehendaki. Dan siapa-siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu cerai, maka tidak ada dosa bagimu. QS Al-Ahzab: 51), aku berkata bahwa tuhanmu telah menyediakan apa yang engkau inginkan..(HR Bukhari)

Namun meski demikian, para ahli sejarah menyebutkan bahwa tidak satu pun dari mereka yang benar-benar dinikahi oleh Rasulullah SAW, meski pun hukumnya halal bagi beliau. Karena semua itu memang terpulang kepada beliau sendiri. Seandainya beliau menghendaki, para wanita itu halal untuk dinikahi. Namun bila beliau tidak menghendaki, beliau berhak untuk menolaknya. Dan di dalam hadits di atas, itulah yang terjadi.

Maka sebagai wanita muslimah, tidak ada salahnya secara hukum syariah untuk mengajukan diri kepada laki-laki yang anda anggap shalih dan baik secara sudut pandang agama, serta punya kemampuan dan kesiapan lahir batin untuk berumah tangga dengan anda. Kalau pun anda merasa sungkan dan malu, hal itu wajar. Bahkan Aisyah ra. pun merasakan hal tersebut, ketika melihat ada wanita yang datang menyerahkan diri kepada suaminya, Rasulullah SAW.

Tapi pada hakikatnya, hal itu tidak terlarang. Mungkin anda bisa meminta bantuan orang lain yang anda kenal dan sangat anda percaya untuk menyampaikannya kepada laki-laki yang anda sukai. Bukankah dahulu Khajidah ra. juga menggunakan orang lain untuk menyampaikan maksudnya?


Di sarikan dari :
Republika.co.id & eramuslim.com
Rabu, 21 Desember 2011

Masjid Indonesia di Kenitra, Bagian Sejarah yang Terpinggirkan

Masjid Indonesia, di Kenitra
Indonesia, Sebuah negara besar yang berada di bagian tenggara benua asia ternyata telah memiliki pengaruh yang luar biasa terutama sejak zaman awal kemerdekaan.

Gare de Kenitra, sebagai pintu masuk utama
Jauh berada di benua asia sebelah ujung tenggara, nama Indonesia telah banyak di abadikan di negara-negara yang telah ikut kagum dengan semangat kemerdekaan. Salah-satunya Maroko, sebuah negara kerajaan yang berada di ujung barat afrika utara, telah mengukirkan nama Indonesia sebagai nama salah satu masjid di kota Kenitra, kota kecil 40 Km utara Ibu kota Rabat, Maroko.

Hingga saat ini, Masjid Indonesia di Kenitra masih berdiri kokoh dan berfungsi dengan baik sebagai tempat ibadah kaum muslimin.

Tidak banyak yang tahu dari orang indonesia yang berkunjung ke Maroko bahkan warga Indonesia yang berdomisili di Maroko pun belum tentu tahu tentang keberadaan masjid Indonesia ini dan berkunjung ke tempatnya langsung. Mereka lebih akrab dan lebih tahu tentang Rue Soekarno (Jalan Sukarno) di Kota Rabat, Jalan Jakarta dan Jalan Bandung di Kota Casablanca.

Menara Masjid Indonesia
Padahal penamaan masjid ini pun tidak terlepas dengan penamaan nama-nama jalan sebagaimana disebut diatas dan pembebasan visa bagi warga Indonesia sebagai hadiah dari Raja Mohammed V kepada Presiden pertama Indonesia Ir. Sokerno dalam kunjungan pertamanya ke Maroko, 2 Mei 1960 yang merupakan kunjungan pemimpin  dunia pertama yang berkunjung ke Maroko setelah meraih kemerdekaan dari penjajahan Perancis .

Masjid Indonesia yang didirikan pada tahun 1348 Hijriah, terletak pada tempat yang strategis, dekat dengan medina (kota lama) dan dengan pusat belanja pasar tua Khoubazat. 

Masjid yang terletak di samping souk houriya, kawasan biranzaran kota Kenitra ini hingga saat ini masih menjadi salah satu pusat pengajaran dan  pemberantasan buta huruf, dan pengajian singkat setelah shalat maghrib.

Contoh bangunan masjid Maroko, Masjid tua Koutoubia
Jika dilihat dari jenis dan bentuk bangunan, masjid Indonesia berbeda dengan masjid-masjid di Maroko umumnya. Pernah ada dari orang maroko bercerita bahwa beberapa arsitek yang ikut membangun didatangkan dari Indonesia. Begitupun dengan menara masjid agak sedikit berbeda, kalau menara masjid maroko umumnya berbentuk balok yang tinggi, sedangankan menara masjid Indonesia berbukntuk segi empat yang diatas lebih kecil di banding bagian bawah menara. Ukiran dan bentuk tembok di luar dinilai orang Maroko sangat aneh, karena berupa tupukan batu yang disusun, berbeda dengan masjid lain di Maroko.

Namun saat ini, tidak banyak yang tahu kisah dan sejarah dari pembangunan masjid ini kecuali orang maroko yang sudah berumur tua. dan Kita sebagai Warga Indonesia di Maroko diharapakan mampu mejaga hubungan baik yang telah dibangun melalui sejarah yang panjang.
Photo: Ketua PPI Maroko saat berkunjung ke Masjid Indonesia

19 Des 2011

Hadist Birrul Walidain, Mengenang Kasih Ibu Di Hari Ibu

MAKNA "AL BIRR"
Al Birr yaitu kebaikan, berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam (artinya) : "Al Birr adalah baiknya akhlaq". (Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya Nomor 1794).

Al Birr merupakan haq kedua orang tua dan kerabat dekat, lawan dari Al ‘Uquuq yaitu kejelekan dan menyia-nyiakan haq..

"Al Birr adalah mentaati kedua orang tua didalam semua apa yang mereka perintahkan kepada engkau, selama tidak bermaksiat kepada Allah, dan Al ‘Uquuq dan menjauhi mereka dan tidak berbuat baik kepadanya."  (Disebutkan dalam kitab Ad Durul Mantsur 5/259)

Berkata Urwah bin Zubair mudah-mudahan Allah meridhoi mereka berdua tentang firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (artinya): "Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan." (QS. Al Isra’ : 24). Yaitu: "Jangan sampai mereka berdua tidak ditaati sedikitpun".  (Ad Darul Mantsur 5/259)

Berkata Imam Al Qurtubi mudah-mudahan Allah merahmatinya: "Termasuk ‘Uquuq (durhaka) kepada orang tua adalah menyelisihi/ menentang keinginan-keinginan mereka dari (perkara-perkara) yang mubah, sebagaimana Al Birr (berbakti) kepada keduanya adalah memenuhi apa yang menjadi keinginan mereka. Oleh karena itu, apabila salah satu atau keduanya memerintahkan sesuatu, wajib engkau mentaatinya selama hal itu bukan perkara maksiat, walaupun apa yang mereka perintahkan bukan perkara wajib tapi mubah pada asalnya, demikian pula apabila apa yang mereka perintahkan adalah perkara yang mandub (disukai/ disunnahkan). (Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an Jil 6 hal 238).

Berkata Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah mudah-mudahan Allah merahmatinya: Berkata Abu Bakr di dalam kitab Zaadul Musaafir "Barangsiapa yang menyebabkan kedua orang tuanya marah dan menangis, maka dia harus mengembalikan keduanya agar dia bisa tertawa (senang) kembali". (Ghadzaul Al Baab 1/382).

HUKUM BIRRUL WALIDAIN
Diulang-ulangnya ayat yang menerangkan berbuat baik kepada orang tua, dan dirangkaikannya ketaatan kepada keduanya dengan ketaatan kepada Allah subhanahu wata’ala menunjukkan tentang keutamaan 'Birrul Walidain' (berbakti kepada orang tua). Hal ini juga didukung dengan beberapa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menerangkan tentang keutamaan 'Birrul Walidain', di antaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, "Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu bertanya, "Ya Rasulullah! Siapakah manusia yang paling berhak aku pergauli dengan baik? "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, "Ibumu". Dia bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, "Ibumu" Dia bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, "Ibumu". Dia bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, "Bapakmu". (HR. Bukhori kitab al-Adab & Muslim kitab al-Birr wa ash-Shilah)

Dan dalam hadits lain disebutkan, artinya, "Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta ijin kepadanya untuk ikut berjihad. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya, "Apakah kedua orang tuamu masih hidup?" Dia menjawab, "Ya". Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya, "Berjihadlah (dengan berbakti) pada keduanya." (HR Bukhori kitab al-Adab & Muslim kitab al-Birr wa ash-Shilah)

Dari dalil-dalil yang ada para Ulama’ Islam sepakat bahwa hukum berbuat baik (berbakti) pada kedua orang tua hukumnya adalah wajib, hanya saja mereka berselisih tentang ibarat-ibarat (contoh pengamalan) nya.

Berkata Ibnu Hazm, mudah-mudahan Allah merahmatinya: "Birul Walidain adalah fardhu (wajib bagi masing-masing individu). Berkat beliau dalam kitab Al Adabul Kubra: Berkata Al Qodli Iyyad: "Birrul walidain adalah wajib pada selain perkara yang haram." (Ghdzaul Al Baab 1/382)

Dalil-dalil Shahih dan Sharih (jelas) yang mereka gunakan banyak sekali , diantaranya:

1. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (artinya): "Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua Ibu Bapak". (An Nisa’ : 36).

Dalam ayat ini (berbuat baik kepada Ibu Bapak) merupakan perintah, dan perintah disini menunjukkan kewajiban, khususnya, karena terletak setelah perintah untuk beribadah dan meng-Esa-kan (tidak mempersekutukan) Allah, serta tidak didapatinya perubahan (kalimat dalam ayat tersebut) dari perintah ini. (Al Adaabusy Syar’iyyah 1/434).

2. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (artinya): "Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya". (QS. Al Isra’: 23).

Adapun makna ( qadhoo ) = Berkata Ibnu Katsir : yakni, mewasiatkan. Berkata Al Qurthubiy : yakni, memerintahkan, menetapkan dan mewajibkan. Berkata Asy Syaukaniy: "Allah memerintahkan untuk berbuat baik pada kedua orang tua seiring dengan perintah untuk mentauhidkan dan beribadah kepada-Nya, ini pemberitahuan tentang betapa besar haq mereka berdua, sedangkan membantu urusan-urusan (pekerjaan) mereka, maka ini adalah perkara yang tidak bersembunyi lagi (perintahnya). (Fathul Qodiir 3/218).

3. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (artinya): "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu Bapanya, Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang Ibu Bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu." (QS. Luqman : 14).

Berkata Ibnu Abbas mudah-mudahan Allah meridhoi mereka berdua "Tiga ayat dalam Al Qur’an yang saling berkaitan dimana tidak diterima salah satu tanpa yang lainnya, kemudian Allah menyebutkan diantaranya firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (artinya) : "Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang Ibu Bapakmu", Berkata beliau. "Maka, barangsiapa yang bersyukur kepada Allah akan tetapi dia tidak bersyukur pada kedua Ibu Bapaknya, tidak akan diterima (rasa syukurnya) dengan sebab itu." (Al Kabaair milik Imam Adz Dzahabi hal 40).

Berkaitan dengan ini, Rasulullah Shalallahu’Alaihi Wassallam bersabda (artinya) : "Keridhaan Rabb (Allah) ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb (Allah) ada pada kemurkaan orang tua"  (Riwayat Tirmidzi dalam Jami’nya (1/ 346), Hadits ini Shohih, lihat Silsilah Al Hadits Ash Shahiihah No. 516).

4. Hadits Al Mughirah bin Syu’bah - mudah-mudahan Allah meridhainya, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam beliau bersabda (artinya): "Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian mendurhakai para Ibu, mengubur hidup-hidup anak perempuan, dan tidak mau memberi tetapi meminta-minta (bakhil) dan Allah membenci atas kalian (mengatakan) katanya si fulan begini si fulan berkata begitu (tanpa diteliti terlebih dahulu), banyak bertanya (yang tidak bermanfaat), dan membuang-buang harta".  (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya No. 1757).

KEUTAMAAN BIRRUL WALIDAIN

Pertama : Termasuk Amalan Yang Paling Mulia
Dari Abdullah bin Mas’ud mudah-mudahan Allah meridhoinya dia berkata : Saya bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: Apakah amalan yang paling dicintai oleh Allah?, Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: "Sholat tepat pada waktunya", Saya bertanya : Kemudian apa lagi?, Bersabada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam "Berbuat baik kepada kedua orang tua". Saya bertanya lagi : Lalu apa lagi?, Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : "Berjihad di jalan Allah". (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya).

Kedua : Merupakan Salah Satu Sebab-Sebab Diampuninya Dosa
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (artinya): "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya….", hingga akhir ayat berikutnya : "Mereka itulah orang-orang yang kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga. Sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka." (QS. Al Ahqaf 15-16)

Diriwayatkan oleh ibnu Umar mudah-mudahan Allah meridhoi keduanya bahwasannya seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan berkata : Wahai Rasulullah sesungguhnya telah menimpa kepadaku dosa yang besar, apakah masih ada pintu taubat bagi saya?, Maka bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : "Apakah Ibumu masih hidup?", berkata dia : tidak. Bersabda beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : "Kalau bibimu masih ada?", dia berkata : "Ya" . Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : "Berbuat baiklah padanya". (Diriwayatkan oleh Tirmidzi didalam Jami’nya dan berkata Al ‘Arnauth : Perawi-perawinya tsiqoh. Dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim. Lihat Jaami’ul Ushul (1/ 406).

Ketiga : Termasuk Sebab Masuknya Seseorang Ke Surga
Dari Abu Hurairah, mudah-mudahan Allah meridhoinya, dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: "Celakalah dia, celakalah dia", Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya : Siapa wahai Rasulullah?, Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : "Orang yang menjumpai salah satu atau kedua orang tuanya dalam usia lanjut kemudian dia tidak masuk surga". (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya No. 1758, ringkasan).

Dari Mu’awiyah bin Jaahimah mudah-mudahan Allah meridhoi mereka berdua, Bahwasannya Jaahimah datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam kemudian berkata : "Wahai Rasulullah, saya ingin (berangkat) untuk berperang, dan saya datang (ke sini) untuk minta nasehat pada anda. Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : "Apakah kamu masih memiliki Ibu?". Berkata dia : "Ya". Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : "Tetaplah dengannya karena sesungguhnya surga itu dibawah telapak kakinya". (Hadits Hasan diriwayatkan oleh Nasa’i dalam Sunannya dan Ahmad dalam Musnadnya, Hadits ini Shohih. (Lihat Shahihul Jaami No. 1248)

Keempat : Merupakan Sebab keridhoan Allah
Sebagaiman hadits yang terdahulu "Keridhoan Allah ada pada keridhoan kedua orang tua dan kemurkaan-Nya ada pada kemurkaan kedua orang tua".

Kelima : Merupakan Sebab Bertambahnya Umur
Diantarnya hadit yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik mudah-mudahan Allah meridhoinya, dia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : "Barangsiapa yang suka Allah besarkan rizkinya dan Allah panjangkan umurnya, maka hendaklah dia menyambung silaturrahim".

Keenam : Merupakan Sebab Barokahnya Rizki
Dalilnya, sebagaimana hadits sebelumnya.
Keutamaan 'Birrul Walidain' yang lain adalah bahwa hal itu merupakan sifat para Nabi'alaihimussalam. Allah subhanahu wata’ala mengisahkan tentang Nabi Ibrahim 'alaihissalam dalam firman-Nya, artinya, "Ibrahim berkata, "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku." (QS. Maryam: 47). Juga pujian Allah subhanahu wata’ala kepada Nabi 'Isa 'alaihissalam, artinya, "Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku sebagai seorang yang sombong lagi celaka." (QS. Maryam: 32 )

Itulah sirah dan sikap para Nabi 'alaihimussalam kepada orang tua mereka, dan jalan mereka itulah jalan yang lurus/ shirathal mustaqim, yang selalu kita minta dalam setiap shalat kita. Dan inilah salah satu jalan untuk meraih surga. Namun yang perlu diperhatikan adalah bahwa berbuat baik kepada keduanya bukan berarti kita harus melaksanakan semua perintah mereka. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, "Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya dengan baik, dan ikutlah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. Luqman:15)

Sa'ad bin Waqqoshradhiyallahu ‘anhuberkata, "Diturunkan ayat ini (QS. Luqman: 15) berkaitan dengan masalahku. Dia berkata, "Aku adalah seorang yang berbakti kepada ibuku, maka tatkala aku masuk Islam, dia berkata, "Wahai Sa'ad apa yang aku lihat dengan apa yang baru darimu?" "Tinggalkan agama barumu itu kalau tidak, aku tidak akan makan dan minum sampai aku mati sehingga kamu dicela dengan sebab kematianku dan kau akan dipanggil dengan wahai pembunuh ibunya". Maka aku katakan kepadanya, "Jangan kau lakukan wahai ibuku, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan agamaku ini untuk siapa saja". Maka dia (ibu Sa'ad) diam, tidak makan selama sehari semalam, maka dia kelihatan sudah payah. Kemudian dia tidak makan sehari semalam lagi, maka kelihatan semakin payah. Maka tatkala aku melihatnya aku berkata kepadanya, "Hendaklah kau tahu wahai ibuku, seandainya kau memiliki seratus nyawa, dan nyawa itu melayang satu demi satu, maka tidak akan aku tigggalkan agama ini karena apapun juga, maka kalau kau mau makan makanlah , kalau tidak maka jangan makan". Lantas diapun makan." (Tafsir Ibnu Katsir)

Allah subhanahu wata’ala menyediakan balasan/ pahala yang besar bagi siapa yang taat pada orang tuanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, artinya, "Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua." (HR Tirmidzi kitab al-Birr wa ash-Shilah, dishahihkan oleh al-Albany). Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, "Apakah perbuatan yang paling utama?" Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, "Iman kepada Allah dan RasulNya". "Kemudian apalagi?" Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, "Berbuat baik kepada Orang tua." Kemudian apalagi?" Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, "Berjuang di jalan Allah." (HR. Bukhari kitab al-Hajj dan Muslim bab Bayan kaunil iman billah min afdhailil a'mal)

Dan pahala yang besar ini tidak mudah diperoleh kecuali dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban kepada orang tua kita.

Ada beberapa kewajiban kita terhadap orang tua, di antaranya:

Yang pertama: Berbuat baik kepada keduanya baik dengan perkataan atau perbuatan. Allah subhanahu wata’ala berfirman, Artinya, "Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "Ah", dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS: al-Qur'an-Isro: 23)

Yang kedua: Rendah hati terhadap keduanya. Allah subhanahu wata’ala berfirman, Artinya, "Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan". (QS: al-Isro: 24)

Yang ketiga: Mendoakan keduanya baik semasa hidupnya ataupun sesudah meninggalnya. Allah subhanahu wata’ala berfirman, Artinya, "Dan ucapkanlah, Wahai Tuhanku kasihanilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." (QS: al-Isro: 24)

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Apabila anak Adam mati maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara: shodaqoh jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak soleh yang mendoakannya." (HR. Muslim kitab al-Washiyyah)

Yang Keempat: Mentaati keduanya dalam kebaikan. Allah subhanahu wata’ala berfirman, Artinya, "Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu , maka janganlah kamu mengikuti keduanya , dan pergaulilah keduanya dengan baik". (QS: Luqman: 15)

Yang Kelima: Memintakan ampun bagi keduanya sesudah meninggal, yaitu apabila meninggal dalam keadaan Islam. Allah subhanahu wata’ala berfirman menceritakan tentang nabi Ibrahim ’alaihissalam Artinya, "Ya Tuhan kami beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang-orang mu'min pada hari terjadinya hisab/ kiamat". (QS Ibrohim: 41)

Juga firman-Nya tentang Nabi Nuh ’alaihissalam, Artinya, "Ya Tuhanku ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang beriman laki-laki dan perempuan." (QS: Nuh: 28)

Yang Keenam: Melunasi hutangnya dan melaksanakan wasiatnya, selama tidak bertentangan dengan syari'at. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membenarkan ucapan seorang wanita yang berpendapat hutang ibunya wajib dilunasi, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menambahkan bahwa hutang kepada Allah subhanahu wata’ala berupa shaum nadzar lebih berhak untuk dilunasi.

Yang Ketujuh: Menyambung tali kekerabatan mereka berdua, seperti: Paman dan bibi dari kedua belah pihak, kakek dan nenek dari kedua belah pihak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya sebaik-baik hubungan/ silaturahim adalah hubungan/ silaturohim seorang anak dengan teman dekat bapaknya." (HR. Muslim kitab al-Qur'an-birr wash shilah).

Yang Kedelapan: Memuliakan teman-teman mereka berdua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memuliakan teman-teman istrinya tercinta Khadijah radhiyallahu ‘anha, maka kita muliakan pula teman-teman istri kita. Dan teman-teman orang tua kita lebih berhak kita muliakan, karena di dalamnya ada penghormatan kepada orang tua kita.

Semoga Allah subhanahu wata’ala tidak menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang mendapati masa tua orang tuanya, namun kita tidak bisa berbuat baik kepadanya, karena berbakti kepada keduanya adalah salah satu jalan untuk meraih surga.

Wallahu a’lam.

Disarikan dari berbagai sumber :

18 Des 2011

Episode Cinta Sang Ibu Di Hari Ibu

“Insyaallah..insyaallah..insyaallah.. ada jalan”   by Maher Zein

Lirik lagu diatas seringkali di dendangkan oleh Jundi, anakku. Barangkali dia juga belum bisa memahami apakah makna dari bait kalimat simpel namun menggugah itu. Bagi kita yang dewasa, pastinya sangat mengerti dengan makna dari bait tersebut.

Namun, tidak semudah hanya dengan di ucapkan. Belum banyak pula yang bisa memahami bahwa sejatinya waktu ujian itu tidak pernah lebih panjang daripada waktu hari belajar. Tetapi banyak orang tidak sabar ketika menghadapi ujian, seakan sepanjang hidupnya hanya menemui ujian dan sedikit hari untuk belajar. Sayang sekali, mereka tidak memetik suatu hikmah dari sebuah proses itu.

Sebenarnya... ujian kesabaran, keiklasan dan keteguhan lebih sedikit waktunya dibanding kenikmatan hidup yang kita rasakan. Sebagai contoh, jika ada sekolah yang waktu ujiannya lebih banyak daripada waktu belajarnya, maka sekolah itu dianggap sekolah “gila.” Dan sesungguhnya, masih banyak yang hanya memaknai bahwa kesulitan-kesulitan adalah bentuk ujian. Padahal, kenikmatan sendiri itu adalah ujian ..

Nikmat pendengaran, akan menjadi ujian jika kita dihadapkan pada dorongan manusiawi untuk mendengar gunjingan. Nikmat perasa, yang acapkali tanpa sadar kita gunakan untuk ber-ghibah atau bersilat lidah dan menyakiti hati orang lain. Nikmat harta, yang seringkali membuat kita diperbudak olehnya lalu merasa tinggi hati.  Nikmat kecerdasan, yang pada akhirnya menggoda iman kita untuk berbuat takabur dan tidak jujur. Nikmat sehat, yang sering juga terlupakan tatkala kita tak pernah menyadari bahwa Allah memberikan nafas kepada kita tanpa harus membayar. Semua kenikmatan itu nyaris terpenjara dan melumpuhkan lidah kita untuk mengucap HAMDALLAH YA RABB ...

Dalam melengkapi naskah memoar inspiratif mengenai aa Ogest yang sudah pernah saya bahas disebuah notes, alhamdulillah kini sudah memasuki BAB akhir, insyaallah ya Maher Zein ;) semoga menjadi sesuatu J. Dalam hati saya dan aa Ogest sebagai penderita GBS  lumpuh selama 21 tahun, pernah berharap suatu hari ingin bergerak untuk mensosialisasikan GBS di Indonesia yang nyatanya memang belum tersosialisasi dengan baik, bahkan belum banyak yang mengetahuinya.

Subhanallah, Allah maha mendengar doa hambanya dan semua bisa terjadi atas kehendak-NYA. Hingga saya dipertemukan dengan seorang “Inspiring Mom” Drg. Silvia Wahyuni yang dari hatinya tergerak untuk mendirikan PEDULI GBS di Indonesia. Semua bermula ketika ada dua orang balita, Shafa Azalia Zulkarnain dan Azka, yang terserang virus GBS ( Guillain Barre Syndrome ).
Drg.Silvia Wahyuni dengan rekan-rekannya dengan segenap hati dan tenaga serta waktu, berjuang menggalang dana untuk untuk biaya pengobatan di ICU Rumah Sakit yang nominal rupiahnya bisa untuk membeli satu rumah mewah di kawasan elite, atau satu rumah minimalis dan satu buah mobil Honda Jazz new version..

Coba kita renungkan, dengan menutup mata sekejab saja.. bayangkan anak-anak balita kita yang tengah dalam masa emas perkembangan. Mereka aktif berlari-lari lincah, mereka dengan sigapnya mengobrak abrik mainan bahkan semua barang-barang yang ada dirumah kita. Mereka pun dengan lantang berceloteh lucu, mereka dengan manjanya berlari dengan kakinya yang normal, menjangkau tubuh kita dengan tangannya yang sempurna, demi hanya untuk dipeluk ibunya..

Namun apa yang terjadi tanpa kita sadari? Seringkali tanpa sadar, atau bahkan dengan kesadaran penuh, kita memarahinya dan menyebutnya anak nakal. “Ibu,aku  tidak nakal. Tetapi ku banyak akal..” seringkali juga kita malah memakinya lantaran kesal dan secara otomatis, mereka merekam semua makian kita dalam benaknya yang kemudian keluar dari celoteh polosnya. Atau barangkali ada yang membentaknya ketika  sedang letih hanya karena anak kita ingin meraih jemari kita..

Ibu.. bagaimana jika kita harus menghadapi hari-hari selama berbulan-bulan atau  bertahun-tahun, di lorong sebuah Rumah Sakit dan hanya bisa melihat anak kita dari balik kaca sebuah ruang ICU. Bagaimana jika selama rentan waktu tertentu, kita tak pernah lagi melihat anak-anak kita tertidur dikamar bersama kita, melainkan tertidur di sebuah ranjang besi Rumah Sakit dengan alat-alat logam yang menempel di tubuhnya, dengan detak jantung yang kembang kempis, dengan leher yang terpaksa di bolongi untuk dimasukkan alat bantu pernafasan. Bagaimana jika setiap jam, perawat selalu memasukkan selang dari lubang hidung atau mulut anak kita, untuk mengambil cairan yang menumpuk di dalamnya. Bagaimana jika anak kita, yang semestinya sudah bisa bersekolah dan berlari-lari, nyatanya mengidap suatu penyakit yang menyebabkan ia belum bisa duduk, belum bisa berjalan apalagi berlari-lari dengan lincah. Ibu, tidak ada yang menginginkan seperti ini tetapi Allah memberikan ini... kepada mereka disana..

Ibunda dan Ayahanda Shafa Azalia Zulkarnain, yang tak bisa memejamkan mata dengan indah ketika puteri tercintanya yang kini berusia lima tahun terserang virus GBS. Mereka pernah mendapati Shafa dalam keadaan koma selama dua hari, mendapati otot sensorik Shafa sempat terganggu dan menghadapi situasi dimana sudah tak ada lagi biaya sehingga harus berhutang ke Rumah Sakit dalam jumlah yang sangat tidak sedikit. Hatinya remuk, namun semangatnya tak pernah remuk. Langkah kaki beliau menembus segala rintangan untuk bisa mendapatkan keringanan dari pemerintah, bukanlah hal yang mudah. Dan berkat doa serta dukungan dari berbagai kalangan, alhamdulillah kini Shafa Azalia yang saya temui pada tanggal 18 Desember 2011 di ruang ICU anak RSCM, sudah bisa bermain sepada, sudah bisa menggerakkan jari-jarinya untuk menulis dan mewarnai. Meskipun nafasnya belum sempurna. Dilehernya masih terdapat alat bantu pernafasan yang tersambung ke bagian hidungnya. Puteri yang sangat cantik dan cerdas. Masa-masa emasnya ia habiskan di ranjang tidur ICU. Sabar ya nak, peluk hangat serta doa mama dan papa insyaallah akan menjadi mukjijat untuk kesembuhanmu, sayang..

Dari sebuah pernikahan, jika Allah berkehendak maka kita akan di karuniai seorang bayi. Tak ada yang menyambut kelahiran dari buah pernikahan dengan bersedih hati. Namun nyatanya, ada seorang bayi berusia 11 bulan yang berada di samping ranjang Shafa di ruang ICU, menderita penyakit SMA ( Spinal Muscular Atrophy ). Suatu penyakit kerusakan sel-sel otot yang mengakibatkan kelumpuhan akibat kelainan genetika. Darah ibunya tidak cocok dengan darah ayahnya. Sementara hanya informasi ini yang bisa saya tangkap. Akibatnya, Kevin yang masih berusia 11 bulan mengalami pengecilan paru-paru dan lumpuh. Lehernya pun dibolongi untuk dimasukkan alat bantu pernafasan. Matanya sudah rabun dan kini sudah tak ada respon. Saya tak kuasa melihat Kevin dari balik kaca, ketika ibundanya memegang tangan mungilnya dan membisikkan kata-kata barangkali sebuah doa. Tatapan mata Kevin tertuju pada Ibunya seakan ia mengerti dan sudah iklas menghadapi semua ini. Dokter memperkirakan, usianya paling lama bisa bertahan hanya dua tahun saja. Kevin.. yang terbaik untukmu ya, Nak..kami semua mendoakanmu.

Saya juga ingin memperkenalkan seorang Ibu bernama Nur Rahmah Desiana yang luar biasa tabah, ketika putera pertamanya, Daffa yang kini berusia empat tahun terserang penyakit Celebral Palsy sejak usianya masih dibawah satu tahun. Daffa penyandang Celebral Palsy type Spastic Diplegia, yang mengharuskan Desi mengkhususkan waktu lebih intensive untuk melatih Daffa agar bisa mengoptimalkan keempat anggota geraknya. Ditambah lagi, Daffa memiliki kelainan ginjal RTA dan lambung GERD yang mengharuskan ia minum obat setiap tiga jam sekali. Kini di usianya yang keempat, Daffa belum bisa duduk, belum bisa berjalan, apalagi berlari. Tidak cukup sampai disini, sekitar satu tahun lalu, Desi Ibunda Daffa pun terserang virus GBS. Masyaallah ..saya tak bisa membayangkan bagaimana Desi harus survive dalam keadaan ini. Desi sendiri harus dirawat di Rumah Sakit dan menjalankan terapi, meninggalkan Daffa yang juga sangat membutuhkan perawatan intensive.  Subhanallah saya katakan kembali, “insyaallah ada jalan” dari sahabat-sahabat alumni SMA-nya bergerak menggalang dana untuk kesembuhan Desi dan puteranya, Daffa. Desi pun masih tetap berusaha bersama rekan-rekan dan keluarganya, memperjuangkan JAMKESDA dari anggota DPRD Tangerang Selatan. Mohon doanya, insyaaallah awal Januari, Desi akan menjalani plasma..

Alhamdulillah, dari pertemuan saya dengan Drg.Silvia Wahyuni, beliau mengundang saya dan aa Ogest untuk hadir dalam sebuah acara talkshow bertemakan “Inspiring Mom” dan mengadakan acara galang dana untuk penderita GBS dan jantung bocor untuk balita. Acara yang akan diadakan tepat pada Hari Ibu tanggal 22 Desember 2011 di FX Senayan dengan pembicara Wanda Hamidah dan Drg. Silvia Wahyuni, serta beberapa Ibu yang ingin berbagi mengenai perjuangannya menghadapi anak-anak mereka yang mendapat penyakit serius. Dalam acara ini, aa Ogest akan menyumbangkana suara dari group PAPAROMANTIC yang dibentuknya. Ia akan menyanyikan lagu-lagu ciptaannya. Sebagai wujud motivasi dan semangat bahwa kelumpuhan bukanlah sebuah halangan untuk berkarya dan menyalahkan tuhan. Ada beberapa artis papan atas yang juga bermurah hati hadir disana untuk meramaikan acara galang dana ini. Kami juga mengharapkan kehadiran rekan-rekan untuk bisa berbagi..untuk anak-anak negeri..agar memperkaya hati ini...

Kasus jantung bocor juga kami temui di ruang ICU anak RSCM, seorang balita berusia enam bulan dan berasal dari keluarga (maaf) kurang mampu yang tak memiliki jaminan asuransi. Saudara-saudaraku, dalam acara galang dana ini, marilah kita saling berbagi, dengan nominal sedikit dari yang kita miliki, sungguh sangat berharga untuk mereka. Dukungan dan doa juga memiliki nilai yang sangat berharga dari kita semua.

Ahmad Syauqi, seorang pujangga Arab mengatakan melalui syair yang ditulisnya..”Ibu adalah sekolah, apabila ia mempersiapkannya, dia mempersiapkan masyarakat yang baik keturunannya. Kedekatan fisik dan emosional seorang Ibu dengan anak yang sudah terjalin secara alamiah mulai dari mengandung, menyusui dan masa pengasuhan. Kasih sayang seorang Ibu yang saya yakini juga merupakan jaminan awal untuk tumbuh kembang anak dengan baik dan aman.

Ibu...Surga memang berada di bawah telapak kaki Ibu. Sebagai surga, seyogyanya seorang Ibu memancarkan kenikmatan, kewangian, kelembutan dan kesejukan dalam eksistensi diri seorang Ibu yang senantiasa memelihara, menjaga, dan merawat anak-anak serta keluarganya.

Energi doa Ibu adalah dahsyat. Allah mendengar doa positif Ibu, ucapan seorang Ibu adalah sebuah doa. Doa Ibu mampu mengubah takdir, kekuatan doa Ibu mampu menolak musibah dan Ibu, tahanlah lisan Ibu dari melaknat anak-anakmu, karena Allah mengijabah segala lisan Ibu...

SELAMAT HARI IBU..22 DESEMBER 2011

Wassalam,


Penulis : Risma Inoy
Di sadur dari Facebook

Shafa menghabiskan hari-hari di kamar ICU anak dengan alat bantu pernafasan yang masih terpasang

Halo Daffa , semoga Allah memberikan kekuatan kepada mu dan juga Ibundamu,Nak.. Nur Rahmah Desiana yang juga terserang GBS

17 Des 2011

Tiga Tingkatan Manusia Menurut Al-Qur'an

Allah mewahyukan Alquran itu kepada Nabi Muhammad saw, kemudian ilmu dan pengetahuan Alquran itu diwariskan Nya kepada hamba-hamba Nya yang pilihan. Mereka itu adalah umat Nabi Muhammad, seperti yang dinukilkan dari Ibnu `Abbas. Sebab Allah telah memuliakan umat ini melebihi kemuliaan yang diperoleh umat sebelumnya. Kemuliaan itu tergantung kepada faktor sejauh manakah ajaran Rasulullah itu mereka amalkan, dan sampai di mana mereka sanggup mengikuti petunjuk Allah. Lebih jauh dijelaskan tingkatan-tingkatan orang mukmin yang mengamalkan Alquran itu, Firman Allah Ta'ala dalam Surat Al Fathir ayat 32 yang artinya :

"Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih cepat berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar

Dari ayat ini, tingkatan orang mukmin sebagai berikut:

1. Orang yang zalim kepada dirinya. Maksudnya orang yang mengerjakan sebahagian perbuatan yang wajib (menurut hukum agama) dan juga tidak meninggalkan sebagian perbuatan terlarang (haram).

2. Muqtasid, yakni orang-orang yang melaksanakan segala kewajiban-kewajiban agamanya, dan meninggalkan larangan-larangannya, tetapi kadang-kadang ia tidak mengerjakan perbuatan-perbuatan yang dipandang sunah atau masih mengerjakan sebagian pekerjaan-pekerjaan yang dipandang makruh.

3. Sabiqun bil khairat, yaitu orang yang selalu mengerjakan amalan yang wajib dan sunah, meninggalkan segala perbuatan yang haram dan makruh serta sebahagian hal-hal yang mubah (dibolehkan).

Menurut Mustafa Al Maragi pembagian di atas dapat pula diungkapkan dengan kata-kata lain, yaitu:

1. Orang yang masih sedikit mengamalkan ajaran Kitabullah dan terlalu senang memperturutkan kemauan nafsunya, atau orang yang masih banyak amal kejahatannya dibanding dengan amal kebaikannya.

2. Orang yang seimbang antara amalan kebaikan dan kejahatannya.

3. Orang yang terus menerus mencari ganjaran Allah dengan melakukan amal-amal kebaikan.

Para ulama ahli tafsir telah meriwayatkan beberapa hadis sehubungan dengan maksud di atas, antara lain ialah:

Hadis Rasulullah riwayat Al Bagawy dari Abu Darda', di mana setelah beliau membaca surat Fatir ayat 32 di atas bersabda:

فأما الذين سبقوا بالخيرات فأولئك الذين يدخلون الجنة بغير حساب. أما الذين اقتصدوا فأولئك الذين يحاسبون حسابا يسيرا, وأما الذين ظلموا أنفسهم فأولئك الذين يحسبون في ذلك المكان حتى يصيبهم الحزن فيدخلون الجنة. ثم تلا: الحمد لله الذي أذهب عنا الحزن إن ربنا لغفور شكور (رواه أحمد)
Artinya:
Adapun orang yang berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan mereka akan masuk surga tanpa hisab (perhitungan), sedang orang-orang pertengahan (muqtasid) mereka akan dihisab dengan hisab yang ringan, dan orang-orang yang menganiaya dirinya sendiri mereka akan ditahan dulu di tempat (berhisab nya), sehingga ia mengalami penderitaan kemudian dimasukkan ke dalam surga. Kemudian beliau membaca "Alhamdulilldhil lazi azhaba annal hazana inna rabbana lagafurun syakur". (Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami, sesungguhnya Tuhan kamu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri). (H.R. Ahmad)

Warisan mengamalkan kitab suci dan kemuliaan yang diberikan kepada umat Nabi Muhammad itu merupakan suatu karunia yang amat besar dari Allah, yang tidak seorang pun dapat menghalangi ketetapannya itu.

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes